China Bikin Sejarah: Kapasitas PLTS Lampaui Batu Bara, Tanda Transisi Energi Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya, kapasitas terpasang pembangkit surya China melampaui batu bara, mencapai 1,286 miliar kilowatt per Juli 2026.
- Pencapaian ini menandai pergeseran struktural dalam bauran energi China, meski batu bara masih dominan dalam produksi listrik aktual.
- Lonjakan kapasitas surya China berpotensi menekan harga modul global, membuka peluang bagi proyek energi terbarukan di Indonesia.

China, negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, mencatat tonggak bersejarah dalam transisi energinya: kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk pertama kalinya melampaui pembangkit listrik tenaga batu bara. Badan Energi Nasional (NEA) China mengumumkan bahwa per akhir Juli 2026, kapasitas PLTS mencapai 1,286 miliar kilowatt, sedikit di atas kapasitas batu bara yang tercatat 1,285 miliar kilowatt. Pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat bahwa negeri Tirai Bambu serius mengejar target netralitas karbon pada 2060.
Pergeseran ini terjadi di tengah komitmen China untuk mencapai puncak emisi karbon pada 2030. Meski batu bara masih menjadi tulang punggung kelistrikan selama puluhan tahun, pangsa energi terbarukan terus menggerus dominasinya. Data NEA menunjukkan pertumbuhan kapasitas surya dan pembangkitannya "menunjukkan tren pertumbuhan cepat yang stabil" dan memainkan "peran yang semakin menonjol" dalam menjamin pasokan listrik serta mendorong transisi energi. Namun, perlu dicatat bahwa kapasitas terpasang tidak selalu sejalan dengan produksi listrik aktual; batu bara masih menyumbang sekitar 60% dari total pembangkit listrik China, sementara surya baru sekitar 5%.
Yang lebih menarik, penurunan pembangkit listrik batu bara China sebesar hampir 2% pada 2025 terjadi di tengah meningkatnya permintaan energi. Ini adalah penurunan pertama dalam enam tahun terakhir, dan menurut analis, untuk pertama kalinya dalam catatan, pembangkit batu bara turun bersamaan dengan naiknya permintaan listrik. Fenomena ini mengindikasikan bahwa energi terbarukan, terutama surya, mulai benar-benar menggantikan peran batu bara, bukan hanya sekadar tambahan kapasitas.
Lonjakan kapasitas surya China tidak lepas dari kebijakan agresif pemerintah dan penurunan biaya produksi modul surya. Tahun lalu, China memasang rekor 315 gigawatt kapasitas surya dan 119 gigawatt angin, yang mencakup lebih dari 80% dari total kapasitas pembangkit listrik yang baru dipasang, menurut China Electricity Council. Angka ini menunjukkan percepatan yang luar biasa, didorong oleh target ambisius pemerintah dan dukungan industri yang masif.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, melimpahnya pasokan modul surya China berpotensi menekan harga panel surya global, yang bisa dimanfaatkan untuk mempercepat proyek PLTS di Indonesia, yang tengah mengejar target bauran energi terbarukan 23% pada 2025 (meski realisasinya masih jauh). Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada batu bara untuk sebagian besar listriknya, dan pergeseran China bisa menjadi pelajaran bahwa transisi energi bukanlah mimpi, melainkan sebuah keniscayaan yang bisa dicapai dengan kebijakan yang konsisten.
Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa kapasitas terpasang yang tinggi tidak otomatis berarti pasokan listrik yang andal. Sifat intermiten energi surya menuntut investasi besar dalam penyimpanan energi dan jaringan transmisi. China sendiri tengah membangun fasilitas penyimpanan energi raksasa untuk mengatasi masalah ini. Pertanyaannya, apakah negara-negara berkembang seperti Indonesia mampu mengikuti jejak China tanpa mengorbankan stabilitas pasokan listrik? Jawabannya akan menentukan apakah transisi energi global benar-benar berkelanjutan atau hanya sekadar perpindahan masalah.



