Ariana Grande Menangis di Konser Terakhir Tur Dunia, Sebelum Rehat dari Panggung Hiburan
Baca dalam 60 detik
- Ariana Grande menuntaskan 41 panggung Eternal Sunshine Tour di London dengan haru, menandai jeda panjang dari industri musik.
- Keputusan rehat disebut sudah direncanakan sejak lama, bukan reaksi atas kritik tubuh yang beredar di media sosial.
- Rekan mainnya di Wicked, Jonathan Bailey, juga mundur dari produksi Broadway, memicu perombakan besar di panggung teater London.

Pelantun "7 Rings" itu menuntaskan rangkaian tur dunia bertajuk Eternal Sunshine di The O2 Arena, London, Selasa malam (1/9/2026) dengan mata berkaca-kaca. Penampilan ke-41 tersebut menjadi penanda ia akan vakum dari sorotan publik untuk waktu yang tidak ditentukan.
Di hadapan ribuan penggemar, Grande mengaku momen itu menjadi salah satu pengalaman paling indah dan luar biasa dalam hidupnya. Ia sempat kesulitan menahan tangis saat menyampaikan rasa terima kasih, bahkan meminta penonton membantunya menyanyikan lagu "One Last Time" karena suaranya bergetar. Pelantun "We Can't Be Friends" itu juga menyinggung perjalanan kariernya dari album perdana Honeymoon Avenue hingga konser di Hampstead sebagai bentuk apresiasi atas dukungan penggemar setianya.
Keputusan untuk rehat sebenarnya bukan hal baru. Dalam konser di Chicago, 3 Agustus lalu, Grande sempat menyampaikan pidato empat menit yang menegaskan bahwa pengumuman jeda tersebut sudah direncanakan jauh hari, bukan reaksi impulsif atas komentar negatif di media sosial. Ia menekankan bahwa pilihan itu lahir dari kesadaran diri dan pemberdayaan, bukan tekanan eksternal. Meski demikian, spekulasi tentang kondisi fisiknya tetap mengemuka setelah ia tampil dengan alas kaki nyaman Uggs di dua konser terakhir akibat luka cukup dalam di kakinya.
Keputusan Grande untuk mundur dari pementasan musikal "Sunday in the Park with George" rupanya berimbas pada rekan mainnya, Jonathan Bailey. Aktor yang dikenal lewat serial "Bridgerton" itu mengumumkan mundur dari produksi yang sama hanya beberapa jam sebelum konser pamungkas Grande. Bailey menyebut dukungannya kepada sahabatnya yang memilih menjauh dari sorotan sebagai alasan utama. Produser Empire Street Productions memastikan pementasan tetap berjalan sesuai jadwal, dengan proses casting pengganti yang tengah berlangsung.
Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa tekanan industri hiburan global tidak jauh berbeda dengan dinamika yang kerap dialami publik figur Tanah Air. Fenomena artis yang memilih rehat demi kesehatan mental semakin sering terjadi, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup di tengah ekspektasi penggemar dan industri. Langkah Grande bisa menjadi contoh bagaimana seorang bintang kelas dunia berani mengambil keputusan besar demi keberlanjutan karier dan kebahagiaan pribadi.
Dengan berakhirnya tur ini, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Grande akan mengisi masa vakumnya. Apakah ia akan fokus pada proyek film, seperti kelanjutan perannya di "Wicked", atau justru mengeksplorasi sisi lain dari kreativitasnya? Sementara itu, industri teater London harus beradaptasi dengan kehilangan dua bintang besarnya, membuka peluang bagi wajah-wajah baru untuk bersinar di panggung bergengsi tersebut.



