Warisan Santan Segar: Generasi Ketiga di Singapura Melawan Arus Kemasan UHT
Baca dalam 60 detik
- Kios Fortune Coconut di Singapura masih memproduksi santan segar tanpa pengawet setiap hari, melayani pelanggan setia dan restoran.
- Lee Zhao Yuan, pewaris generasi ketiga, memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk tradisional ini ke kalangan muda.
- Dengan harga S$7,50 per liter, santan segar menawarkan aroma lebih kuat dibanding kemasan, namun tantangan distribusi dan edukasi konsumen masih membayangi.

Di tengah dominasi santan kemasan yang praktis, sebuah kios kecil di Pasar MacPherson, Singapura, bertahan dengan cara lama: memeras santan segar setiap hari. Fortune Coconut Whan Neng, usaha keluarga yang berdiri sejak 1970-an, kini dipegang oleh Lee Zhao Yuan (27), generasi ketiga yang bertekad melestarikan tradisi ini lewat strategi pemasaran digital.
Setiap pukul 04.30, ayah Lee, Lee Siew Hiang (63), memulai rutinitasnya: mencuci, membelah, dan memarut sekitar 300 butir kelapa untuk menghasilkan hingga 100 liter santan. Proses ini melibatkan mesin press hidrolik khusus seharga S$15.000 yang memeras parutan kelapa hingga tetes terakhir. Hasilnya, santan murni tanpa pengawet yang menurut Lee memiliki aroma jauh lebih kuat dibanding produk pasteurisasi.
Keunikan inilah yang menjadi nilai jual utama. Meski demikian, Lee mengakui bahwa sebagian besar konsumen kini lebih memilih kemasan UHT karena alasan kepraktisan. "Kadang orang memilih kenyamanan," ujarnya. Namun, ia melihat celah pasar: semakin langka santan segar, semakin berharga produk yang autentik. Strateginya adalah menjangkau generasi muda melalui TikTok, dengan satu video yang menyoroti proses pembuatan santan secara tradisional berhasil menarik perhatian.
Langkah Lee tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai pelatih basket dan mantan pekerja pemasaran. Ia menggabungkan pengalaman tersebut untuk membangun citra merek yang relevan. Meski belum resmi mengambil alih operasional, ia menargetkan transisi penuh dalam lima tahun ke depan, saat ayahnya pensiun. Rencananya, ia ingin memindahkan produksi ke central kitchen dan mengembangkan produk turunan, tanpa menambahkan pengawet.
Kisah Fortune Coconut menyoroti dilema yang juga relevan di Indonesia: bagaimana usaha tradisional bertahan di tengah gempuran produk massal? Di Indonesia, santan segar masih mudah ditemukan di pasar tradisional, namun tren konsumen urban mulai beralih ke kemasan praktis. Pelaku UMKM serupa dapat belajar dari pendekatan Lee yang memadukan otentisitas dengan pemasaran digital untuk menjangkau pasar baru.
Lee sendiri mengaku tidak pernah membayangkan akan meneruskan usaha keluarga. Sebelumnya, ia bekerja di agensi iklan dan berkarir di basket, bahkan sempat mengikuti seleksi tim nasional. Cedera lutut mengubah arah hidupnya. "Basket adalah pelarian saya saat remaja," kenangnya. Namun kini, ia merasa bahagia bisa terlibat. "Saya tidak pernah berpikir akan bergabung, tapi saya pasti senang sekarang," tambahnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: dapatkah santan segar bersaing dengan kemasan yang lebih tahan lama? Lee optimistis, dengan edukasi dan inovasi, akan selalu ada pasar untuk produk autentik. "Dengan pemasaran digital, saya ingin melihat sejauh mana saya bisa membawa usaha keluarga ini," katanya. Apakah langkahnya akan menginspirasi pelaku usaha serupa di kawasan Asia Tenggara?



