AS Tambah Dana Rp200 Miliar untuk Bersihkan Ranjau di Kamboja: Setara 100.000 Lapangan Bola
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah AS mengucurkan US$13 juta pada 2026 untuk percepatan pembersihan ranjau di Kamboja pasca-konflik perbatasan 2025.
- Total bantuan AS sejak 1993 mencapai US$235 juta, dengan 714,6 juta meter persegi lahan berhasil direklamasi.
- Dana baru ini memungkinkan operasi penjinakan meluas ke komunitas terdampak konflik, membuka peluang ekonomi dan keselamatan warga.

Pemerintah Amerika Serikat menambah alokasi dana bantuan untuk program pembersihan ranjau darurat dan sisa peledak perang di Kamboja menjadi US$13 juta pada tahun 2026. Langkah ini merupakan respons atas meningkatnya ancaman di komunitas perbatasan pasca-konflik yang terjadi pada 2025, sekaligus menegaskan komitmen jangka panjang Washington dalam upaya kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.
Keputusan ini diumumkan melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar AS di Phnom Penh pada 1 September. Dalam keterangannya, pihak kedutaan menegaskan bahwa pendanaan tambahan tersebut akan memperluas operasi pembersihan ke wilayah-wilayah yang terdampak langsung oleh pertempuran terbaru. Meski demikian, rincian lokasi spesifik di sepanjang perbatasan yang menjadi sasaran operasi tidak dipublikasikan, begitu pula data jumlah ranjau baru yang tertanam akibat konflik.
Dengan tambahan dana ini, total kontribusi AS untuk sektor aksi ranjau Kamboja sejak 1993 mencapai US$235 juta. Angka tersebut mencerminkan lebih dari tiga dekade kerja sama yang erat antara kedua negara dalam menangani warisan mematikan dari konflik berkepanjangan. Sejak awal program, area seluas 714,6 juta meter persegi telah berhasil dibersihkan dan dikembalikan untuk penggunaan produktifโluasan yang oleh kedutaan disetarakan dengan sekitar 100.000 lapangan sepak bola berstandar FIFA.
Skala operasi ini tidak main-main. Selain membuka lahan, program yang didukung AS juga telah menghancurkan lebih dari 110.000 ranjau anti-personel dan anti-kendaraan yang mayoritas diproduksi di China dan bekas Uni Soviet, serta 550.000 item sisa peledak perang termasuk bom tandan. Pekerjaan teknis ini dilakukan bersama Otoritas Aksi Ranjau dan Bantuan Korban Kamboja (CMAA), Pusat Aksi Ranjau Kamboja (CMAC), serta para penjinak ranjau lokal yang disebut-sebut memiliki keahlian tinggi.
Dalam pernyataannya, pihak kedutaan menekankan bahwa kemitraan ini tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memulihkan mata pencaharian. Lahan yang telah dibersihkan dapat kembali digunakan untuk pertanian, pariwisata, pembangunan infrastruktur, dan kegiatan ekonomi berkelanjutan lainnya. "Dampaknya jauh melampaui sekadar menyingkirkan bahan peledak. Setiap jengkal lahan yang dibersihkan membuka kembali peluang bertani, mendorong pariwisata regional, dan membuka pintu pembangunan ekonomi berkelanjutan bagi generasi-generasi Kamboja," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Konflik perbatasan 2025 telah menambah beban baru bagi Kamboja yang selama puluhan tahun bergulat dengan warisan ranjau. Komunitas yang mencoba kembali ke kehidupan normal kini menghadapi risiko tambahan, sementara kebutuhan pembersihan semakin mendesak. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya kerja sama internasional dalam penanganan pasca-konflik, terutama di kawasan yang kerap menjadi titik rawan ketegangan. Meski Indonesia tidak memiliki masalah ranjau darat domestik, pengalaman Kamboja menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana bantuan luar negeri dapat mempercepat reklamasi lahan dan memulihkan kehidupan masyarakat.
Ke depan, efektivitas pendanaan baru ini akan sangat bergantung pada transparansi dan koordinasi di lapangan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah perluasan operasi ini mampu menjangkau daerah-daerah terpencil yang paling membutuhkan, dan bagaimana keberlanjutan program setelah dana habis? Dengan meningkatnya kebutuhan pasca-konflik, komitmen para donor seperti AS akan terus diuji, sementara Kamboja harus memastikan bahwa setiap dolar yang masuk benar-benar berdampak bagi keselamatan dan kesejahteraan warganya.



