Pengakuan Mengejutkan Bos Osaka Metro: EV Bus Expo Dihentikan karena 'Terburu-buru'
Baca dalam 60 detik
- Direktur Utama Osaka Metro yang baru, Kakumoto Keiji, mengakui kegagalan verifikasi keamanan sebelum mengoperasikan bus listrik buatan EV Motors Japan di ajang Expo 2025.
- Keputusan penghentian operasional bus EV tersebut memicu pertanyaan tentang efektivitas pengawasan dan standar keselamatan transportasi umum di Jepang.
- Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang tengah gencar mengadopsi kendaraan listrik, terutama untuk moda transportasi massal.

Direktur Utama Osaka Metro yang baru dilantik, Kakumoto Keiji, angkat bicara terkait penghentian operasional bus listrik (EV) yang digunakan selama perhelatan Osaka-Kansai Expo. Dalam wawancara eksklusif dengan harian Mainichi Shimbun, ia mengakui adanya kelalaian dalam proses verifikasi keamanan kendaraan yang diproduksi oleh perusahaan rintisan EV Motors Japan (EVMJ). Pengakuan ini menjadi sorotan tajam, mengingat proyek tersebut merupakan bagian dari strategi besar pemerintah kota Osaka dalam mempromosikan transportasi ramah lingkungan.
Kakumoto, yang baru menjabat sejak Juni lalu, menyatakan bahwa keputusan untuk terus menggunakan bus EV tersebut diambil tanpa melakukan evaluasi mendalam. "Kami terlalu fokus pada target penggunaan EV di Expo, sehingga mengabaikan prosedur keselamatan yang semestinya," ujarnya. Padahal, menurut pengakuannya, sudah ada peringatan dari petugas lapangan mengenai potensi risiko, namun aspirasi tersebut tenggelam oleh ambisi proyek. Kondisi ini menggambarkan dilema klasik antara kecepatan inovasi dan kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Bus listrik yang dipasok dari pabrik EVMJ di Kitakyushu itu sejatinya direncanakan untuk dialihfungsikan sebagai bus rute reguler setelah masa Expo berakhir. Namun, dengan dihentikannya operasional, nasib puluhan unit kendaraan tersebut menjadi tidak jelas. Pertanyaan besar pun muncul: apakah kegagalan ini akan mengubah peta jalan elektrifikasi transportasi umum di Jepang? Sebelum insiden, Osaka Metro telah berkomitmen untuk mengintegrasikan lebih banyak kendaraan listrik ke dalam armadanya sebagai bagian dari target netralitas karbon pada 2050.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin yang relevan. Pemerintah Indonesia tengah mendorong adopsi kendaraan listrik, termasuk untuk transportasi publik seperti TransJakarta dan bus sekolah. Program konversi dan pengadaan bus listrik terus digalakkan, namun pengawasan terhadap produsen, terutama yang masih baru, sering kali longgar. Insiden di Osaka menunjukkan bahwa verifikasi teknis yang ketat dan uji jalan yang memadai adalah harga mati, terlepas dari siapa produsennya. Jika tidak, risiko kecelakaan dan kegagalan operasional justru akan menghambat transisi energi yang diidamkan.
Para analis transportasi menilai bahwa pengakuan Kakumoto merupakan langkah berani namun terlambat. "Seharusnya ada mekanisme check and balance yang lebih kuat sejak awal, bukan hanya mengandalkan asumsi bahwa kendaraan yang lolos impor pasti aman," kata seorang pengamat kebijakan publik di Tokyo. Ia menambahkan bahwa kasus ini akan menjadi preseden bagi kota-kota lain di Jepang yang berencana mengadopsi teknologi serupa. Sementara itu, EVMJ sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai penghentian tersebut, meskipun perusahaan itu sebelumnya mengklaim produknya telah memenuhi standar keselamatan Jepang.
Ke depan, Osaka Metro berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh armada, termasuk bus konvensional, dan membentuk tim independen untuk mengawasi proses pengadaan. Pertanyaannya, mampukah institusi sebesar Osaka Metro memulihkan kepercayaan publik yang sempat terkoyak? Atau akankah insiden ini menjadi duri dalam daging bagi ambisi elektrifikasi Jepang? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan transportasi di negeri sakura, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara berkembang yang sedang mengejar ketertinggalan teknologi.



