Gaël Monfils Ukir Sejarah di US Open: Menang di Hari Ulang Tahun ke-40
Baca dalam 60 detik
- Petenis Prancis Gaël Monfils menjadi pemain tertua yang memenangi pertandingan US Open dalam 34 tahun terakhir, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-40.
- Kemenangan atas Adolfo Daniel Vallejo memastikan Monfils melaju ke putaran kedua, sekaligus memperpanjang rekor kemenangan Grand Slam terbanyak untuk petenis Prancis.
- Momen ini menjadi sorotan karena Monfils telah mengumumkan akan pensiun pada akhir musim ini, menjadikan US Open sebagai ajang perpisahannya.

Gaël Monfils memilih cara yang tak biasa untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-40: memenangi pertandingan di ajang Grand Slam. Pada Selasa malam waktu setempat, petenis asal Prancis itu mengalahkan Adolfo Daniel Vallejo dari Paraguay dengan skor 2-6, 6-1, 6-2, 6-0 di lapangan Louis Armstrong Stadium, New York. Kemenangan ini mengukuhkan Monfils sebagai petenis tertua yang memenangi laga utama US Open sejak Jimmy Connors melakukannya pada 1992—yang juga tepat di hari ulang tahunnya yang ke-40.
Pertandingan ini bukan sekadar kemenangan biasa. Bagi Monfils, yang telah mengumumkan akan gantung raket pada akhir musim ini, US Open menjadi panggung perpisahan terakhirnya. Ia tampil di turnamen mayor ke-18 kalinya, dan kemenangan ini menjadi yang ke-131 di ajang Grand Slam—sebuah rekor baru untuk petenis Prancis. Meski sempat kehilangan set pertama, Monfils bangkit dan mendominasi tiga set berikutnya dengan permainan atraktif yang menjadi ciri khasnya.
Suasana di stadion pun berubah menjadi pesta kejutan. Para penonton yang memadati tribun menyanyikan lagu "Happy Birthday" secara spontan saat Monfils menjalani wawancara setelah pertandingan. "Bermain di hari ulang tahun ke-40 sangat istimewa," ujar Monfils, yang juga semifinalis US Open 2016. "Atmosfer di New York selalu luar biasa. Saya selalu mencoba bermain tenis hebat dan memberikan pertunjukan yang menarik."
Kemenangan ini juga menjadi pembuktian bahwa usia bukanlah penghalang untuk berprestasi di level tertinggi. Monfils, yang pernah menempati peringkat enam dunia, menunjukkan bahwa pengalaman dan ketenangan bisa mengalahkan kegesitan lawan yang jauh lebih muda. Vallejo, yang berada di peringkat 60 dunia, tampil percaya diri di set awal, namun kemudian kehilangan ritme saat Monfils meningkatkan intensitas permainannya.
Di tengah sorotan kariernya yang panjang, Monfils juga berbagi cerita tentang hadiah ulang tahun dari istrinya, Elina Svitolina, yang merupakan semifinalis Wimbledon dua kali. "Saya tidak ingin kalah di babak pertama," kata Monfils. "Meski awal pertandingan kurang mulus, saya merasa bisa bermain lebih baik. Saya terus menyerang, memvariasikan pukulan backhand, dan mencoba memanfaatkan forehand. Ritme saya akhirnya datang, dan saya merasa bisa mengendalikan permainan."
Bagi penggemar tenis di Indonesia, pencapaian Monfils menjadi pengingat bahwa dedikasi dan kecintaan pada olahraga bisa melampaui batas usia. Di tengah maraknya petenis muda Asia, seperti yang berasal dari Jepang dan Korea, kisah Monfils bisa menjadi inspirasi bagi petenis Tanah Air yang tengah berjuang menembus level internasional. Meski Indonesia belum memiliki wakil di turnamen Grand Slam, semangat juang Monfils menunjukkan bahwa konsistensi dan kerja keras adalah kunci.
Selanjutnya, Monfils akan berhadapan dengan unggulan ke-14 asal Amerika Serikat, Learner Tien, di putaran kedua. Pertandingan ini diprediksi berlangsung sengit, mengingat Tien adalah salah satu pemain muda yang sedang naik daun. Namun, dengan dukungan penuh dari penonton New York yang sudah jatuh hati padanya, Monfils optimistis bisa melanjutkan perjalanan perpisahannya. Akankah ia mampu melaju lebih jauh dan menciptakan kejutan lain? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



