Uni Eropa Jajaki Adopsi Teknologi Wolbachia ala Singapura untuk Lawan Dengue
Baca dalam 60 detik
- Pejabat tinggi Komisi Eropa mengunjungi fasilitas produksi nyamuk di Singapura untuk mempelajari efektivitas metode Wolbachia.
- Lonjakan kasus dengue di Eropa hingga 300 persen dalam satu dekade memaksa blok tersebut mencari strategi pengendalian vektor baru.
- Kendati menjanjikan, penerapan teknologi ini di Eropa menghadapi tantangan perbedaan spesies nyamuk, regulasi, dan kondisi lingkungan.

Singapura, yang selama hampir satu dekade berhasil menekan populasi nyamuk Aedes melalui teknologi Wolbachia, kini menjadi rujukan bagi Uni Eropa yang tengah menghadapi ancaman penyebaran dengue akibat perubahan iklim. Pada 1 September lalu, Direktur Jenderal Otoritas Kesiapsiagaan dan Respons Kesehatan Darurat Komisi Eropa, Florika Fink-Hooijer, meninjau langsung fasilitas produksi nyamuk di Ang Mo Kio untuk mengkaji kemungkinan penerapan metode serupa di benua biru.
Proyek Wolbachia yang diluncurkan Singapura pada 2016 ini bekerja dengan melepas nyamuk jantan yang telah diinfeksi bakteri Wolbachia ke lingkungan. Perkawinan dengan nyamuk betina menghasilkan telur yang gagal menetas, sehingga populasi nyamuk menurun secara alami. Hasilnya, di area-area proyek, populasi nyamuk menyusut 80 hingga 90 persen, dan risiko penularan dengue turun lebih dari 70 persen. Pada Oktober mendatang, proyek ini diproyeksikan menjangkau lebih dari separuh rumah tangga di Singapura.
Meski mengesankan, Fink-Hooijer mengakui bahwa teknologi ini tidak bisa serta-merta ditransplantasikan ke Eropa. Perbedaan kondisi lingkungan, spesies nyamuk, dan kerangka regulasi menjadi hambatan utama. "Wolbachia membutuhkan waktu karena tidak mudah dipindahkan ke Eropa. Kami sedang memetakan hambatan dan faktor pendukungnya," ujarnya kepada wartawan usai kunjungan ke fasilitas Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura.
Salah satu tantangan terbesar adalah perbedaan vektor utama. Di Eropa, dengue dibawa oleh nyamuk macan Asia yang lebih menyukai area hijau, sementara di Singapura vektor utamanya adalah Aedes aegypti yang cenderung tinggal di dalam rumah. Hal ini akan memengaruhi strategi pelepasan dan pemantauan nyamuk. Ng Lee Ching, direktur kelompok Institut Kesehatan Lingkungan NEA, menekankan bahwa pendekatan yang berhasil di Singapura belum tentu efektif di Eropa. "Tidak ada solusi satu ukuran untuk semua. Setiap wilayah harus mengembangkan strategi berdasarkan kondisi epidemiologi dan lanskapnya sendiri, termasuk cara melibatkan masyarakat," katanya.
Kekhawatiran Eropa bukan tanpa alasan. Data menunjukkan kasus dengue di Uni Eropa melonjak 300 persen antara 2015 dan 2024. Jika sebelumnya hanya ditemukan di negara-negara selatan seperti Italia, Portugal, Yunani, dan Spanyol, kini kasus lokal mulai muncul hingga Belgia dan Prancis. Fink-Hooijer menegaskan bahwa kasus dengue tidak lagi hanya berasal dari pelancong, tetapi sudah terjadi penularan lokal. Selain dengue, penyakit bawaan nyamuk lain seperti chikungunya dan virus West Nile juga mulai merebak. Setidaknya 12 negara Eropa telah melaporkan kasus lokal West Nile, dengan satu kematian di Belanda pada 26 Agustus.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat negara ini merupakan salah satu wilayah endemis dengue dengan kasus yang fluktuatif setiap tahunnya. Keberhasilan Singapura dalam menekan populasi nyamuk melalui Wolbachia sebenarnya sudah diadopsi di beberapa kota di Indonesia, seperti Yogyakarta, dengan hasil yang menjanjikan. Namun, tantangan serupa dengan Eropa juga dihadapi Indonesia: keragaman spesies nyamuk, kondisi geografis, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan. Jika Uni Eropa serius mengadopsi teknologi ini, kolaborasi riset dan transfer pengetahuan dengan negara-negara tropis seperti Indonesia bisa menjadi langkah strategis untuk memperkuat pengendalian vektor secara global.
Otoritas Kesehatan Eropa yang dibentuk pasca-pandemi Covid-19 ini kini menempatkan penyakit bawaan vektor sebagai salah satu dari empat ancaman medis prioritas, bersama resistensi antimikroba, pandemi, dan risiko kimia-biologi-radiologi-nuklir. Fink-Hooijer mengingatkan bahwa penyakit-penyakit ini belum menjadi endemik di Eropa, tetapi tanpa tindakan cepat, kondisi itu bisa berubah permanen. "Begitu penyakit bawaan vektor menjadi endemik, kita tidak akan bisa memutarnya kembali," tegasnya. Pertanyaannya, akankah Eropa mampu membangun sistem pengendalian vektor yang adaptif sebelum ancaman itu menjadi kenyataan?



