Banjir Nepal: 590 Turis Asing Masih Hilang, Keluarga Gelar Kremasi Simbolis
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir Nepal menewaskan lebih dari 1.200 orang, dengan 590 turis asing dari 39 negara masih belum ditemukan.
- Sebagian warga yang kehilangan sanak saudara melakukan kremasi simbolis karena jenazah tak kunjung ditemukan, sebagai bentuk penghormatan terakhir menurut tradisi Hindu.
- Pemerintah Australia mengirim tim operator drone untuk membantu pencarian, sementara Nepal dan China berupaya membuka akses ke lokasi terdampak.

Banjir dahsyat yang melanda Nepal pada 26 Agustus lalu meninggalkan duka mendalam. Hingga Rabu (2/9), otoritas setempat melaporkan 324 warga asing berhasil dievakuasi, namun 590 lainnya dari 39 negara masih belum ditemukan. Sementara itu, di tengah kepastian yang belum datang, sejumlah keluarga di Distrik Nuwakot memilih menggelar kremasi simbolis bagi kerabat yang hilangโsebuah ritual pamungkas dalam tradisi Hindu yang diharapkan membebaskan arwah mereka.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan Himalaya yang melepaskan bebatuan, es, dan air ke lembah di bawahnya. Material tersebut kemudian terbawa deras ke sungai-sungai yang melintasi Tibet dan Nepal, menyebabkan air meluap dan menyapu rumah, bangunan, jalan, serta jembatan. Lumpur dan bebatuan ikut mengalir, memperparah kerusakan di sepanjang aliran sungai.
Di Nuwakot, salah satu distrik terparah, keluarga Mukunda Rijal menggelar upacara kremasi untuk sepupu dan anak-anaknya yang belum ditemukan. Di tepi Sungai Trishuli, seorang pendeta menempatkan patung jerami yang mewakili anggota keluarga yang hilang, lalu membakarnya di atas tumpukan kayu. Sesaji untuk dewa-dewi Hindu mengelilingi api unggun, sementara sanak saudara larut dalam doa dan duka.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengonfirmasi bahwa jumlah warga Australia yang hilang turun dari 43 menjadi 38 setelah lima orang dipastikan selamat. "Di tengah tragedi ini, kami melihat kabar baik. Hari ini, lima warga Australia lainnya dipastikan aman," ujarnya di Palau, tempat ia menghadiri KTT regional. Pemerintah Australia juga berencana mengirim tim operator drone dalam beberapa hari ke depan untuk mempercepat pencarian.
Sunil Sharma, juru bicara Nepal Tourism Board, menyebut setidaknya lima turis lain yang sebelumnya dilaporkan hilang telah menghubungi otoritas melalui email atau telepon. Ini menjadi secercah harapan di tengah keputusasaan. Namun, proses identifikasi korban masih menjadi tantangan besar. Otoritas Nepal menguburkan sementara jenazah yang ditemukan, sambil mengumpulkan sampel DNA, memotret ciri wajah, dan mencatat detail identitas lain untuk memudahkan pencocokan dengan keluarga yang kehilangan.
Di sisi China, kru penyelamat menyelesaikan pembangunan jalan darurat menuju lokasi bencana di Pelabuhan Gyirong, perbatasan Nepal, seperti dilaporkan CCTV. Jalan utama menuju pelabuhan hancur dan terkubur air, lumpur, serta batu. Sementara itu, sekitar 400 penyintas, mayoritas dari Kota Timure yang berjarak 110 kilometer dari Kathmandu, mengungsi di Biara Yellow Gumba. Tempat penampungan itu dikelola warga dan kerabat dengan bantuan donasi dari individu serta organisasi amal.
Riya Tamang (21), yang melarikan diri bersama bayinya yang berusia 10 bulan, kehilangan kakek dan neneknya. "Saya orang terakhir yang meninggalkan rumah. Sangat sulit untuk kabur," tuturnya. Suaminya yang bekerja sebagai juru masak di Gyirong, sisi China, selamat dan kini mereka berkomunikasi melalui panggilan video.
Kremasi simbolis menjadi pelipur lara bagi keluarga yang kehilangan, meski tanpa kehadiran jenazah. Tradisi Hindu meyakini upacara ini membebaskan arwah dari keterikatan duniawi.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim, terutama di wilayah pegunungan dan aliran sungai. Meski tidak berada di jalur Himalaya, Indonesia memiliki banyak daerah rawan banjir bandang dan longsor yang dipicu cuaca ekstrem. Pengalaman Nepal dalam penanganan krisis, termasuk identifikasi korban dan dukungan psikologis bagi keluarga, bisa menjadi pelajaran berharga.
Pertanyaan yang menggantung: akankah upaya pencarian dan identifikasi korban berjalan cepat, atau justru terhambat oleh medan sulit dan infrastruktur yang hancur? Sementara itu, keluarga korban menanti kepastian, dan Nepal berjuang pulih dari salah satu bencana terburuk dalam sejarahnya.



