Fervo Pasok Listrik Panas Bumi 396 MW ke Google, Saham Melonjak 14%
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan Fervo-Google menandai kontrak geothermal terbesar bagi raksasa teknologi itu, dengan opsi tambahan hingga 1 GW pada 2030.
- Lonjakan permintaan listrik dari pusat data mendorong perusahaan teknologi mengamankan pasokan energi bersih 24 jam, menguntungkan pengembang seperti Fervo.
- Kesuksesan proyek Cape Station dapat menjadi model bagi Indonesia, yang memiliki potensi panas bumi besar namun masih terkendala investasi dan regulasi.

Pengembang energi panas bumi asal Amerika Serikat, Fervo Energy, mengumumkan kesepakatan untuk memasok listrik sebesar 396 megawatt (MW) kepada Google, anak perusahaan Alphabet, dari proyek Cape Station di Utah. Kabar ini langsung mendorong saham Fervo melonjak hampir 14 persen dalam perdagangan pra-pasar, Selasa (1/9/2025).
Kesepakatan ini menjadi salah satu kontrak terbesar yang pernah ditandatangani oleh raksasa teknologi untuk energi panas bumi, mencerminkan pergeseran strategis perusahaan digital dalam mengamankan pasokan listrik yang stabil dan ramah lingkungan. Google, yang dikenal sebagai salah satu konsumen listrik terbesar di dunia, semakin agresif mencari sumber energi yang dapat beroperasi sepanjang waktu, tidak seperti tenaga surya atau angin yang bergantung pada kondisi cuaca.
Menurut pernyataan resmi Fervo, perjanjian tersebut juga mencakup opsi bagi Google untuk menambah pembelian listrik hingga sekitar 600 MW, sehingga total kapasitas potensial yang dapat diserap mencapai hampir 1 gigawatt (GW) pada Juni 2030. Cape Station, yang ditargetkan beroperasi pada 2028, dirancang untuk mendukung rencana pengembangan pusat data Google di Utah, negara bagian yang tengah menjadi incaran investasi infrastruktur digital.
Kerja sama antara kedua perusahaan sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2024, Fervo menandatangani perjanjian jual-beli listrik (PPA) sebesar 115 MW dengan Google dan NV Energy untuk memasok listrik panas bumi ke jaringan listrik Nevada. Sebelumnya, keduanya juga terlibat dalam Proyek Red, proyek percontohan panas bumi di Nevada yang mulai beroperasi pada 2023. Proyek ini menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi panas bumi canggih (enhanced geothermal system/EGS) yang kini digunakan di Cape Station.
Fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan listrik untuk pusat data yang melonjak seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan. Di Amerika Serikat, permintaan listrik dari pusat data diperkirakan akan tumbuh dua digit setiap tahun hingga dekade berikutnya. Kondisi ini mendorong perusahaan teknologi untuk mengamankan pasokan listrik langsung dari sumber energi terbarukan, termasuk panas bumi, yang dinilai mampu menyediakan beban dasar (baseload) tanpa emisi karbon.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi relevan mengingat negara ini memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, mencapai sekitar 24 GW, namun baru termanfaatkan sekitar 10 persennya. Pengembangan panas bumi di Indonesia sering terkendala oleh tingginya biaya eksplorasi, risiko geologi, dan regulasi yang belum sepenuhnya mendukung. Kesuksesan Fervo dengan teknologi EGS bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembang lokal dan pemerintah untuk lebih agresif menggarap energi panas bumi, terutama dalam konteks transisi energi dan target net zero emission 2060.
Para analis menilai bahwa model bisnis seperti yang dilakukan Fervo dan Google dapat direplikasi di Indonesia, terutama jika ada kepastian harga dan insentif fiskal yang menarik. Beberapa perusahaan teknologi global, termasuk Google, telah menunjukkan minat untuk berinvestasi di Indonesia dalam bidang energi bersih, seiring dengan rencana pembangunan pusat data di kawasan seperti Batam dan Jakarta. Namun, tantangan utama tetap pada kecepatan perizinan dan kesiapan infrastruktur jaringan listrik.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah energi panas bumi akan menjadi primadona baru, melainkan seberapa cepat teknologi dan kebijakan dapat mengakomodasi kebutuhan industri yang terus bertumbuh. Apakah Indonesia akan mampu meniru langkah Utah dan menarik investasi serupa, atau justru tertinggal karena birokrasi yang berbelit? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta persaingan energi bersih global.



