Gagal Rekrut Balogun, Everton Andalkan Remaja 18 Tahun Berstatus Pencetak 21 Gol
Baca dalam 60 detik
- Everton kehilangan kesempatan mendatangkan Folarin Balogun setelah proses medis menemukan masalah kebugaran, memaksa klub mencari solusi internal.
- Braiden Graham, striker muda asal Irlandia Utara, mencetak 21 gol untuk tim pengembangan musim lalu dan mulai mencuri perhatian di kompetisi EFL Trophy.
- Krisis skuad yang tipis membuat David Moyes kemungkinan besar memberikan debut Premier League kepada Graham dalam beberapa bulan ke depan.

Everton memasuki musim 2025/2026 dengan skuad yang lebih tipis dibanding akhir musim lalu, menyusul kegagalan mendatangkan penyerang anyar pada hari terakhir bursa transfer. Folarin Balogun, yang sempat menjadi target utama, batal bergabung setelah proses medis menemukan masalah kebugaran, meninggalkan David Moyes tanpa opsi lini depan yang memadai. Di tengah krisis ini, sorotan pun beralih kepada Braiden Graham, pemain berusia 18 tahun yang musim lalu mencetak 21 gol untuk tim pengembangan Everton.
Kegagalan mendatangkan Balogun menjadi pukulan telak bagi Everton. Klub asal Liverpool itu sebenarnya telah menyepakati nilai transfer sekitar 39 juta poundsterling dengan Monaco, dan pemain internasional Amerika Serikat tersebut bahkan telah menjalani pemeriksaan medis di Finch Farm. Namun, temuan masalah kebugaran membuat Everton mencoba merestrukturisasi kesepakatan, sekaligus mengajukan tawaran pinjaman untuk Joshua Zirkzee dari Manchester United. Langkah ganda ini memicu kekesalan Balogun, yang akhirnya membatalkan kepindahan secara sepihak.
Kekacauan di hari terakhir bursa itu memperparah kondisi Everton yang sudah kritis. Klub hanya memiliki 18 pemain outfield senior hingga Januari mendatang, setelah melepas Beto dan Iliman Ndiaye. Penjualan Ndiaye ke klub lain dengan nilai 65 juta poundsterling memang menguntungkan secara finansial, tetapi kegagalan mengganti posisi striker menjadi kesalahan yang disebut banyak pihak sebagai kelalaian besar. Thierno Barry, yang diharapkan menjadi ujung tombak utama, baru mencetak empat gol dalam tiga pertandingan awal, tetapi penampilannya masih inkonsisten, seperti terlihat saat membuang dua peluang emas dalam hasil imbang 1-1 melawan Bournemouth.
Dalam situasi sulit ini, Moyes mungkin harus berpaling ke akademi. Braiden Graham, yang direkrut dari Linfield pada 2024, telah menunjukkan naluri gol yang tajam. Musim lalu, ia mencetak 21 gol untuk tim pengembangan, termasuk 12 gol dalam 18 penampilan di Premier League 2. Penampilannya di EFL Trophy musim ini juga impresif, dengan dua gol dan satu assist meski Everton kalah 6-3 dari Stockport County. Pelatih tim U-21 Everton, Paul Tait, pernah memujinya sebagai "finisher yang baik", menandakan potensi untuk menembus tim utama.
Keputusan untuk tidak menjual Beto sebelum bursa tutup kini menjadi bumerang. Beto, yang dikenal sebagai striker kuat, telah dipinjamkan ke klub lain, meninggalkan Everton tanpa opsi nomor 9 yang mumpuni. Moyes, yang dikenal sebagai pelatih pragmatis, kini dituntut untuk mencari solusi dari dalam. Graham, yang pernah duduk di bangku cadangan saat Everton mengalahkan Nottingham Forest 2-0 musim lalu, bisa menjadi pilihan mengejutkan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Graham menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa kerap mengandalkan pemain muda saat krisis. Di tengah gencarnya naturalisasi pemain keturunan untuk Timnas Indonesia, fenomena ini mengingatkan bahwa pembinaan usia muda tetap menjadi fondasi penting. Everton, yang selama ini dikenal hemat di bursa transfer, kini harus membuktikan bahwa investasi di akademi dapat menjadi penyelamat.
Pertanyaannya, mampukah Graham beradaptasi dengan kerasnya Premier League? Fisik menjadi ujian utama bagi pemain muda yang baru naik kelas. Jika ia mampu melewati ujian tersebut, bukan tidak mungkin ia menjadi pahlawan tak terduga bagi Everton yang tengah terpuruk. Namun, jika gagal, Moyes harus segera mencari solusi lain di tengah keterbatasan skuad.



