Jepang Uji Coba 'Kulkas Manusia' untuk Lawan Gelombang Panas Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan distribusi peralatan industri Jepang, Trusco Nakayama, telah menjual lebih dari 300 unit 'Do Hiemon Box' sejak April, dengan harga 1,5 juta yen atau sekitar Rp160 juta.
- Produk ini muncul di tengah rekor suhu panas di Jepang yang memicu kebijakan baru, termasuk istilah 'kokushobi' untuk suhu 40 derajat Celsius dan aturan ketat keselamatan kerja.
- Fenomena ini menjadi pelajaran bagi Indonesia, yang juga rentan terhadap gelombang panas, untuk mengadopsi teknologi serupa dan memperkuat perlindungan pekerja.

Di tengah teriknya musim panas Jepang yang memecahkan rekor, seorang pekerja gudang di kota Higashiosaka, Isao Tabuchi, menemukan cara baru untuk memulihkan diri: masuk ke dalam sebuah kotak berukuran bilik telepon yang menyemburkan udara dingin. Kotak ini, yang dijuluki 'kulkas untuk manusia', menjadi salah satu solusi inovatif yang ditawarkan perusahaan-perusahaan Jepang untuk melindungi pekerja dari sengatan panas ekstrem.
Produk bernama Do Hiemon Box ini baru diluncurkan tahun ini oleh Trusco Nakayama, distributor peralatan industri yang berbasis di Tokyo. Sejak April, perusahaan telah menjual lebih dari 300 unit dengan harga 1,5 juta yen (sekitar Rp160 juta). Peminatnya berasal dari lokasi konstruksi, pabrik, dan gudang, dengan rencana ekspansi ke lapangan golf dan stadion bisbol. Namun, tidak semua pihak awalnya yakin. China Yamamoto, agen penjualan perusahaan, mengakui ada keraguan internal karena ukurannya yang besar dan harganya yang mahal.
Lonjakan permintaan ini tidak lepas dari kondisi iklim Jepang yang semakin tidak bersahabat. Tahun 2025 menjadi musim panas terpanas dalam sejarah Jepang, dan tahun ini kantor meteorologi setempat menciptakan istilah baru, 'kokushobi' atau 'hari yang sangat panas', untuk suhu di atas 40 derajat Celsius. Dampaknya nyata: hampir 120 orang meninggal akibat panas di Tokyo dalam sebulan hingga pertengahan Agustus, dan sekitar 63.000 orang di seluruh negeri membutuhkan perawatan darurat.
Pemerintah Jepang pun merespons dengan kebijakan yang lebih ketat. Sejak tahun lalu, perusahaan diwajibkan menyediakan pakaian yang sesuai, seperti jaket dengan kipas internal, ruang istirahat ber-AC, dan kanopi pelindung. Bahkan, pegawai negeri di Tokyo kini diizinkan bekerja dengan celana pendek, sebuah langkah yang dianggap revolusioner di negara yang masih kaku dengan aturan berpakaian formal.
Menurut survei Teikoku Databank pada Juli, 50 persen perusahaan di Jepang mengaku operasionalnya terganggu oleh panas ekstrem, dan hampir 88 persen telah meningkatkan upaya untuk membantu pekerja beradaptasi. Investasi dalam langkah-langkah penanggulangan panas menjadi krusial, tidak hanya untuk mempertahankan tenaga kerja yang ada, tetapi juga untuk menarik pekerja baru. Yutaka Kono, dari perusahaan grosir spesialis Konoe, mengungkapkan bahwa konsep 'kulkas manusia' ini menawarkan cara instan untuk menurunkan suhu tubuh ke tingkat aman, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh AC konvensional di area terbuka.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin yang relevan. Meskipun Indonesia beriklim tropis, gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim menuntut kesiapsiagaan serupa. Data BMKG menunjukkan tren kenaikan suhu ekstrem di beberapa wilayah, dan sektor konstruksi serta industri yang banyak mempekerjakan pekerja lapangan rentan terhadap dampaknya. Adopsi teknologi seperti Do Hiemon Box bisa menjadi alternatif, meski harganya masih mahal. Namun, yang lebih mendesak adalah penerapan regulasi keselamatan kerja yang lebih tegas, seperti yang dilakukan Jepang, serta edukasi publik tentang bahaya heatstroke.
"Saya benar-benar terkejut dengan konsep baru memasukkan orang ke dalam semacam kulkas, dan saya menemukan bahwa dengan masuk ke dalam kulkas itu, tubuh seseorang dapat didinginkan dalam sekejap ke suhu yang aman," ujar Yutaka Kono, menggambarkan daya tarik produk tersebut.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah teknologi ini akan diadopsi luas di Jepang, tetapi juga apakah negara-negara tropis seperti Indonesia akan belajar dari pengalaman ini. Dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, investasi dalam adaptasi iklim bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Apakah Indonesia siap menghadapi tantangan ini?



