Manggarai Barat Siagakan Layanan Medis untuk 9.000 Pengungsi di Tengah Krisis Gempa NTT
Baca dalam 60 detik
- Pemkab Manggarai Barat mengaktifkan posko kesehatan dari rumah sakit daerah untuk melayani lebih dari 9.000 pengungsi gempa, dengan fokus pada kelompok rentan.
- Sebanyak 111 orang meninggal dan 1.631 luka-luka tercatat di NTT per 30 Agustus 2026, sementara 188.161 warga masih mengungsi di berbagai kabupaten.
- Dukungan swasta seperti PT Freeport Indonesia menjadi kunci operasional layanan kesehatan, namun tantangan logistik dan trauma psikologis masih membayangi pemulihan.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, memaksimalkan operasional posko pelayanan kesehatan dari rumah sakit daerah untuk menangani kebutuhan medis lebih dari 9.000 warga yang mengungsi akibat gempa bumi. Langkah ini diambil di tengah keterbatasan fasilitas dan trauma berkepanjangan pasca-bencana, dengan prioritas utama memastikan keberlanjutan layanan bagi kelompok paling rentan.
Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, mengungkapkan bahwa dari total 36.102 jiwa terdampak di wilayahnya, sekitar 9.000 orang telah terlayani di tenda-tenda pengungsian hingga Selasa malam. Ia menegaskan instruksinya agar rumah sakit daerah tetap beroperasi penuh sejak hari pertama gempa, meskipun tenaga medis sempat diliputi kekhawatiran akan gempa susulan. "Kami memastikan pasien di dalam ruangan tetap aman, sementara layanan darurat berjalan paralel," ujarnya saat menerima kunjungan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, di Mbeliling.
Operasional medis di Manggarai Barat tidak hanya melayani warga lokal, tetapi juga menerima rujukan dari kabupaten tetangga, terutama kasus cedera berat seperti patah tulang. Di sisi lain, pemerintah daerah memantau ketat kondisi kesehatan di posko pengungsian setelah mencatat tiga bayi meninggal saat menjalani perawatan di Puskesmas Tentang, Golowelu, dan Lengko Cepang. Kejadian ini menjadi alarm serius bagi penanganan kelompok rentan, termasuk balita, ibu hamil, dan lansia yang paling berisiko terkena penyakit pasca-bencana.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 Agustus 2026 menunjukkan skala krisis yang jauh lebih luas: 188.161 pengungsi tersebar di tujuh kabupaten, dengan konsentrasi terbesar di Manggarai dan Nagekeo. Korban jiwa mencapai 111 orang, sementara 1.631 orang luka-luka, terdiri dari 223 luka berat dan 1.408 luka ringan. Kerusakan rumah mencapai 95.567 unit, di mana 27.414 di antaranya rusak berat. Di Manggarai Barat sendiri, 10.757 rumah rusak, termasuk 152 unit di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, yang menjadi fokus bantuan PT Freeport Indonesia.
Bupati Edistasius mengapresiasi dukungan pasokan obat-obatan, tenda darurat, dan tim medis dari berbagai pihak swasta serta lembaga kemanusiaan. "Kami berterima kasih atas kontribusi yang menjaga keandalan layanan kesehatan di tengah keterbatasan," katanya. Kehadiran PT Freeport Indonesia dengan bantuan senilai Rp2,5 miliar dan tim tanggap darurat menjadi contoh nyata peran sektor swasta dalam penanganan bencana. Namun, kebutuhan air bersih yang mendesak, seperti disorot Gubernur NTT, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Secara lebih luas, bencana ini menguji ketangguhan sistem kesehatan daerah di Indonesia, terutama di wilayah dengan infrastruktur terbatas. Para ahli menilai percepatan rehabilitasi fasilitas kesehatan dan penguatan posko lapangan menjadi kunci mencegah memburuknya kondisi pengungsi. Selain itu, pendampingan psikososial bagi korban, khususnya anak-anak, harus menjadi prioritas agar trauma berkepanjangan tidak meninggalkan dampak jangka panjang.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah bagaimana koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan swasta dapat diperkuat untuk memastikan tidak ada lagi korban jiwa yang seharusnya bisa diselamatkan. Dengan musim hujan yang akan segera tiba, risiko penyakit menular dan keterbatasan logistik bisa semakin kompleks. Akankah solidaritas yang terbangun selama tanggap darurat mampu bertahan hingga fase pemulihan jangka panjang?


