Banjir Bandang Nepal-Tibet: 600 Wisman Hilang, Keluarga Berbondong ke Kathmandu
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan lebih dari 1.200 orang dan memicu krisis kemanusiaan dengan hampir 600 turis asing yang belum ditemukan.
- Pemerintah Nepal mulai mengumpulkan sampel DNA dari keluarga korban untuk mempercepat identifikasi jenazah, sementara berbagai kedutaan memperkuat tim dukungan psikososial.
- Sektor pariwisata Nepal, yang menjadi tulang punggung ekonomi, diperkirakan mengalami pukulan berat meskipun hanya empat distrik yang terdampak langsung.

Kathmandu, Nepal โ Pekan setelah banjir bandang dan tanah longsor dahsyat meluluhlantakkan kawasan perbatasan Nepal-Tibet, keluarga para wisatawan asing yang hilang masih bergulat dengan ketidakpastian. Mereka berduyun-duyun ke Kathmandu, menyusuri rumah sakit dan kamar mayat, berharap menemukan jejak orang-orang yang mereka cintai. Hingga kini, hampir 600 warga asing dari lebih 30 negara tercatat belum ditemukan, menjadikan musibah 26 Agustus lalu sebagai salah satu bencana paling mematikan di Nepal dalam beberapa tahun terakhir.
Di luar markas polisi wisata Kathmandu, Sanjeev Rai, pria Amerika berusia 53 tahun, menjadi salah satu wajah duka yang tak bisa disembunyikan. Ia terbang dari Amerika Serikat setelah mendengar istrinya, Jiwan Jyoti, seorang insinyur di Intel, hilang kontak saat kembali dari ziarah ke Gunung Kailash โ puncak suci yang dihormati umat Hindu dan Buddha. "Sejak hari pertama saya tiba, saya langsung ingin menyewa helikopter untuk mencarinya," ujarnya. Namun, Timure, desa di distrik Rasuwa tempat sang istri terakhir terlihat, masih tak dapat diakses dan berbahaya untuk dimasuki. Rai mengaku harapannya untuk menemukan istrinya dalam keadaan hidup hampir pupus. "Saya tidak lagi berharap pada yang selamat. Saya hanya berharap sampel DNA cocok. Saya ingin bisa berkabung," katanya lirih.
Banjir yang dipicu hujan ekstrem itu telah menewaskan sedikitnya 1.273 orang di Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok. Gelombang puing menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, dan sejumlah bendungan pembangkit listrik tenaga air. Total warga yang hilang di kedua wilayah mencapai 4.757 jiwa, sementara operasi pencarian masih berlangsung intensif. Di antara yang hilang terdapat 77 peziarah dari Isha Foundation, organisasi spiritual yang didirikan Sadhguru, yang berasal dari Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Relawan yayasan itu, Arun Mehta, menuturkan bahwa rombongan tersebut telah menyelesaikan ziarah mengelilingi Gunung Kailash dan sedang menjalani prosedur imigrasi di pos perbatasan Gyirong dengan Tiongkok ketika bencana datang. "Mereka semua, termasuk tiga pemandu Nepal, masih belum ditemukan," katanya. Yayasan telah memberikan ciri khas pengenal kepada otoritas, seperti cincin dan liontin berbentuk ular yang dikenakan para peziarah.
Upaya pencarian juga melibatkan kedutaan asing. Duta Besar Inggris untuk Nepal, Rob Fenn, menyatakan pihaknya telah memperkuat kedutaan dengan ahli psikososial dan mendirikan pusat penerimaan bagi keluarga korban. "Sifat bencana ini adalah penantian panjang yang menyakitkan untuk mendapatkan kepastian dan informasi," ujarnya. Sementara itu, polisi Nepal mulai mengumpulkan sampel DNA dari kerabat pekan ini untuk membangun basis data identifikasi jenazah. Keluarga di luar negeri dapat menyerahkan sampel di negara masing-masing. Ribuan kilometer jauhnya, di Yakutsk, Rusia, saudara laki-laki musisi Kirill Tretiakov yang hilang berencana terbang ke Nepal dalam beberapa hari. "Kami berharap kelompoknya selamat tetapi kehilangan alat komunikasi," katanya. Tretiakov bepergian bersama rombongan peziarah Rusia dan Ukraina yang diorganisir agen perjalanan Tashi Delek. Agen lain, Fishtail, juga kehilangan kontak dengan 20 peziarah, mayoritas warga Malaysia, beserta pemandu dan sopirnya. "Tidak ada yang bisa melarikan diri, semuanya terjadi begitu mendadak," ujar Nimsang Gurung, perwakilan penjualan perusahaan itu.
Bencana ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga mengancam sektor pariwisata Nepal yang menjadi sumber pendapatan utama negara. Sunil Sharma dari Badan Pariwisata Nasional Nepal memperkirakan industri ini akan terpukul keras, meskipun hanya empat distrik yang terdampak langsung. "Sektor pariwisata akan menderita akibat bencana ini," katanya. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen risiko bencana di kawasan wisata pegunungan, sekaligus menyoroti perlunya perlindungan bagi wisatawan mancanegara yang kerap mengunjungi destinasi serupa di Tanah Air, seperti Gunung Rinjani atau Bromo. Pertanyaannya, bagaimana Nepal akan memulihkan kepercayaan wisatawan global dan memastikan keselamatan mereka di tengah tantangan geografis yang ekstrem? Jawabannya akan menentukan masa depan industri pariwisata negeri Himalaya itu.



