Krisis Iklan Kontroversial: Good Good Pecat CEO dan Presiden, Callaway Putus Kerja Sama
Baca dalam 60 detik
- Dua petinggi Good Good dipecat setelah iklan yang dianggap meremehkan kekerasan terhadap perempuan memicu kecaman publik.
- Callaway mengakhiri kemitraan dan menyumbang USD 1 juta untuk organisasi pencegahan kekerasan, sementara sejumlah ritel menarik produk Good Good.
- Langkah ini menjadi ujian bagi industri konten golf yang mengandalkan figur publik, dengan implikasi pada tata kelola dan tanggung jawab sosial di ranah digital.

Merek perlengkapan golf asal Amerika Serikat, Good Good, mengambil langkah tegas dengan memberhentikan dua eksekutif seniornya setelah iklan yang mereka produksi memicu gelombang kritik. Video promosi yang menampilkan seorang perempuan didorong hingga jatuh dinilai banyak pihak sebagai pelecehan terhadap kekerasan berbasis gender, memaksa perusahaan bergerak cepat untuk memulihkan reputasi.
Kepala eksekutif Matt Kendrick dan presiden Joe Flannery resmi meninggalkan perusahaan pada Rabu (waktu setempat), menyusul pemecatan Jeffrey Lefkovits, wakil presiden bidang merek dan pemasaran, beberapa hari sebelumnya. Alex Puchala, kepala keuangan dan operasional, mengakui bahwa hari tersebut merupakan "hari yang sulit bagi seluruh keluarga Good Good". Sebagai pengganti sementara, posisi CEO kini diisi oleh Nahid Giga, anggota dewan dan investor yang telah lama terlibat dalam perusahaan.
Kontroversi bermula dari unggahan iklan yang dibuat untuk Callaway, produsen stik golf ternama. Dalam video tersebut, salah satu pendiri Good Good, Garrett Clark, terlihat berlari mendorong pegolf profesional Alexis Miestowski hingga jatuh sambil berteriak, "Jangan sentuh driver baru saya." Adegan yang dimaksudkan sebagai lelucon ini justru dianggap mengolok-olok kekerasan terhadap perempuan, memicu kecaman luas di media sosial dan komunitas golf.
Dampak bisnis langsung terasa. Callaway, yang telah bekerja sama sejak 2023, memutuskan mengakhiri kemitraan dan menyumbangkan dana sebesar USD 1 juta (sekitar Rp15,4 miliar) kepada organisasi yang fokus pada pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan dukungan korban. Sementara itu, Good Good memilih mundur dari sponsor turnamen PGA Tour di Austin, Texas, yang dijadwalkan November. Beberapa peritel juga menarik produk mereka dari rak, menunjukkan bahwa respons pasar terhadap isu etika bisa sangat cepat dan menghukum.
Bagi industri konten digital, kasus ini menjadi pengingat bahwa kreator dengan basis penggemar besarโseperti Good Good yang mengandalkan tantangan golf antara pria dan wanitaโtidak kebal terhadap tuntutan akuntabilitas sosial. Di Indonesia, fenomena serupa dapat menjadi pelajaran bagi para kreator dan merek yang aktif memanfaatkan platform digital. Meski belum ada regulasi spesifik yang mengatur konten promosi berbasis kekerasan, UU ITE dan norma kesusilaan bisa menjadi rujukan. Masyarakat Indonesia yang semakin kritis terhadap isu gender juga berpotensi memberikan respons serupa jika ada konten yang dinilai tidak sensitif.
Puchala, dalam pernyataannya, mengaku "terdorong oleh dukungan berkelanjutan" dari penggemar dan menegaskan fokus perusahaan untuk "membangun babak berikutnya". Namun, pertanyaan besar menggantung: mampukah Good Good memulihkan kepercayaan publik dan sponsor setelah kehilangan mitra utama? Atau akankah kasus ini menjadi titik balik bagi standar etika dalam pemasaran olahraga digital?



