Taylor Fritz Lumat Darwin Blanch di US Open: Serve Maut Jadi Kunci Kemenangan
Baca dalam 60 detik
- Taylor Fritz menundukkan Darwin Blanch 6-3, 6-2, 6-4 di babak pertama US Open, dengan 14 ace.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Fritz sebagai harapan utama Amerika untuk mengakhiri puasa gelar Grand Slam sejak 2003.
- Fokus berikutnya adalah Mattia Bellucci, sementara tekanan publik Amerika terhadap para petenis putra terus meningkat.

NEW YORK โ Taylor Fritz membuka langkahnya di US Open 2025 dengan kemenangan meyakinkan atas rekan senegaranya, Darwin Blanch, 6-3, 6-2, 6-4, di Arthur Ashe Stadium, Selasa (1/9) waktu setempat. Finalis edisi 2024 itu tampil dominan berkat servisnya yang mematikan, mencatatkan 14 ace dan hanya kehilangan satu poin pada servis pertama di set pembuka.
Pertandingan yang berlangsung sekitar dua jam ini menjadi panggung bagi Fritz untuk menunjukkan kesiapannya setelah menjalani persiapan yang tidak konsisten. Sebelum ke New York, ia sukses menjuarai turnamen di Washington, namun langsung tersingkir di babak pertama Montreal. Namun, di hadapan pendukung sendiri, Fritz tampil tanpa cela. Ia mematahkan servis Blanch di game keenam set pertama, lalu terus menekan di set kedua dengan mengonversi break point keempat di game kelima dan kembali mematahkan servis lawan di game ketujuh.
Blanch, yang baru berusia 18 tahun dan mendapat wildcard, sempat memberikan perlawanan di set ketiga. Namun, kesalahan-kesalahan yang ia buat, termasuk pukulan yang keluar lapangan pada break point di game pembuka, menjadi momentum bagi Fritz untuk menutup pertandingan. Dua break point yang dihadapi Fritz di game kedua set ketiga berhasil ia selamatkan dengan ace dan backhand keras, sebelum mengunci kemenangan dengan servis yang tidak bisa dikembalikan.
Kemenangan Fritz ini melengkapi sukses petenis putra Amerika di babak pertama. Sehari sebelumnya, Frances Tiafoe memenangi laga lima set yang menegangkan, sementara Ben Shelton bangkit dari ketertinggalan satu set. Ketiganya kini mengemban misi berat: mengakhiri puasa gelar Grand Slam putra Amerika yang sudah berlangsung 23 tahun, sejak Andy Roddick menjuarai US Open 2003.
Tekanan itu diakui Fritz. "Sebagai petenis Amerika teratas, ekspektasi sangat tinggi. Wajar jika merasa gugup," ujarnya. Ia juga mengaku mendapat pelajaran dari pertandingan Shelton yang sempat tertinggal di set pertama. "Saya melihat Ben di set pertama, lalu ia bangkit dan menang dengan mudah. Itu meyakinkan saya bahwa jika saya gugup dan kalah di set pertama, tidak perlu panik," tambah Fritz.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Fritz ini menarik untuk disimak, mengingat ia adalah salah satu pemain dengan servis terbaik di tur. Gaya bermainnya yang agresif bisa menjadi referensi bagi petenis muda Indonesia yang ingin mengembangkan permainan serve-and-volley. Selain itu, keberhasilan Fritz melaju jauh di turnamen Grand Slam kerap menjadi sorotan media internasional, yang secara tidak langsung turut mempopulerkan tenis di kawasan Asia Tenggara.
Selanjutnya, Fritz akan berhadapan dengan Mattia Bellucci, petenis Italia yang tidak diunggulkan. Jika mampu melewati laga ini, ia berpotensi bertemu dengan unggulan-unggulan top di babak-babak berikutnya. Pertanyaannya, mampukah Fritz mempertahankan konsistensi servisnya dan akhirnya merebut gelar Grand Slam pertamanya di hadapan publik sendiri? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa hari ke depan.



