Saham Anjlok 40%, Aktivis Desak EPAM Systems Lakukan Buyback atau Cari Pembeli
Baca dalam 60 detik
- Engine Capital, pemegang 1,5% saham EPAM, mendesak dewan untuk membeli kembali saham secara agresif atau memulai proses penjualan perusahaan.
- Saham EPAM jatuh lebih dari 40% tahun ini akibat kekhawatiran AI, dan dana lindung nilai menilai perusahaan kini dihargai sebagai 'pecundang relatif'.
- Jika buyback tidak berhasil, EPAM diminta melakukan tinjauan strategis formal dengan penasihat keuangan independen.

Dana lindung nilai aktivis Engine Capital secara terbuka menekan dewan direksi EPAM Systems, perusahaan perangkat lunak yang berbasis di Newtown, Pennsylvania, untuk segera mengambil langkah drastis: membeli kembali sahamnya secara besar-besaran atau memulai proses mencari pembeli. Tekanan ini muncul setelah harga saham EPAM merosot lebih dari 40% sepanjang tahun ini, memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa perusahaan kehilangan daya saing di tengah disrupsi kecerdasan buatan (AI).
Dalam sebuah surat yang dipublikasikan pada Senin (31/8), Engine Capital yang memiliki 1,5% saham EPAM menyatakan bahwa harga saham yang rendah telah merugikan seluruh pemegang saham. Arnaud Ajdler, managing member Engine Capital, menegaskan bahwa "status quo tidak dapat dipertahankan lagi". Ia memberi dua opsi kepada dewan: melakukan pembelian kembali saham secara agresif, atau memulai proses untuk mengetahui berapa nilai yang bersedia dibayar calon pembeli untuk perusahaan.
Langkah Engine Capital ini bukan tanpa dasar. Perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$6,12 miliar ini memang tertinggal dibandingkan pesaingnya di sektor jasa TI. Meskipun seluruh industri terdampak kekhawatiran bahwa AI akan mengganggu model bisnis perusahaan teknologi, EPAM dinilai lebih parah. Engine Capital bahkan menyebut EPAM kini dihargai pasar sebagai "pecundang relatif" (relative loser) di kelasnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Ajdler mendesak dewan menggunakan kas yang ada sebesar US$750 juta, ditambah arus kas masa depan dan utang, untuk membeli kembali saham. Ia memperkirakan dewan dapat membeli kembali antara 60% hingga 80% saham yang beredar hingga akhir 2028. Namun, jika program buyback tidak berhasil meningkatkan kinerja, perusahaan diminta meluncurkan tinjauan strategis formal yang diawasi direktur independen dan penasihat keuangan.
Langkah Engine Capital ini bukan kali pertama. Sebelumnya, dana tersebut sukses mendorong penjualan UniFirst, perusahaan jasa seragam dan fasilitas, ke Cintas tahun ini. Keberhasilan itu memberi kredibilitas bagi tekanan yang dilancarkan Engine Capital terhadap EPAM. Pasar pun merespons positif: harga saham EPAM naik 3,5% setelah surat tersebut dipublikasikan.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, kasus EPAM menjadi pengingat bahwa tekanan aktivis dapat mengubah arah strategi perusahaan teknologi global. Meski tidak ada dampak langsung ke pasar domestik, investor Indonesia yang memegang saham teknologi global perlu mencermati bagaimana kekhawatiran AI dapat memicu aksi korporasi serupa di perusahaan lain. Di tengah gejolak pasar global, aksi buyback atau akuisisi bisa menjadi sinyal bagi investor untuk menilai ulang portofolio mereka.
EPAM sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas surat tersebut. Namun, dengan tekanan yang semakin nyata, dewan direksi harus segera mengambil keputusan. Pertanyaannya, akankah EPAM mengikuti jejak UniFirst dan mencari pembeli, atau justru memilih memperkuat posisi melalui buyback besar-besaran? Keputusan ini akan menentukan nasib perusahaan di tengah era disrupsi AI.



