Sentosa Cove House: Arsitek Pan Yi Cheng dan Teknik Jepang Shou Sugi Ban yang Mengubah Hunian Tua Menjadi Oase Tenang
Baca dalam 60 detik
- Arsitek Pan Yi Cheng menggunakan teknik kuno Jepang, shou sugi ban, untuk merenovasi bungalo di Sentosa Cove, mengubah fasad usang menjadi kulit baru yang tahan cuaca.
- Material Accoya yang dibakar tidak hanya memberi estetika monokrom, tetapi juga menjawab tantangan iklim tropis Singapura yang lembap, menawarkan alternatif berkelanjutan.
- Renovasi ini menegaskan tren arsitektur yang mengutamakan material autentik dan desain tenang, relevan bagi pemilik rumah di Indonesia yang mulai melirik teknik serupa.

Arsitek Pan Yi Cheng, pendiri Type0 Architecture, berhasil mengubah sebuah bungalo tua di Sentosa Cove menjadi hunian yang memancarkan ketenangan melalui teknik tradisional Jepang, shou sugi ban—metode membakar permukaan kayu untuk menciptakan lapisan arang pelindung. Rumah berusia sekitar 20 tahun itu sebelumnya memiliki fasad campuran beton dan kayu lapuk yang tidak menarik bagi pemilik barunya. Dengan membuang material usang dan hanya menyisakan struktur utama, Pan menyelimuti bangunan dengan panel kayu Accoya yang dibakar, menghasilkan tampilan hitam legam yang kontras dengan interior kaca yang terbuka ke arah air.
Keputusan untuk menggunakan shou sugi ban bukan tanpa pertimbangan. Teknik yang berasal dari periode Edo (1603–1868) ini dikenal mampu meningkatkan ketahanan kayu terhadap kelembapan, serangga, dan cuaca ekstrem. Di Singapura yang beriklim tropis lembap, kekhawatiran akan daya tahan material sering kali menjadi penghalang. Namun, Pan menjelaskan bahwa Accoya—kayu yang dimodifikasi secara asetilasi—menawarkan durabilitas lebih baik dibanding kayu tropis konvensional. "Mereka bertahan selama puluhan tahun," ujarnya, seraya menambahkan bahwa biaya shou sugi ban lebih murah daripada batu, meski sedikit lebih mahal dari kayu keras tropis.
Pemilik rumah, seorang profesional berusia awal 30-an, mengaku terinspirasi oleh arsitektur Jepang yang ia kagumi selama berkunjung ke sana. "Ada kepercayaan diri yang tenang dalam cara material digunakan dan ruang disusun," katanya. Keinginannya untuk menciptakan suasana privat dan hening menjadi pendorong utama renovasi ini. Baginya, Sentosa Cove menawarkan ketenangan yang jarang ditemukan di pusat kota Singapura, dengan udara sejuk, pemandangan air, dan rutinitas jalan pagi di marina. Meski terasa jauh dari hiruk-pikuk, distrik bisnis pusat hanya berjarak singkat.
Renovasi ini tidak hanya mengubah tampilan luar, tetapi juga tata letak interior. Pan membuka ruang agar lebih mengalir, dengan bar counter yang menghadap patio, kolam renang, dan bonsai artistik. Area makan dan ruang keluarga kini seperti paviliun kaca yang mengapit patio. Di lantai dua, kamar utama mengalami perubahan besar: plafon palsu dibongkar untuk menciptakan lounge pribadi, sementara atap lengkung yang tadinya tersembunyi kini menjadi fitur menonjol. Tangga spiral berplester menghubungkan kamar tidur dengan lounge, dan bathtub luar ruangan diapit oleh bukaan yang membingkai kayu hangus dan taman.
Pan, yang juga mendirikan studio eksperimental Superstructure, menekankan pentingnya material autentik. "Saya memberi tahu klien bahwa mereka akan tinggal lama. Jika pengalaman material tidak sesuai estetika—misalnya ubin yang meniru kayu—lama-lama mereka tidak akan menyukainya. Kayu harus terasa hangat di kaki," tuturnya. Kekhawatirannya terhadap deforestasi akibat penebangan liar juga mendorongnya mencari alternatif seperti Accoya, yang lebih ramah lingkungan. Meski beberapa pemilik rumah memilih aluminium bertekstur kayu, Pan tetap setia pada material alami yang memberi kehangatan dan karakter.
Bagi pembaca di Indonesia, tren ini relevan mengingat maraknya pembangunan hunian di daerah tropis seperti Jakarta, Bali, atau Surabaya. Arsitek lokal dapat mengadopsi teknik shou sugi ban untuk menjawab tantangan iklim serupa, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kayu tropis yang rawan ilegal logging. Namun, perlu diingat bahwa ketersediaan Accoya di Indonesia mungkin terbatas, sehingga eksplorasi material lokal yang dimodifikasi serupa bisa menjadi alternatif. Pertanyaan yang muncul: akankah arsitek Indonesia berani mengambil langkah berani seperti Pan, mengutamakan material autentik demi keberlanjutan dan kenyamanan jangka panjang?



