Guncangan di Kumamoto Memicu Gelombang Pembatalan Wisatawan hingga ke Seluruh Kyushu
Baca dalam 60 detik
- Pasca-gempa 28 Juli, kunjungan wisatawan ke Kyushu merosot tajam, bahkan di daerah yang tidak terdampak langsung, dengan pembatalan reservasi hotel mencapai 408.500 malam tamu.
- Kekhawatiran akan gempa susulan dan gangguan transportasi seperti Shinkansen dan jalan tol menjadi pemicu utama, memengaruhi pola perjalanan antarprefektur yang umum di Kyushu.
- Program diskon pemerintah 'Kyushu support discount' dinilai belum cukup untuk memulihkan sektor pariwisata, terutama karena ketergantungan pada wisatawan asing yang jumlahnya anjlok.

Gempa berkekuatan signifikan yang mengguncang Prefektur Kumamoto pada 28 Juli lalu meninggalkan luka yang lebih dalam dari sekadar kerusakan fisik. Di tengah proses rekonstruksi yang berjalan, industri pariwisata di wilayah Kyushu, Jepang barat daya, justru mengalami pukulan telak—bahkan di daerah yang sama sekali tidak merasakan getaran. Data awal menunjukkan pembatalan reservasi hotel mencapai ratusan ribu malam tamu, mengindikasikan krisis kepercayaan yang meluas di kalangan pelancong.
Fenomena ini tidak hanya melanda kawasan episentrum. Prefektur Kagoshima, Miyazaki, dan Oita yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa turut merasakan dampaknya. Penyebab utamanya adalah terganggunya konektivitas transportasi, terutama penutupan sementara layanan Kyushu Shinkansen dan pembatasan di Kyushu Expressway. Padahal, pola perjalanan wisatawan di Kyushu umumnya bersifat multi-prefektur, sehingga satu titik putus langsung menghambat seluruh rute perjalanan.
Di kawasan Aso, salah satu destinasi ikonik dengan kaldera terbesar di dunia, jumlah pengunjung pada Agustus—yang biasanya puncak musim—merosot hingga setengah dari kondisi normal. Kimiaki Ono, presiden perusahaan pengelola teahouse Daikanbo Chaten, mengungkapkan keprihatinannya. "Biasanya musim panas macet total oleh kendaraan. Kini kami tak tahu kapan semuanya pulih," ujarnya. Yang lebih memprihatinkan, kunjungan wisatawan asing yang biasanya datang bergerombol dengan bus besar dan berbelanja oleh-oleh dalam jumlah banyak, turun hingga sepertiga dari biasanya. Akibatnya, penjualan Agustus merosot 10 persen dibanding tahun normal.
Gelombang pembatalan juga menerpa hotel dan penginapan. Hidetomo Hirai, presiden Yamaga Onsen Seiryuso, sebuah ryokan di Yamaga, Kumamoto, menuturkan bahwa meski bangunannya tidak rusak dan tetap beroperasi, sekitar 90 persen reservasi Agustus batal. Sejak gempa, total 700 tamu membatalkan reservasi, menyebabkan kerugian sekitar 24 juta yen (sekitar Rp2,5 miliar). Yang mengkhawatirkan, pembatalan tidak hanya terjadi untuk bulan Agustus dan September, tetapi juga menjalar ke Oktober dan November.
Survei yang mencakup tujuh prefektur di Kyushu mencatat sedikitnya 408.500 malam tamu reservasi hotel dibatalkan. Angka ini setara dengan 2,4 hari dari total malam tamu rata-rata harian Kyushu yang mencapai 170.000 pada 2025. Namun, angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi. Dampak terparah di Kumamoto terjadi di kawasan Aso, disusul Amakusa dan Kota Kumamoto. Di Kagoshima, pembatalan terkonsentrasi di ibu kota prefektur, karena layanan Shinkansen antara Kumamoto dan Shin-Minamata masih terputus, menghambat akses langsung dari Fukuoka atau Kansai.
Menghadapi tekanan ini, sejumlah pengelola akomodasi mulai mengambil langkah tak lazim dengan menurunkan tarif kamar untuk menarik pemesanan baru. Seorang pejabat pariwisata Prefektur Oita mengonfirmasi bahwa beberapa penginapan menawarkan diskon, sebuah praktik yang jarang terjadi di puncak musim panas. Namun, langkah ini dinilai belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan.
Pemerintah pusat Jepang berencana meluncurkan program bantuan pariwisata bertajuk "Kyushu support discount" pada musim gugur ini, yang akan menanggung sebagian biaya akomodasi dan paket wisata. Meski disambut baik, banyak pelaku industri meragukan efektivitasnya. "Program itu saja tidak akan cukup," ujar seorang pengusaha lokal. Keraguan ini muncul karena meningkatnya ketergantungan pada wisatawan asing, sementara konsumen domestik semakin hemat akibat kenaikan harga.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga. Ketika bencana melanda satu destinasi, dampaknya bisa menjalar ke seluruh ekosistem pariwisata regional, seperti yang terjadi di Kyushu. Industri pariwisata Indonesia yang mengandalkan konektivitas antar-pulau juga rentan terhadap guncangan serupa. Pengalaman Jepang menunjukkan pentingnya komunikasi krisis yang efektif dan pemulihan infrastruktur transportasi secara cepat untuk memulihkan kepercayaan wisatawan.
Ke depan, pemulihan pariwisata Kyushu akan sangat bergantung pada seberapa cepat layanan transportasi pulih dan seberapa efektif kampanye meyakinkan wisatawan asing bahwa kawasan tersebut aman. Kimiaki Ono menegaskan, "Kami harus mengomunikasikan ke luar negeri bahwa 'Anda bisa bepergian dengan aman di Kyushu'." Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan pelaku industri bergerak cepat sebelum musim liburan berikutnya tiba?



