Punggol East Container Park Tutup: 50 Tenant Terusir, Rencana Hunian Baru Singapura Menguat
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 50 usaha kecil di Punggol East Container Park, Singapura, harus hengkang akhir Oktober 2026 karena lahan akan dikembalikan ke pemerintah untuk pembangunan perumahan.
- Para penyewa, termasuk restoran dan penyedia olahraga, mengaku tak punya cukup waktu untuk pindah, sementara operator sosial City Sprouts berupaya memfasilitasi relokasi ke lokasi lain.
- Penutupan ini menandai pergeseran prioritas tata kota Singapura dari ruang komunitas menjadi kebutuhan residensial, memicu pertanyaan tentang masa depan ruang serupa di kota-kota Asia Tenggara.

Lebih dari 50 tenant di Punggol East Container Park, Singapura, harus mengakhiri operasional mereka paling lambat 31 Oktober 2026 setelah lahan seluas 50 Punggol East Road itu dikembalikan kepada Singapore Land Authority (SLA) untuk direklamasi menjadi kawasan perumahan baru. Keputusan ini, yang telah direncanakan dalam Singapore Master Plan, memaksa para pelaku usaha kecil, mulai dari kafe hingga penyedia pickleball, untuk mencari lokasi baru dalam waktu singkat, meninggalkan komunitas yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
City Sprouts, perusahaan sosial yang mengelola taman kontainer tersebut sejak 2022, mengirimkan pemberitahuan resmi kepada para penyewa pada 4 Agustus lalu. Dalam email yang dilihat CNA, mereka menyatakan bahwa seluruh tenant harus menyerahkan kembali premises mereka kepada City Sprouts sebelum tenggat tersebut. Padahal, sewa lahan sebenarnya baru berakhir pada 31 Desember 2026, namun proses reinstatement—pengembalian lahan ke kondisi semula—memaksa percepatan jadwal. Para petani telah diberi tahu sejak awal tahun, sementara operator makanan dan minuman utama, D'Heart, baru menerima kabar pada Juli setelah City Sprouts mendapatkan kejelasan dari SLA.
Keputusan ini bukanlah kejutan bagi sebagian penyewa. Beberapa dari mereka, seperti Smok Hous yang baru buka November 2025, sudah mengetahui bahwa sewa bersifat jangka pendek. Namun, kecepatan eksekusi tetap memicu kekecewaan. Isrudy Shaik, pendiri Smok Hous, mengaku sempat berharap mendapat sewa tiga tahun, tetapi kini harus memikirkan nasib sembilan karyawan tetapnya. "Bagaimana saya bisa mempertahankan mereka jika saya tidak punya toko? Mereka punya keluarga untuk diberi makan," ujarnya. Ia tengah mencari lokasi baru yang sesuai dengan kebutuhan ruang outdoor dan indoor untuk restoran smoke house-nya.
Dampak sosial dari penutupan ini terasa lebih dalam bagi usaha yang telah lama mengakar. Vincent Low, pendiri restoran Kim Kao Mai yang telah beroperasi sembilan tahun di lokasi tersebut, memperkirakan 90 persen pelanggannya berasal dari wilayah timur laut Singapura. "Kami bisa membawa merek kami ke barat, tetapi bagi mereka kami adalah pendatang baru," katanya. Ia khawatir jarak akan membuat pelanggan setianya enggan mengikuti. Sementara itu, Nurnisa Jonson, pemilik usaha makanan Filipina Tara na!, baru saja pindah ke kontainer park pada Mei lalu dan menerima kabar penutupan pada 11 Agustus. Ia sempat stres memikirkan 12 karyawannya, setengah di antaranya pekerja asing. "Saya tidak bisa begitu saja menyuruh mereka pergi setelah saya memberi harapan bahwa kita akan membangun masa depan bersama," tuturnya. Beruntung, ia berhasil mendapatkan tempat baru di Punggol Golf Driving Range pada hari yang sama setelah wawancara.
Penutupan Punggol East Container Park bukan sekadar perpindahan bisnis, melainkan cerminan perubahan prioritas tata kota Singapura yang semakin mengedepankan pembangunan residensial di tengah keterbatasan lahan. SLA menegaskan bahwa perpanjangan sewa tidak dimungkinkan karena lahan dibutuhkan untuk pengembangan perumahan masa depan. City Sprouts sendiri, yang juga menjadi tenant, akan pindah ke Pasir Ris Park dan menawarkan prioritas kepada petani serta mitra untuk ikut pindah ke lokasi lain yang mereka kelola di Henderson, West Coast, dan Bedok. Namun, bagi para pelaku usaha yang telah membangun ikatan emosional dengan tempat tersebut, seperti Darren Teo dari Play! Pickle yang membuka cabang terbesarnya di sana, kehilangan ini terasa pahit. "Kami telah membangun komunitas pickleball yang dinamis di sini," katanya. Ia berencana tetap beroperasi hingga akhir Oktober dan akan fokus pada dua cabang lainnya.
Fenomena ini juga relevan bagi Indonesia, di mana ruang-ruang kreatif dan usaha kecil di kota-kota besar kerap tergusur oleh pembangunan properti. Jakarta, misalnya, sering menyaksikan penutupan pasar atau kawasan kuliner dadakan demi proyek mixed-use. Pemerintah dan pengembang di Indonesia dapat belajar dari pendekatan Singapura yang setidaknya menyediakan relokasi alternatif, meski tetap menimbulkan gejolak bagi pelaku usaha. Pertanyaannya, apakah ada mekanisme serupa yang cukup adaptif untuk melindungi ekosistem bisnis lokal? Di tengah tekanan urbanisasi, keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan komunitas menjadi isu yang tak terelakkan.
Ke depan, para tenant yang terdampak harus beradaptasi dengan cepat. Sebagian, seperti Smok Hous, melihat ini sebagai peluang untuk menjadi "restoran keliling" yang berpindah-pindah lokasi. Namun, bagi yang lain, memulai dari nol adalah risiko besar. City Sprouts berjanji akan mendampingi proses transisi, tetapi waktu yang sempit tetap menjadi momok. Apakah penutupan ini akan menjadi preseden bagi ruang komunal lain di Singapura? Atau justru memicu lahirnya model bisnis yang lebih fleksibel dan mobile? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: komunitas yang telah dibangun di Punggol East tidak akan pernah sama lagi.



