Tiga Tokoh Asia Raih Penghargaan Bergengsi Ramon Magsaysay, Termasuk Diplomat Singapura
Baca dalam 60 detik
- Penghargaan Ramon Magsaysay 2026 diberikan kepada tiga tokoh dari Singapura, Myanmar, dan Bangladesh atas kontribusi luar biasa di bidang hukum, hak asasi manusia, dan kemanusiaan.
- Tommy Koh, Bo Kyi, dan Runa Khan dinilai mewakili semangat pelayanan tanpa pamrih yang menjadi inti dari penghargaan yang kerap disebut Nobel-nya Asia ini.
- Pengumuman pemenang tahun ini menyoroti peran penting dialog, keadilan, dan empati dalam menjawab tantangan sosial-politik di kawasan Asia.

Penghargaan Ramon Magsaysay 2026, yang kerap dijuluki Nobel-nya Asia, resmi mengumumkan tiga penerima tahun ini: seorang diplomat senior Singapura, aktivis hak asasi manusia asal Myanmar, dan pendiri organisasi kemanusiaan dari Bangladesh. Ketiganya dinilai telah menunjukkan pengabdian luar biasa bagi masyarakat di kawasan Asia, sebuah pengakuan yang diberikan sejak 1958 untuk menghormati "keagungan jiwa" melalui pelayanan tulus.
Di antara para penerima, nama Tommy Koh, diplomat dan pengacara asal Singapura yang berusia 88 tahun, menonjol karena perannya dalam memimpin Konferensi PBB yang mengadopsi Konvensi Hukum Laut pada 1982. Konvensi ini, yang sering disebut sebagai "konstitusi untuk samudra", menjadi tonggak penting dalam mengatur hak teritorial dan ekonomi negara-negara maritim, sekaligus menyediakan mekanisme penyelesaian sengketa. Menurut panitia penghargaan, keyakinan Koh yang teguh pada dialog dan kerja sama internasional telah membantu menciptakan koeksistensi damai di dunia yang timpang.
Sementara itu, Bo Kyi, aktivis berusia 61 tahun dari Myanmar, diakui atas perjuangannya yang panjang melawan pelanggaran hak asasi manusia oleh militer. Dua kali dipenjara dan menghabiskan tujuh tahun di balik jeruji besi, Bo Kyi mendirikan Assistance Association for Political Prisoners pada tahun 2000. Organisasi ini berdedikasi untuk mendokumentasikan penahanan politik, mendukung tahanan dan keluarga mereka, serta menjaga isu ini tetap terlihat di mata dunia. Ia juga secara konsisten menuntut pembebasan semua tahanan politik, termasuk mantan pemimpin Aung San Suu Kyi.
Dari Bangladesh, Runa Khan, 67 tahun, dianugerahi penghargaan atas empati mendalamnya terhadap masyarakat termiskin di negaranya. Berasal dari keluarga berada, Khan memulai kiprahnya sebagai guru bagi anak-anak miskin pada 1979. Dua dekade kemudian, ia mendirikan Friendship Bangladesh, sebuah organisasi yang membantu masyarakat paling rentan menghadapi perubahan iklim, meningkatkan pendidikan anak, memberdayakan perempuan, dan menciptakan peluang mata pencaharian. Kini, organisasi tersebut mempekerjakan lebih dari 7.500 orang, mengoperasikan tujuh kapal rumah sakit, dua rumah sakit darat, dan 550 klinik keliling.
Bagi Indonesia, penghargaan ini memiliki resonansi khusus. Sebagai negara maritim terbesar di dunia, konvensi hukum laut yang dirintis Koh menjadi fondasi bagi kedaulatan wilayah perairan Indonesia, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam dan penyelesaian sengketa batas. Sementara itu, kisah Bo Kyi mengingatkan pada pentingnya solidaritas terhadap isu demokrasi di kawasan, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam dialog antarbangsa. Adapun model pemberdayaan yang dijalankan Khan dapat menjadi inspirasi bagi program sosial di daerah terpencil Indonesia, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Upacara penganugerahan akan digelar di Metropolitan Theatre, Manila, pada 15 November mendatang. Para penerima akan mendapatkan medali, sertifikat, dan hadiah uang tunai yang jumlahnya tidak diungkapkan. Penghargaan ini tidak hanya merayakan pencapaian individu, tetapi juga menggarisbawahi bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari tindakan kecil yang konsisten. Pertanyaannya, bagaimana kawasan Asia, termasuk Indonesia, dapat terus menelurkan tokoh-tokoh dengan dedikasi serupa di tengah tantangan global yang semakin kompleks?



