Pasar Lokal Lesu, Produsen Motor Listrik Singapura Beralih ke Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Adopsi motor listrik di Singapura masih sangat rendah, hanya 433 unit atau 0,2% dari total populasi motor, mendorong perusahaan lokal mencari pasar di negara dengan penggunaan motor lebih masif.
- Perusahaan seperti Kilats dan Charged Asia telah berekspansi ke Indonesia, memanfaatkan pasar motor terbesar kedua di dunia, sambil tetap menjadikan Singapura sebagai pusat pendanaan dan inovasi.
- Strategi baru mulai diarahkan ke segmen korporasi dan pengisian daya plug-in, dengan harapan adopsi massal akan menyusul dalam 2-3 tahun ke depan.

Di tengah lesunya pasar domestik, sejumlah produsen motor listrik asal Singapura justru menemukan lahan subur di Indonesia. Dengan populasi motor yang mencapai 112โ139 juta unit, Indonesia menjadi pasar ekspansi utama bagi perusahaan seperti Kilats dan Charged Asia, yang telah mengoperasikan ribuan unit kendaraan listrik roda dua di sana.
Fenomena ini muncul saat adopsi motor listrik di Singapura masih tertatih-tatih. Data resmi menunjukkan hanya 433 motor listrik yang beroperasi di jalanan Singapura per Juli, atau setara 0,2 persen dari total populasi motor. Sebagai perbandingan, mobil listrik telah mencapai lebih dari 69.000 unit atau 10 persen dari populasi mobil. Ketimpangan ini menggambarkan tantangan struktural yang dihadapi industri motor listrik di negara kota tersebut.
Kilats, perusahaan rintisan yang didirikan oleh Vincent Yap dan Sheldon Lee, telah beroperasi di Indonesia sejak 2024. Mereka menyewakan hampir 700 motor listrik kepada Grab di Bali dan Bandung, didukung 44 stasiun penukaran baterai. Yap menyebut Singapura sebagai "springboard" untuk ekspansi regional, dengan rencana masuk ke Thailand akhir tahun ini serta Vietnam dan Filipina pada 2027. Sementara itu, Charged Asia mengklaim telah menempatkan lebih dari 5.000 motor listrik di Indonesia dan menargetkan 300.000 unit di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.
Strategi yang diambil perusahaan-perusahaan ini adalah fokus pada pasar korporasi terlebih dahulu. Mereka menyasar perusahaan logistik, layanan antar cepat, dan entitas pemerintah yang peka terhadap efisiensi biaya dan target keberlanjutan. Menurut Sheldon Lee, model bisnis-ke-bisnis (B2B) menjadi kunci adopsi jangka pendek karena penghematan bahan bakar langsung terasa. "Dengan lebih banyak motor listrik yang digunakan oleh bisnis, visibilitasnya akan meningkat dan pada akhirnya membangun kepercayaan konsumen," ujarnya.
Namun, tidak semua perusahaan sepakat dengan pendekatan penukaran baterai. Kilats justru menghindari infrastruktur swap di Singapura karena kondisi jalan tol yang menuntut baterai berkapasitas besar. Mereka lebih memilih pengisian daya plug-in yang memanfaatkan jaringan pengisian mobil listrik yang sudah ada. Leo Electric, misalnya, berencana meluncurkan model motor listrik yang bisa diisi di stasiun pengisian mobil listrik di Singapura tahun ini. Sebaliknya, Gogoro dan distributor lokalnya, Cycle & Carriage, tetap berpegang pada model penukaran baterai dengan tujuh stasiun yang tersebar di pulau tersebut.
Para pengamat menilai bahwa rendahnya adopsi motor listrik di Singapura juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Walter Theseira, ekonom transportasi dari Singapore University of Social Sciences, menjelaskan bahwa baterai motor listrik yang besar akan menambah bobot dan biaya, sehingga sulit bersaing dengan motor konvensional. Terence Fan dari Singapore Management University menambahkan bahwa pengguna motor tradisional cenderung memiliki anggaran terbatas dan enggan mengeluarkan biaya awal lebih tinggi, meskipun ada penghematan jangka panjang.
Pemerintah Singapura sendiri menargetkan 100 persen kendaraan energi bersih pada 2040, namun pengakuan dari Land Transport Authority (LTA) bahwa adopsi motor listrik masih "tahap awal" menunjukkan perlunya dorongan kebijakan yang lebih spesifik. Cycle & Carriage mendesak adanya insentif pajak atau hibah bagi operator armada untuk mempercepat transisi, seraya menekankan pentingnya mandat pemerintah agar segmen roda dua tidak tertinggal.
Bagi Indonesia, ekspansi perusahaan Singapura ini menghadirkan peluang transfer teknologi dan investasi di sektor transportasi hijau. Namun, tantangan seperti infrastruktur pengisian yang belum merata dan harga motor listrik yang masih tinggi tetap menjadi pekerjaan rumah. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat elektrifikasi kendaraan roda dua, atau justru akan menjadi pasar bagi produk asing tanpa pengembangan industri lokal yang signifikan?



