Shein Terpuruk di Hari Kedua: Saham Dibuka Melemah, Sinyal Pasar Mode Cepat Mulai Pudar?
Baca dalam 60 detik
- Saham Shein dibuka turun 0,45% di Hong Kong pada hari kedua, mengikuti debut yang lesu.
- Harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar HK$48,56 menjadi acuan, namun sentimen pasar masih rapuh.
- Kinerja saham ini menjadi indikator kepercayaan investor terhadap model bisnis fast-fashion di tengah tekanan regulasi global.

HONG KONG โ Saham raksasa mode cepat asal Tiongkok, Shein, kembali dibuka melemah pada hari kedua perdagangannya di Bursa Hong Kong, Rabu (2/9), setelah debut yang mengecewakan sehari sebelumnya. Harga saham dipatok turun 0,45 persen menjadi HK$48,28, mencerminkan keraguan investor terhadap prospek perusahaan di tengah persaingan ketat dan meningkatnya pengawasan regulasi.
Pada sesi perdagangan pertama, Selasa (1/9), saham Shein sempat merosot hingga 10 persen sebelum akhirnya ditutup mendekati harga penerbitan HK$48,56. Fluktuasi tajam ini menunjukkan bahwa antusiasme awal terhadap IPO yang telah lama dinanti-nantikan itu tidak bertahan lama, seiring investor mencermati fundamental bisnis yang masih dibayangi isu tata kelola dan keberlanjutan.
IPO Shein sendiri merupakan salah satu yang paling dinantikan di Asia tahun ini, mengingat posisinya sebagai salah satu pengecer daring terbesar dunia dengan valuasi sempat menyentuh US$100 miliar. Namun, respons pasar yang hambar mengindikasikan bahwa era pertumbuhan eksponensial model bisnis fast-fashion mulai diuji, terutama di tengah meningkatnya kesadaran konsumen akan dampak lingkungan dan sosial dari produksi massal.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki relevansi langsung. Pasar mode dalam negeri, yang juga dibanjiri produk impor murah dari platform seperti Shein, berpotensi mengalami pergeseran preferensi konsumen. Jika sentimen negatif terhadap Shein berlanjut, hal ini bisa menjadi momentum bagi pelaku industri lokal untuk memperkuat posisi, sekaligus mendorong regulator untuk lebih ketat mengawasi arus barang impor yang kerap menggerus produk UMKM.
Para analis menilai bahwa penurunan harga saham Shein bukan semata soal kinerja kuartalan, melainkan juga cerminan kekhawatiran investor terhadap risiko regulasi di berbagai negara, termasuk potensi larangan atau pembatasan impor barang murah. Selain itu, biaya kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan dan lingkungan yang semakin ketat di pasar utama seperti Eropa dan Amerika Serikat turut membebani margin keuntungan.
Meski demikian, sejumlah pihak tetap optimistis. Mereka berpendapat bahwa koreksi harga saham adalah hal wajar setelah lonjakan awal, dan fundamental bisnis Shein โ yang menguasai rantai pasok ultra-cepat โ masih kuat. Namun, pertanyaannya adalah apakah model ini dapat bertahan di tengah tekanan untuk lebih transparan dan berkelanjutan.
Ke depan, pergerakan saham Shein akan menjadi barometer bagi industri mode cepat global. Jika harga terus tertekan, bukan tidak mungkin perusahaan akan menunda ekspansi atau mengubah strategi bisnisnya. Bagi Indonesia, ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi kebijakan perdagangan dan mendorong industri fesyen lokal agar lebih kompetitif, sekaligus memastikan perlindungan bagi konsumen dan lingkungan. Apakah pasar akan memberi Shein kesempatan kedua, atau justru menjadi awal dari kemunduran era fast-fashion? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.



