Studi Besar: Terapi Hormon Menopause Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Demensia hingga 16%
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap 183.000 wanita di Inggris menunjukkan pemakaian terapi hormon saat menopause berpotensi menekan risiko demensia hingga 10% dan Alzheimer 16%.
- Manfaat terlihat lebih nyata pada mereka yang memulai terapi di usia 46โ56 tahun, terutama yang menjalani menopause bedah atau membawa gen APOE4.
- Para ahli mengingatkan hasil ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat, sehingga terapi hormon belum direkomendasikan khusus untuk pencegahan demensia.

Sebuah studi observasional berskala besar yang melibatkan lebih dari 183.000 wanita pascamenopause di Inggris menemukan bahwa penggunaan terapi penggantian hormon (HRT) berpotensi menurunkan risiko demensia hingga sekitar 10 persen dan penyakit Alzheimer hingga 16 persen. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia ini memberikan angin segar di tengah kekhawatiran global akan tingginya kasus demensia, terutama pada perempuan.
Riset yang menganalisis data U.K. Biobank selama rata-rata 13 tahun ini menunjukkan bahwa efek perlindungan HRT tidak seragam. Penurunan risiko paling signifikan justru terjadi pada wanita yang memulai terapi pada rentang usia 46 hingga 56 tahun, atau yang menjalani menopause bedah (pengangkatan ovarium) serta mereka yang membawa varian gen APOE4, faktor genetik yang dikenal meningkatkan kerentanan terhadap Alzheimer.
Anne-Marie Minihane, profesor nutrigenomik di University of East Anglia yang memimpin studi ini, menilai temuan tersebut memperkuat bukti bahwa efek terapi hormon terhadap kesehatan otak bersifat kompleks dan sangat dipengaruhi faktor biologis individu. Menurutnya, HRT yang selama ini diresepkan untuk meredakan gejala menopause seperti hot flush dan keringat malam, kini mulai terlihat memiliki peran jangka panjang dalam menjaga fungsi kognitif sebagian wanita.
Para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian ini memberikan respons beragam. Sherry Ross, dokter kandungan yang berbasis di Santa Monica, California, menyebut studi ini menarik karena melibatkan jumlah partisipan besar dan durasi panjang. Ia menjelaskan bahwa estrogen yang diberikan sejak awal transisi menopause berpotensi meminimalkan perubahan materi abu-abu otak yang kerap terganggu saat menopause, sehingga dapat menekan risiko demensia. Namun, ia menggarisbawahi bahwa hasil ini masih bersifat asosiatif, bukan bukti kausalitas.
Pakar lain, Prudence Hall, dokter kandungan di Santa Monica, menyoroti keluhan umum berupa kabut otak dan gangguan memori jangka pendek pada wanita perimenopause. Ia menganalogikan hormon sebagai perangkat lunak tubuh yang membantu kelancaran fungsi otak. Menurutnya, estradiol bioidentik dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan memperbaiki koneksi antar neuron. Namun, ia juga menekankan pentingnya mengendalikan faktor risiko lain seperti konsumsi gula berlebih dan gaya hidup selama masa transisi menopause.
Di sisi lain, Dung Trinh, dokter penyakit dalam dari MemorialCare Medical Group, mengingatkan bahwa karena desainnya observasional, studi ini belum bisa membuktikan HRT secara langsung mencegah demensia. Ia tidak merekomendasikan penggunaan HRT semata-mata untuk pencegahan demensia berdasarkan temuan ini. Ia justru mendorong penelitian lanjutan dengan desain prospektif dan acak yang memisahkan berbagai formulasi hormon, rute pemberian, dosis, serta durasi terapi, termasuk membedakan menopause alami dan bedah serta status genetik APOE.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka diskusi penting tentang penanganan menopause yang selama ini kurang mendapat perhatian. Dengan meningkatnya angka harapan hidup, jumlah perempuan Indonesia yang memasuki masa menopause diproyeksikan terus bertambah. Sayangnya, kesadaran akan terapi hormon masih rendah, sementara akses terhadap layanan kesehatan menopause pun terbatas. Studi ini menegaskan perlunya pendekatan personal dalam pengobatan menopause, sekaligus menyoroti pentingnya penelitian serupa di Asia Tenggara, mengingat faktor genetik dan gaya hidup yang berbeda dapat memengaruhi hasil.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah: apakah temuan ini akan mengubah rekomendasi klinis global mengenai HRT? Para peneliti berharap uji klinis acak dapat segera dilakukan untuk menjawab secara definitif siapa yang paling diuntungkan, jenis terapi apa yang paling tepat, dan kapan waktu ideal untuk memulai. Sampai saat itu tiba, keputusan penggunaan HRT sebaiknya tetap dilakukan secara individual melalui konsultasi dengan dokter, dengan mempertimbangkan manfaat dan risikonya secara matang.



