Super Garuda Shield 2026: TNI dan 20 Negara Sahabat Perbaiki Sekolah di Sumatera Selatan
Baca dalam 60 detik
- Latihan militer terbesar di Asia Tenggara itu tidak hanya menguji taktik tempur, tetapi juga membangun fasilitas pendidikan di OKU Timur hingga 7 September 2026.
- Sebanyak 4.743 personel dari 21 negara terlibat dalam program ENCAP yang menyasar perbaikan infrastruktur publik di sekitar area latihan.
- Peresmian hasil renovasi sekolah di Martapura menjadi simbol diplomasi pertahanan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal.

Latihan gabungan militer Super Garuda Shield (SGS) 2026 yang berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya menjadi ajang unjuk kekuatan tempur, tetapi juga membawa misi kemanusiaan. Untuk pertama kalinya dalam skala luas, Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama personel militer Amerika Serikat, Kanada, dan Singapura turun tangan merenovasi SD Negeri 12 Martapura di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Engineer Civic Action Program (ENCAP) yang dirancang untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar lokasi latihan.
Wakil Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI (Kodiklat), Marsekal Muda TNI Bambang Gunarto, meninjau langsung proses perbaikan sekolah tersebut pada Rabu (2/9). Menurutnya, kehadiran program ini menegaskan bahwa SGS bukan sekadar latihan militer semata. "SGS 2026 tidak hanya mengasah interoperabilitas militer, tetapi juga harus berdampak baik bagi masyarakat sekitar," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta, Kamis (3/9).
Program ENCAP yang berlangsung hingga 7 September 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian SGS yang dijadwalkan berjalan pada 31 Agustus hingga 11 September 2026. Selain di OKU Timur, kegiatan serupa juga digelar di sejumlah daerah lain yang menjadi pusat latihan, seperti Bandung, Jakarta, Lampung, Baturaja, dan Nunukan. Bambang menambahkan bahwa peresmian hasil pembangunan akan dilakukan pada 7 September 2026 sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata para prajurit dari berbagai negara.
Super Garuda Shield tahun ini melibatkan 4.743 personel dari 21 negara, menjadikannya salah satu latihan militer terbesar di kawasan. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengungkapkan bahwa latihan ini mencakup 12 materi uji, mulai dari operasi darat, laut, hingga udara. "Super Garuda Shield dilaksanakan setiap tahun di Indonesia. Tahun ini dihadiri 21 negara dengan total 4.743 personel," kata Agus saat pembukaan di Bandung, Senin (31/8).
Ke-21 negara yang berpartisipasi antara lain Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brasil, Brunei Darussalam, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea Selatan, Laos, Selandia Baru, Prancis, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Kehadiran negara-negara tersebut tidak hanya memperkuat kerja sama pertahanan, tetapi juga membuka ruang dialog dan pertukaran pengetahuan antar militer.
Bagi Indonesia, penyelenggaraan SGS memiliki makna strategis. Di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, latihan ini menjadi instrumen diplomasi pertahanan untuk memperkuat posisi tawar Indonesia. Kehadiran negara-negara besar seperti AS dan Jepang menunjukkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas dan profesionalisme TNI. Namun, yang lebih penting, program ENCAP menunjukkan bahwa latihan militer tidak boleh berjarak dari kebutuhan rakyat.
Renovasi sekolah di daerah terpencil seperti OKU Timur menjadi simbol bahwa kolaborasi militer dapat berjalan seiring dengan pembangunan sosial. Masyarakat setempat tidak hanya menyaksikan latihan perang, tetapi juga merasakan perbaikan fasilitas pendidikan bagi anak-anak mereka. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah tertinggal.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah SGS akan terus digelar setiap tahun, tetapi bagaimana dampak positifnya dapat diperluas dan dilanjutkan. Apakah program ENCAP akan menjadi agenda tetap dalam setiap latihan gabungan? Jika ya, maka SGS tidak hanya menjadi ajang unjuk kekuatan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.



