Aksi Licin di Chinatown: Pria India Sembunyikan Berlian S$200.000 dalam Mulut, Berakhir di Penjara
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria India dijatuhi hukuman 26 bulan penjara di Singapura karena mencuri berlian 4,95 karat dengan menyembunyikan tiruannya di mulut.
- Aksi pencurian di toko perhiasan Chinatown itu melibatkan replika berlian yang dibuat khusus di Surat, India, untuk mengelabui penjual.
- Hukuman ini menandai akhir dari skema pencurian yang terungkap setelah penjual curiga dan memeriksa batu yang diserahkan, memicu penangkapan di bandara.

Singapura, 1 September 2025 โ Seorang warga negara India, Serasiya Milan Ramnikbhai (30), harus menerima kenyataan pahit setelah divonis 26 bulan dua minggu penjara atas perannya dalam aksi pencurian berlian senilai hampir S$200.000 di kawasan Chinatown. Modusnya terbilang nekat: menyembunyikan replika berlian di dalam mulut, lalu menukarnya dengan batu asli di hadapan manajer toko perhiasan.
Serasiya mengaku bersalah atas tuduhan pencurian dengan niat bersama. Rekannya, Mangroliya Manojkumar Kurjibha (41), telah lebih dulu menerima hukuman serupa pada Juli lalu. Keduanya merancang skema ini dengan memesan tiruan berlian dari Surat, India, yang dibuat menyerupai spesifikasi dan nomor seri berlian target milik Dianoche Diamonds Jewelry.
Menurut pengacara Serasiya, Amarick Gill, Mangroliya adalah otak di balik rencana ini. Ia yang mencari pemasok berlian palsu, mengidentifikasi toko sasaran, memesan tiket pesawat, dan mengatur akomodasi. Mangroliya juga yang menginstruksikan Serasiya untuk menyembunyikan tiruan berlian di mulut dan melakukan penukaran dengan imbalan uang.
Keduanya tiba di Singapura pada 19 Juni dengan niat mencuri berlian 4,95 karat yang ditaksir US$154.000. Sekitar pukul 15.00, mereka meminta melihat batu mulia tersebut. Mangroliya sengaja mengalihkan perhatian manajer penjualan dengan meminta diperlihatkan beberapa item, sementara Serasiya memuntahkan berlian palsu dan menukarnya dengan yang asli, lalu menyembunyikan batu itu di mulutnya. Aksi ini terekam jelas oleh kamera pengawas.
Setelah itu, Mangroliya berpura-pura akan mempertimbangkan pembelian dan meninggalkan toko bersama Serasiya. Mereka kembali ke hotel dan memesan penerbangan ke India malam itu juga. Namun, kecurigaan manajer penjualan yang memeriksa berlian yang diserahkan membuat rencana mereka gagal. Keduanya ditangkap di Bandara Changi saat mencoba melewati imigrasi, dan berlian asli ditemukan di dalam tas ransel Serasiya.
Jaksa penuntut meminta hukuman yang sama dengan Mangroliya berdasarkan prinsip kesetaraan, dengan alasan tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kesalahan mereka. Pengacara Serasiya juga meminta hukuman serupa, dengan menyebut kliennya adalah tulang punggung keluarga yang memiliki anak berusia enam bulan dan mengelola toko tekstil kecil. Ia menambahkan bahwa Serasiya tidak memiliki pengetahuan tentang perdagangan batu mulia, dan rencana tersebut sepenuhnya digagas oleh Mangroliya yang bekerja di industri permata.
Kasus ini menyoroti meningkatnya kecanggihan aksi kriminal di kawasan Asia Tenggara, di mana pencurian tidak lagi mengandalkan kekerasan, melainkan perencanaan dan eksekusi yang detail. Bagi pelaku kejahatan, ini menjadi pengingat bahwa teknologi pengawasan dan ketelitian petugas keamanan tetap menjadi penghalang yang sulit ditembus.
Di Indonesia, kasus serupa pernah terjadi di kawasan pertokoan emas, meskipun dengan modus yang berbeda. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi pelaku usaha perhiasan untuk lebih waspada terhadap pembeli yang mencurigakan dan memanfaatkan teknologi verifikasi untuk memastikan keaslian barang. Pertanyaannya, apakah industri perhiasan di Indonesia sudah cukup siap menghadapi modus pencurian yang semakin kreatif seperti ini?



