Kemenkes Siaga: 3,8 Juta Lansia di 8 Provinsi Terancam Dampak Kesehatan Karhutla
Baca dalam 60 detik
- Kemenkes mencatat lebih dari 50 ribu kasus ISPA hingga akhir Agustus, dengan mayoritas diderita kelompok usia rentan termasuk lansia.
- Sebanyak 3,8 juta lansia di delapan provinsi berisiko tinggi mengalami komplikasi pernapasan dan kardiovaskular akibat paparan asap karhutla.
- Pemerintah menyiagakan pos kesehatan, masker, dan dukungan psikososial untuk melindungi lansia dari dampak jangka panjang bencana asap.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan strategi perlindungan menyeluruh bagi kelompok lanjut usia di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah provinsi. Langkah ini diambil setelah data menunjukkan lebih dari 50 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat hingga akhir Agustus, dengan hampir 40 ribu di antaranya menyerang kelompok usia di atas lima tahun, termasuk lansia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa sekitar 3,8 juta lansia bermukim di delapan provinsi yang terdampak parah. Angka ini menjadi alarm serius mengingat partikel halus PM2.5 dan PM10 dari asap karhutla mampu menembus jauh ke dalam paru-paru, memicu gangguan pernapasan akut maupun kronis. Di Kalimantan Barat saja, tercatat lebih dari 16 ribu kasus, sementara Kalimantan Tengah melaporkan lebih dari 6 ribu kasus.
Paparan asap tidak hanya menyerang sistem pernapasan. Imran menjelaskan bahwa lansia dengan penyakit penyerta seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) mengalami perburukan signifikan. Risiko kardiovaskular juga meningkat akibat tekanan darah tinggi, peradangan, hingga potensi serangan jantung atau stroke. Stres oksidatif yang ditimbulkan polusi udara memperberat kondisi diabetes, gagal ginjal, dan gangguan neurologis, bahkan dapat memicu penurunan fungsi kognitif sementara seperti berkurangnya konsentrasi dan memori kerja.
Dampak psikososial menjadi dimensi lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Evakuasi, kehilangan tempat tinggal, dan kecemasan pasca-bencana meningkatkan risiko stres, depresi, serta isolasi sosial di kalangan lansia. Infrastruktur layanan kesehatan yang terganggu semakin mempersulit akses mereka terhadap obat-obatan dan perawatan rutin. Imran menegaskan bahwa studi menunjukkan peningkatan angka kematian mendadak pada lansia selama dan setelah episode kebakaran besar.
Untuk merespons situasi ini, Kemenkes menyiapkan pos pelayanan kesehatan di puskesmas, rumah sakit rujukan, dan pos pengungsian yang dilengkapi oksigen konsentrator, tabung oksigen, serta obat-obatan. Distribusi logistik digencarkan, antara lain pengiriman lebih dari 267 ribu masker ke Kalimantan Tengah dan lebih dari 470 ribu masker ke Jambi. Surveilans harian melalui SKDR Situasi Khusus memantau tren ISPA, sementara Public Safety Center (PSC) 119 dan tenaga cadangan kesehatan disiagakan untuk evakuasi darurat.
Edukasi kepada para caregiver menjadi prioritas agar mampu mengenali tanda bahaya seperti sesak napas, nyeri dada, atau kebingungan mendadak. Imran menekankan pentingnya penggunaan masker, hidrasi rutin, dan pembatasan aktivitas fisik berat bagi lansia. Dukungan psikososial juga digalakkan dengan melibatkan keluarga dan relawan untuk menjaga kesehatan mental mereka.
"Kebakaran hutan telah membuktikan bahwa krisis lingkungan dapat dengan cepat berubah menjadi krisis kesehatan. Lansia adalah wajah paling nyata dari kerentanan tersebut," ujar Imran. Menurutnya, menempatkan lansia sebagai prioritas dalam strategi mitigasi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menekan risiko komplikasi dan mortalitas yang lebih tinggi.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa siap sistem kesehatan nasional menghadapi bencana asap yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim. Dengan langkah terintegrasi yang dicanangkan, Kemenkes berharap ancaman kesehatan dapat diminimalkan, namun kesiapsiagaan jangka panjang tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.


