Queiroz Kembali Menukangi Ghana: Misi Baru di Tengah Tekanan Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Carlos Queiroz resmi kembali menjabat sebagai pelatih kepala tim nasional Ghana setelah sempat mengumumkan mundur pasca Piala Dunia 2022.
- Federasi Sepak Bola Ghana (GFA) menilai pengalaman internasional Queiroz sebagai aset utama untuk membawa Black Stars bersaing di level tertinggi.
- Tugas pertama Queiroz adalah memimpin Ghana di kualifikasi Piala Afrika 2027, dengan target memperbaiki performa dan menyatukan tim.

Carlos Queiroz kembali dipercaya menangani tim nasional Ghana, hanya beberapa bulan setelah ia mengumumkan mundur dari kursi pelatih usai Piala Dunia 2022. Keputusan Federasi Sepak Bola Ghana (GFA) ini mengejutkan banyak pihak, namun sekaligus menegaskan bahwa pengalaman luas pelatih asal Portugal itu dianggap aset berharga bagi skuad berjuluk Black Stars.
Queiroz, yang kini berusia 73 tahun, sebelumnya memimpin Ghana pada April lalu dan berhasil membawa tim ke babak 16 besar Piala Dunia 2022 di Qatar. Meski langkah mereka terhenti setelah kalah tipis 1-0 dari Kolombia, penampilan Ghana di turnamen tersebut dinilai cukup solid. Namun, segera setelah kekalahan itu, Queiroz sempat mengindikasikan akan meninggalkan posisinya melalui unggahan di media sosial. GFA kemudian melakukan diskusi internal dan memutuskan untuk mempertahankan pelatih yang pernah menjadi asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United itu.
Keputusan ini tidak lepas dari rekam jejak Queiroz yang panjang di pentas internasional. Sebelum menangani Ghana, ia pernah melatih Iran, Portugal, dan Mesir di turnamen besar, serta sempat menukangi tim-tim seperti Afrika Selatan, Kolombia, dan Qatar. Pengalaman ini dinilai GFA sebagai modal penting untuk membawa Ghana bersaing di level tertinggi. Dalam pernyataan resminya, GFA menyebut bahwa Queiroz memiliki pengetahuan mendalam tentang Black Stars dan dianggap mampu memimpin tim menuju "babak baru yang sukses di pentas internasional".
Queiroz sendiri menyambut baik kepercayaan yang diberikan. Dalam unggahan di Instagram, ia menulis bahwa melatih Ghana bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah kehormatan dan tanggung jawab untuk membanggakan salah satu negara sepak bola terbesar di Afrika. "Ambisi kami jelas: meningkatkan setiap hari, menyatukan bangsa, membuat Ghana lebih kuat, dan berjuang untuk setiap kemenangan dengan semangat, kerendahan hati, dan kebanggaan," tulisnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Queiroz tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga ingin membangun ikatan emosional dengan para penggemar dan masyarakat Ghana.
Bagi Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana federasi sepak bola di Afrika berani mengambil keputusan berani demi stabilitas tim. Pola manajemen yang mengutamakan pengalaman pelatih asing sering menjadi perbandingan dengan pendekatan yang dilakukan PSSI. Di tengah upaya Indonesia meningkatkan kualitas tim nasional, keputusan GFA mempertahankan Queiroz bisa menjadi pelajaran bahwa kesinambungan kepelatihan seringkali lebih efektif daripada pergantian yang terlalu sering.
Queiroz akan langsung diuji dalam waktu dekat. Ia dijadwalkan memimpin Ghana pada laga kualifikasi Piala Afrika 2027 yang dimulai akhir bulan ini. Meski jadwal dan venue pertandingan pertama belum diumumkan, Ghana dipastikan akan menghadapi lawan-lawan berat di Grup C, termasuk Pantai Gading yang merupakan juara bertahan Piala Afrika. Tantangan ini akan menjadi ujian nyata bagi Queiroz untuk membuktikan bahwa keputusan GFA mempertahankannya adalah langkah yang tepat.
Dengan segala pengalaman dan ambisi yang dimilikinya, publik sepak bola Afrika tentu menantikan apakah Queiroz mampu membawa Ghana meraih kesuksesan yang lebih besar. Pertanyaan yang menggantung adalah: akankah ia mampu mengulang keajaiban seperti saat membawa Iran tampil impresif di Piala Dunia 2018, atau justru menghadapi kritik tajam jika hasilnya tidak sesuai harapan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: misi Queiroz bersama Ghana belum selesai, dan ia tampak bertekad untuk menuntaskannya dengan prestasi.



