Harga Minyak Dunia Mendekati Level Tertinggi Enam Pekan: Ketegangan Timur Tengah dan Dampaknya bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Konflik baru antara AS dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan, mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam enam pekan.
- Penurunan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz dan ancaman Israel untuk melumpuhkan infrastruktur Iran memperkuat sentimen kenaikan harga.
- Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi menekan APBN dan inflasi, serta mendorong perlunya akselerasi transisi energi.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak dan bertengger di level tertinggi enam pekan terakhir pada Kamis (3/9), menyusul serangan udara terbaru Amerika Serikat ke Iran serta ancaman baru dari Israel yang menyulut kekhawatiran akan terganggunya pasokan dari kawasan Teluk. Kondisi ini menjadi sinyal yang tidak nyaman bagi negara pengimpor seperti Indonesia, yang harus bersiap menghadapi potensi kenaikan beban energi dan tekanan inflasi.
Data pasar menunjukkan kontrak berjangka Brent menguat 1,8 persen menjadi 97,39 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,1 persen ke 92,92 dolar AS. Kedua kontrak mencatatkan penguatan empat hari beruntun dan sempat menyentuh rekor tertinggi enam pekan pada awal sesi. Eskalasi ini terjadi setelah Kementerian Kesehatan Iran melaporkan delapan warga tewas dan 108 lainnya luka-luka akibat serangan AS, sementara Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan empat orang tewas dalam sebuah acara pernikahan di dekat Selat Hormuz.
Serangan terbaru ini merupakan baku tembak terbesar antara Washington dan Teheran sejak Juli, menandai perang yang kini memasuki bulan ketujuh. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, kembali mengeluarkan peringatan keras bahwa Israel akan melumpuhkan infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi, jika Teheran melancarkan serangan balasan. Analis komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai pernyataan Katz menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak pada perdagangan kali ini.
Di sisi lain, data pelayaran awal menunjukkan hanya enam kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu, turun dari sebelas kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata sepuluh hari sekitar tiga belas kapal. Iran juga menambah daftar kapal yang dianggap tidak patuh dan berpotensi dikenai denda, penyitaan, atau penahanan jika mencoba melintasi selat tersebut. Analis energi UBS, Giovanni Staunovo, menggarisbawahi bahwa pasar minyak masih ketat dengan inventaris global yang terus menurun, sehingga fundamental pasokan ikut mendorong harga naik di tengah ketegangan geopolitik.
Di tengah gejolak ini, Irak justru meningkatkan ekspor minyaknya menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari pada Agustus, naik signifikan dari 1,35 juta barel per hari pada Juli. Dua pejabat energi Irak mengungkapkan bahwa diskon besar dan persetujuan Iran bagi kapal tanker Irak untuk melewati Hormuz mendorong kenaikan ini, dengan ekspor September diperkirakan akan terus meningkat. Sementara itu, pelaku pasar juga meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini, menambah kompleksitas situasi ekonomi global.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini memiliki implikasi langsung. Sebagai net importir minyak, setiap kenaikan harga akan meningkatkan beban subsidi energi dan berpotensi memperlebar defisit APBN. Harga minyak yang tinggi juga berisiko mendorong inflasi, terutama melalui kenaikan harga bahan bakar dan transportasi. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipasi, seperti mengoptimalkan produksi domestik dan mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ketegangan di Timur Tengah akan mereda atau justru meningkat. Jika konflik berlanjut dan gangguan pasokan semakin parah, harga minyak bisa menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda de-eskalasi, harga berpotensi terkoreksi. Indonesia, bersama negara-negara importir lainnya, akan terus memantau dinamika ini dengan cermat, sambil berharap stabilitas kawasan dapat segera pulih demi menjaga perekonomian global dan domestik.



