US Open: Mimpi Arthur Fery Terhenti di Babak Pertama, Dikalahkan Musetti
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Arthur Fery harus mengakui keunggulan unggulan ke-13 asal Italia, Lorenzo Musetti, pada debutnya di US Open, kalah straight sets 6-3, 6-3, 7-5.
- Setelah sukses menembus semifinal Wimbledon 2025, Fery gagal mempertahankan performa impresifnya di Flushing Meadows, meski sempat menunjukkan perlawanan sengit di set ketiga.
- Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Fery yang kini fokus menatap musim 2027, dengan ambisi meraih gelar ATP pertamanya setelah nyaris juara di Winston-Salem Open.

Petenis Inggris Arthur Fery harus mengubur mimpinya untuk mengulang keajaiban Wimbledon setelah langkahnya terhenti di babak pertama US Open. Unggulan ke-13 asal Italia, Lorenzo Musetti, menjadi algojo dengan kemenangan straight sets 6-3, 6-3, 7-5 di Grandstand, Flushing Meadows, Selasa (27/8) waktu setempat.
Fery, yang kini menempati peringkat 33 dunia, sejatinya datang ke New York dengan kepercayaan diri tinggi. Penampilan gemilangnya di Wimbledon musim panas iniโmenembus semifinal sebagai wildcardโtelah melambungkan namanya dari peringkat 114 ke papan atas. Namun, undian kurang berpihak padanya. Ia harus berhadapan dengan Musetti, petenis bertangan satu yang tengah dalam performa terbaiknya setelah absen di dua Grand Slam terakhir akibat cedera paha.
Pertandingan yang berlangsung dalam kondisi panas dan lembap setelah tertunda hujan ini menjadi ujian mental bagi Fery. Ia sempat menunjukkan permainan menyerang yang apik, terutama saat tampil di net. Namun, kesalahan-kesalahan kritis, termasuk dua double fault beruntun di set pertama, membuatnya kehilangan momentum. Musetti, yang dikenal dengan permainan "vintage"-nya, justru tampil efisien dan memanfaatkan setiap peluang.
Meski kalah, penampilan Fery di set ketiga patut diacungi jempol. Tertinggal dua set, ia bangkit dengan mematahkan servis Musetti untuk unggul 2-0. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama. Musetti merespons dengan agresif, memenangkan empat game beruntun dan memaksa Fery bermain defensif. Fery sempat menyamakan kedudukan 5-5, tetapi akhirnya menyerah pada tekanan di game krusial.
Bagi pecinta tenis Indonesia, kisah Fery mungkin menjadi inspirasi tersendiri. Perjalanannya dari petenis di luar 200 besar menjadi bintang dalam satu musim menunjukkan bahwa kerja keras dan konsistensi bisa mengubah segalanya. Namun, kekalahan ini juga mengingatkan bahwa persaingan di level Grand Slam sangat ketat, dan setiap petenis harus siap menghadapi lawan-lawan tangguh sejak babak awal.
"Musetti membuktikan mengapa ia dijuluki 'silent assassin'. Ia jarang membuat kesalahan dan selalu tampil tenang di momen-momen penting," ujar pengamat tenis internasional, James Carter, dalam analisisnya.
Kegagalan di New York ini tentu menjadi kekecewaan bagi Fery, tetapi pengalaman berharga ini akan menjadi modal berharga. Ia telah membuktikan mampu bersaing dengan petenis papan atas, dan dengan usianya yang masih 24 tahun, masa depannya di dunia tenis masih sangat cerah. Target berikutnya adalah meraih gelar ATP pertamanya dan menembus peringkat 20 besar dunia.
Pertanyaannya sekarang, mampukah Fery bangkit kembali dan menjadikan kegagalan ini sebagai batu loncatan? Atau akankah tekanan sebagai petenis Inggris nomor satu semakin membebani langkahnya? Musim 2027 akan menjadi jawabannya.



