Kepiting Biru Atlantik: Dari Hama yang Dibakar Jadi Komoditas Ekspor Andalan Italia
Baca dalam 60 detik
- Koperasi nelayan Polesine berhasil membalikkan kerugian akibat invasi kepiting biru dengan mengekspor kepiting ke Sri Lanka, mengubah hama menjadi sumber pendapatan.
- Perubahan iklim, terutama kenaikan suhu air dan salinitas, memicu ledakan populasi kepiting biru di Delta Po, menghancurkan industri kerang Manila yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi setempat.
- Keberhasilan ekspor ini membuka peluang bagi Indonesia, yang juga menghadapi ancaman spesies invasif serupa, untuk mengadopsi strategi adaptasi serupa.

Setelah dua tahun membakar ribuan ton kepiting biru Atlantik yang dianggap hama, para nelayan di Delta Po, Italia, kini justru menuai keuntungan dari ekspor krustasea invasif tersebut. Koperasi nelayan setempat berhasil mengubah bencana ekologis menjadi peluang ekonomi, dengan menjual semua hasil tangkapan mereka tahun ini dan memproyeksikan pendapatan hingga 20 juta euro.
Invasi kepiting biru yang dimulai pada 2023 telah menghancurkan industri kerang Manila yang selama puluhan tahun menjadi sumber kemakmuran di laguna Veneto dan Emilia Romagna. Koperasi Konsorsium Nelayan Polesine mencatat pendapatan merosot 75 persen menjadi 15 juta euro pada 2024-2025, sementara jumlah anggota aktif menyusut dari 1.500 menjadi 850 orang. Namun, alih-alih menyerah, mereka memutar haluan dengan mengekspor kepiting yang tidak diinginkan tersebut.
"Kami harus mengubah strategi dan menciptakan peluang dari bencana ini," ujar Paolo Mancin, presiden koperasi, kepada Associated Press. Kini, setiap pagi, para nelayan menurunkan 100-150 kilogram kepiting dari mobil dan truk mereka untuk dikukus, dibekukan, dan dikirim ke Sri Lanka. Di sana, pekerja tangan memisahkan daging kepiting untuk diolah menjadi berbagai produk, mulai dari daging capit hingga fillet.
Strategi ini tidak hanya menyelamatkan mata pencaharian nelayan seperti Federico Zago, yang pendapatannya sempat anjlok, tetapi juga menghilangkan kebutuhan untuk memusnahkan kepiting. "Karena kita harus hidup dengan kepiting ini, saya harap mereka menjadi peluang," kata Zago. "Saya harap pasar terus tumbuh."
Ledakan populasi kepiting biru ini tidak lepas dari perubahan iklim. Menurut Piero Genovesi, ahli spesies invasif dari lembaga perlindungan lingkungan Italia, kepiting biru Atlantik sebenarnya sudah ada di Laut Adriatik sejak 1940-an, terbawa air balas kapal dagang. Namun, populasinya baru meledak pada 2023. Suhu air yang lebih hangat dan penurunan debit Sungai Po akibat kekeringan memungkinkan air laut masuk ke anak sungai air tawar, menciptakan kondisi ideal bagi reproduksi kepiting dan menyediakan mangsa melimpah di laguna-laguna.
"Perubahan iklim mungkin telah mendukung reproduksi melalui suhu dan salinitas, karena mengubah salinitas air," jelas Genovesi. Upaya pemerintah Italia untuk memberantas kepiting dengan membayar nelayan menangkap dan membakarnya terbukti sia-sia. Program yang menelan biaya besar itu akhirnya dihentikan. Pelepasan 150.000 bayi gurita oleh para ilmuwan Universitas Bologna juga diragukan efektifitasnya, mengingat tingkat kelangsungan hidup yang rendah dan preferensi gurita terhadap lingkungan berbatu, bukan laguna berpasir.
Meski ekspor berhasil, tantangan tetap ada. Di Italia sendiri, kepiting biru masih kesulitan diterima di pasar domestik. Sebagian besar restoran kelas atas di Venesia enggan menyajikannya karena proses pengolahan yang rumit dan reputasi negatifnya. Namun, ada pengecualian seperti restoran Yogi di Porto Tolle yang dikelola Stefania Marchesini. Mantan nelayan profesional ini dengan penuh semangat menyajikan menu all-crab, mulai dari bola kepiting goreng hingga kepiting lunak yang dikenal sebagai moeche. "Awalnya pelanggan sangat skeptis, tetapi reaksinya kemudian sangat positif dan mereka ingin mencoba seluruh rangkaian produk," ungkapnya.
Kisah sukses Italia ini menawarkan pelajaran berharga bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi, Indonesia rentan terhadap invasi spesies asing yang dapat mengganggu ekosistem dan mata pencaharian nelayan. Alih-alih hanya mengandalkan upaya pemusnahan yang mahal dan seringkali tidak efektif, pendekatan adaptif seperti yang dilakukan Italiaโmengubah hama menjadi komoditas bernilai ekonomiโbisa menjadi alternatif. Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan ini tidak serta merta menyelesaikan masalah ekologi. Pertanyaannya, mampukah Indonesia belajar dari pengalaman Italia untuk mengelola spesies invasif secara berkelanjutan, tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan?



