Wabah Campak Bangladesh Mendekati 1.000 Kematian Anak: Kegagalan Imunisasi dan Pelajaran bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 986 anak di Bangladesh tewas akibat campak sejak Maret, dengan kasus harian menembus 1.000; rumah sakit kewalahan.
- Keterlambatan kampanye vaksinasi akibat gejolak politik 2024-2025 menjadi biang keladi kesenjangan imunitas pada balita.
- Wabah ini menjadi peringatan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, akan pentingnya ketahanan sistem imunisasi rutin.

Bangladesh sedang menghadapi bencana kesehatan masyarakat terburuk dalam beberapa dekade: wabah campak yang telah merenggut nyawa sedikitnya 986 anak sejak Maret, dan jumlah kasus yang dilaporkan terus bertambah lebih dari seribu per hari. Rumah sakit-rumah sakit penuh, dan orang tua berjuang menyelamatkan buah hati mereka di tengah keterbatasan fasilitas.
Di bangsal campak Rumah Sakit Anak Shishu di Dhaka, tangis anak-anak bercampur dengan suara mesin oksigen. Rima Akter, ibu berusia 30 tahun, menjaga anaknya yang berusia sembilan bulan, Sabit Haque. "Satu jam lalu, seorang anak meninggal dan mereka membawanya keluar di depan kami. Hari ini kami melihat dua anak meninggal," tuturnya kepada AFP, Kamis (3/9). Anaknya adalah satu dari puluhan pasien yang memenuhi bangsal tersebut.
Menurut data terbaru kementerian kesehatan, kasus suspek dan terkonfirmasi telah melampaui 180.000. Angka ini menggambarkan betapa cepatnya penularan virus yang sangat menular melalui percikan batuk dan bersin ini. Campak sendiri tidak memiliki pengobatan spesifik; komplikasi seperti pembengkakan otak dan gangguan pernapasan berat menjadi ancaman serius, terutama bagi balita.
Sanjana Islam Modina, 19 tahun, menceritakan perjuangannya sejak Juli untuk mendapatkan perawatan bagi putranya yang berusia enam bulan, Ayan. Bayi itu pertama kali dirawat karena pneumonia, lalu tertular campak, dan akhirnya mendapat tempat di rumah sakit khusus anak di ibu kota pada pertengahan Agustus. Ayan menghabiskan 15 hari di perawatan intensif dan kini masih bergantung pada oksigen. "Paru-parunya sudah lemah karena pneumonia, dan campak memperburuk pernapasannya," jelas Modina.
Sebagian besar kasus terjadi pada anak usia enam bulan hingga lima tahun. Dokter menyebut banyak pasien yang datang sudah dalam kondisi kritis, diperparah oleh malnutrisi yang melemahkan daya tahan tubuh. Ayan sendiri didiagnosis kekurangan gizi dan harus mengonsumsi susu khusus. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam upaya Bangladesh melindungi generasi mudanya.
Pejabat kesehatan setempat mengakui bahwa wabah ini dipicu oleh kesenjangan imunisasi. SM Ziauddin Hyder, asisten khusus perdana menteri bidang kesehatan, menyebut wabah ini "menghancurkan". Bangladesh sebelumnya telah membuat kemajuan besar dalam vaksinasi, namun rencana kampanye campak 2024 tertunda akibat gelombang unjuk rasa yang menggulingkan Sheikh Hasina. Pemogokan dan ketidakstabilan politik juga menghambat kampanye 2025. "Ada sejumlah besar anak yang terlewat dosisnya," kata Hyder. "Petugas kesehatan kini berupaya menutup celah tersebut melalui vaksinasi massal."
Epidemiolog Mahmudur Rahman, mantan direktur Institut Epidemiologi, Pengendalian Penyakit, dan Penelitian (IEDCR), menyarankan perluasan cakupan vaksinasi dan peningkatan kesadaran publik. Ia menekankan pentingnya isolasi anak yang terinfeksi, cuci tangan, dan penggunaan masker oleh pengasuh. Namun, angka kasus yang terus meningkat menunjukkan bahwa upaya ini belum cukup cepat mengendalikan penularan.
Konteks Indonesia: Wabah di Bangladesh menjadi pengingat bahwa campak bisa kembali mewabah ketika cakupan imunisasi rutin turun. Indonesia sendiri pernah menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di beberapa daerah pada 2023-2024, terutama akibat kesenjangan imunisasi selama pandemi COVID-19. Meski program imunisasi kejar telah digencarkan, tantangan logistik dan keraguan vaksin masih menghantui. Pengalaman Bangladesh menunjukkan bahwa stabilitas politik dan komitmen pemerintah sangat menentukan keberhasilan imunisasi.
Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah penanganan malnutrisi. Banyak anak di Bangladesh yang meninggal justru karena kondisi gizi buruk yang memperparah infeksi. Indonesia, dengan prevalensi stunting yang masih tinggi, perlu memastikan bahwa program perbaikan gizi berjalan beriringan dengan imunisasi. Anak yang sehat dan cukup gizi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dari serangan penyakit.
Ke depan, Bangladesh harus segera mengejar ketertinggalan imunisasi dan memperkuat surveilans penyakit. Pertanyaannya, apakah negara-negara berkembang lain, termasuk Indonesia, sudah cukup antisipatif terhadap potensi wabah serupa? Atau akankah kita kembali belajar dari tragedi yang menimpa Bangladesh?



