Lingkar Perut Lebih Menentukan Risiko Kematian daripada Berat Badan pada Lansia
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 6.905 lansia menunjukkan bahwa BMI tinggi justru berkorelasi dengan penurunan risiko kematian, sementara lingkar perut besar meningkatkan risiko.
- Para ahli menilai pengukuran lingkar perut lebih akurat dalam memprediksi risiko kesehatan dibanding BMI, terutama pada populasi lanjut usia.
- Temuan ini memicu perdebatan tentang penggunaan BMI sebagai standar tunggal dalam skrining kesehatan dan kebijakan medis di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American Geriatrics Society mengungkap temangan mengejutkan: pada orang berusia di atas 65 tahun, indeks massa tubuh (BMI) yang menunjukkan kelebihan berat badan justru dikaitkan dengan penurunan risiko kematian hingga 46 persen pada pria, sementara obesitas kelas I dan II menurunkan risiko hingga 51 persen. Sebaliknya, lingkar perut yang besar—terlepas dari BMI—meningkatkan risiko kematian secara signifikan.
Penelitian yang melibatkan 6.905 partisipan selama periode 2011 hingga 2024 ini menemukan bahwa pria dengan lingkar perut tinggi memiliki risiko kematian 24 persen lebih besar dibandingkan mereka yang lingkar perutnya normal. Efek serupa juga terlihat pada wanita. Yang lebih menarik, kondisi underweight atau berat badan kurang, serta berat badan normal dengan lingkar perut besar, justru menjadi faktor risiko tertinggi untuk kematian dini.
Temuan ini menegaskan bahwa BMI—yang selama ini menjadi standar global untuk mengkategorikan berat badan—memiliki keterbatasan yang serius, terutama pada populasi lansia. BMI tidak membedakan antara massa otot, kepadatan tulang, dan distribusi lemak tubuh. Seiring bertambahnya usia, penurunan massa otot dan kepadatan tulang dapat menghasilkan BMI yang rendah, sehingga BMI tinggi pada lansia justru bisa menjadi penanda kondisi fisik yang lebih baik.
Dr. Mir Ali, direktur medis MemorialCare Surgical Weight Loss Center di California, yang tidak terlibat dalam studi, menyatakan bahwa lingkar perut yang besar—yang mengindikasikan obesitas sentral atau penumpukan lemak di sekitar organ vital seperti hati, jantung, dan pankreas—merupakan prediktor risiko kematian yang lebih baik daripada BMI. "Telah lama diketahui bahwa BMI bukanlah ukuran yang ideal," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pasien dengan obesitas kelas I atau II namun lingkar perut normal cenderung membawa berat badan di pinggul dan paha, sehingga dampak pada organ internal lebih kecil.
Dr. Jayne Morgan, ahli jantung dan wakil presiden urusan medis Hello Heart, menyebut adanya "paradoks obesitas" pada pria, di mana kelebihan berat badan tampaknya memberikan perlindungan. Menurutnya, pada lansia, berat badan yang lebih tinggi bisa menjadi indikator rendahnya kerapuhan fisik dan tidak adanya penyakit terminal yang sering menyebabkan penurunan berat badan drastis. "Berat badan yang lebih banyak tampaknya memberikan keuntungan bertahan hidup," katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa lingkar perut yang bertambah 2-3 inci pada wanita perimenopause dan menopause dapat meningkatkan risiko kardiometabolik, termasuk resistensi insulin, kolesterol tinggi, dan peradangan.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi yang kuat. Di tengah meningkatnya prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular, banyak program kesehatan masyarakat masih bertumpu pada BMI sebagai indikator utama. Padahal, seperti diungkapkan studi ini, lingkar perut bisa menjadi alat skrining yang lebih murah dan efektif, terutama untuk mendeteksi risiko sindrom metabolik yang banyak diderita masyarakat urban. Pemerintah dan tenaga kesehatan di Tanah Air perlu mempertimbangkan untuk mengintegrasikan pengukuran lingkar perut dalam pemeriksaan kesehatan rutin, khususnya bagi kelompok usia lanjut yang rentan terhadap sarkopenia dan malnutrisi.
Dr. Morgan juga menyoroti bahwa BMI bisa sangat menyesatkan bagi kesehatan wanita, terutama fenomena "skinny fat"—wanita dengan berat badan dan BMI normal tetapi memiliki distribusi lemak yang tidak sehat di area perut. Ia bahkan menyebut bahwa pedoman BMI untuk transplantasi jantung sering kali mengecualikan wanita kulit hitam yang memiliki bentuk tubuh pir (pinggul lebih lebar) yang sebenarnya lebih sehat. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan medis yang berbasis BMI semata dapat menimbulkan ketidakadilan dan kesalahan diagnosis.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah dunia medis akan beralih dari BMI menuju pengukuran yang lebih holistik seperti lingkar perut, rasio pinggang-pinggul, atau bahkan komposisi tubuh? Studi ini memberikan bukti kuat bahwa lingkar perut adalah indikator yang lebih relevan untuk menilai risiko kematian pada lansia. Namun, perubahan paradigma ini membutuhkan waktu dan edukasi yang masif, baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum. Akankah Indonesia menjadi salah satu negara yang lebih cepat mengadopsi pendekatan ini dalam kebijakan kesehatannya?



