Di Tengah Banjir Setinggi Pinggang, Sepasang Kekasih di Filipina Tetap Melangkah ke Pelaminan
Baca dalam 60 detik
- Pasangan asal Hagonoy, Filipina, tetap melangsungkan pernikahan di gereja yang terendam banjir, meski pihak gereja menyarankan penundaan.
- Banjir akibat hujan monsun yang berkepanjangan telah menewaskan 34 orang di bagian utara Filipina, memicu kekhawatiran akan dampak perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara.
- Kisah ini menjadi simbol keteguhan komitmen di tengah bencana, sekaligus menyoroti kerentanan infrastruktur dan kesiapsiagaan bencana di negara-negara tropis.

Hujan deras yang mengguyur Filipina selama berminggu-minggu tidak mampu menghentikan langkah Leian Lieza Galang menuju altar. Pada Selasa pagi (1/9), ia berjalan menerobos air setinggi pinggang di dalam Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Hagonoy, utara Manila, untuk menikahi Gilbert Chico. Gaun putihnya yang anggun tetap terjaga berkat modifikasi khusus, sementara seorang anak kecil membawa bantal cincin dengan air mencapai pinggangnya.
Pernikahan yang berlangsung singkat ini menjadi sorotan setelah foto-foto dan video upacara tersebut viral di media sosial. Fotografer pernikahan Mikko Rey Alfonso, yang hadir dalam acara itu, menuturkan bahwa pihak gereja sebenarnya telah menyarankan pasangan untuk menunda pernikahan karena air terus naik. Namun, keputusan tetap diambil untuk melanjutkan acara yang sudah direncanakan. "Mereka saling mencintai. Tidak ada yang bisa menghalangi persatuan mereka," ujar Alfonso kepada AFP.
Banjir yang merendam gereja tersebut bukanlah kejadian biasa. Hujan monsun yang lebih deras dari biasanya telah melanda sepertiga bagian utara Filipina sepanjang Agustus, memicu tanah longsor dan banjir bandang yang menewaskan sedikitnya 34 orang. Gereja Saint John the Baptist sendiri telah terendam sebagian selama hampir satu bulan, menurut Alfonso. Kondisi ini menggambarkan betapa parahnya dampak cuaca ekstrem yang melanda negara kepulauan tersebut.
Kisah ini menarik perhatian bukan hanya karena romantismenya, tetapi juga karena menyoroti realitas perubahan iklim yang semakin nyata di Asia Tenggara. Filipina, yang terletak di Cincin Api Pasifik, memang kerap dilanda topan dan banjir. Namun, intensitas hujan yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir memicu pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini di negara-negara berkembang. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, seperti banjir besar di Jakarta dan daerah lain yang memaksa warga beradaptasi dengan cara ekstrem.
Alfonso menambahkan bahwa pengantin wanita tiba di gereja dengan menggunakan becak yang memiliki sasis ditinggikan agar gaunnya tetap bersih. "Gaun pengantin harus diubah untuk memperpendek ekor gaun agar dia bisa berjalan dengan aman di air," jelasnya. Upacara yang seharusnya meriah itu hanya dihadiri oleh kurang dari 15 orang, dengan bangku-bangku kosong yang dihiasi buket bunga plastik. Orang tua mempelai wanita terlihat memeluk putri mereka di depan altar yang setengah terendam.
Para ahli meteorologi memperkirakan bahwa pola cuaca La Niรฑa yang sedang berlangsung akan memperpanjang musim hujan di kawasan ini, meningkatkan risiko banjir lebih lanjut. Pemerintah Filipina telah mengeluarkan peringatan bagi warga di daerah rawan untuk tetap waspada. Namun, bagi pasangan Galang dan Chico, hari itu adalah hari yang tak terlupakanโsebuah bukti bahwa cinta bisa mengatasi segala rintangan, bahkan ketika air setinggi pinggang mencoba menghalangi.
Ke depan, kisah ini mungkin akan menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim bukan hanya soal infrastruktur besar, tetapi juga ketangguhan individu dalam menghadapi situasi darurat. Apakah kisah cinta ini akan menginspirasi perubahan kebijakan di kawasan rawan bencana? Atau justru menjadi simbol bahwa manusia akan selalu menemukan cara untuk merayakan kehidupan di tengah keterbatasan?



