Dari Challenger ke Flushing Meadows: Arthur Fery Siap Uji Mental di US Open
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris peringkat 33 dunia, Arthur Fery, akan menjalani debut senior di US Open melawan unggulan 13 asal Italia, Lorenzo Musetti.
- Perjalanan Fery dari semifinal Wimbledon hingga final ATP 250 Winston-Salem menandai kebangkitan karier yang dramatis dalam setahun terakhir.
- Pertandingan ini menjadi ujian seberapa jauh Fery bisa melangkah setelah status barunya sebagai petenis putra nomor satu Inggris.

Setahun lalu, Arthur Fery hanya bisa menonton dari kejauhan saat para bintang tenis dunia berlaga di US Open. Kini, petenis berusia 24 tahun itu bersiap menjalani debut seniornya di Flushing Meadows, New York, dengan status sebagai petenis putra nomor satu Inggris dan peringkat 33 dunia.
Perubahan drastis ini bermula dari penampilan gemilangnya yang menembus semifinal Wimbledon tahun ini—sebuah pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Fery mengakui bahwa momen tersebut telah mengubah hidupnya, baik secara karier maupun mental. "Sedikit menyakitkan melihat rekan-rekan seangkatan saya bermain di US Open sementara saya masih di Challenger," ujarnya mengenang tahun lalu. "Sekarang, saya merasa lebih pantas berada di turnamen besar ini."
Fery akan menghadapi Lorenzo Musetti, unggulan ke-13 asal Italia, pada laga pembuka. Musetti, yang tahun lalu mencapai perempat final US Open, dikenal sebagai pengembal bola ulung dengan pergerakan lincah. Ia juga telah melaju lebih jauh di Prancis Terbuka dan Wimbledon dalam musim-musim terakhir, serta mencapai perempat final Australia Terbuka pada Januari. Meski sempat cedera paha yang membuatnya absen di dua Grand Slam, Musetti menunjukkan kebangkitan dengan mencapai perempat final di Washington dan Cincinnati.
Bagi Fery, undian ini terasa kurang beruntung. Ia nyaris mendapatkan unggulan, tetapi kalah satu peringkat dari 32 besar. "Beberapa pekan Anda mendapat undian bagus, beberapa pekan tidak. Saya kehilangan satu posisi untuk unggulan dan kemudian bertemu unggulan ke-13. Sedikit disayangkan, tapi saya masih punya peluang jika bermain baik," katanya.
Persiapan Fery menuju US Open tidak main-main. Setelah Wimbledon, ia mengambil cuti sebulan penuh—keputusan strategis untuk memulihkan kondisi mental. Rencana liburan ke Yunani batal, tetapi ia menggantinya dengan perjalanan ke Spanyol bersama teman-temannya, lengkap dengan sesi golf. "Saya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, menikmati kesuksesan yang saya raih. Itu sangat berharga, terutama dari sisi mental," tuturnya.
Setelah itu, Fery menjalani debut di level ATP Masters dengan mengalahkan James Duckworth di Cincinnati, sebelum takluk dari Alex de Minaur. Ia kemudian melaju ke final ATP 250 Winston-Salem, meski kalah dari Ignacio Buse. Empat kemenangan di turnamen itu, meski melawan pemain yang secara peringkat di bawahnya, meningkatkan rasa percaya dirinya. "Ini persiapan yang bagus untuk US Open," katanya.
Pertanyaan tentang tinggi badan Fery (175 cm) yang relatif pendek untuk standar ATP kerap mencuat. Namun, Michael Bourne, direktur performa Lawn Tennis Association, menilai hal itu bukan hambatan. "Arthur punya kecepatan bola yang luar biasa, baik dari groundstroke maupun serve. Ia pengambil keputusan yang hebat dan atlet yang baik. Ia telah membuktikan tidak ada batasan untuknya," ujar Bourne.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Fery mengingatkan pada perjuangan petenis Asia Tenggara yang kerap dianggap kurang unggul secara fisik. Namun, seperti yang ditunjukkan Fery, mental yang kuat dan strategi yang tepat bisa menembus batas tersebut. Pertandingan melawan Musetti akan menjadi ujian nyata apakah Fery bisa bersaing di panggung terbesar, dan apakah status barunya sebagai unggulan Inggris akan bertahan lama.



