Jadwal Tengah Malam dan Sengketa Uang: Mengapa Tenis Grand Slam Masih Kepayahan?
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan putaran pertama AS Terbuka antara Venus Williams dan Sofia Kenin baru dimulai setelah tengah malam, memicu kritik atas manajemen waktu turnamen.
- Sesi malam di tiga Grand Slam dirancang untuk menggandakan pendapatan tiket dan hak siar, dengan ESPN membayar miliaran dolar untuk hak siar AS Terbuka.
- Tekanan pemain mendorong pembentukan dewan penasihat Grand Slam, namun perubahan jadwal berisiko mengurangi pendapatan yang berujung pada penurunan hadiah uang.

Pukul 02.00 dini hari waktu New York, Sofia Kenin akhirnya menuntaskan kemenangan straight set atas Venus Williams di lapangan Arthur Ashe. Laga yang sedianya menjadi panggung perpisahan Williams sebagai petenis tunggal di hadapan publik sendiri itu molor dari jadwal semula—bukan karena drama lima set, melainkan karena pertandingan sebelumnya, kekalahan Novak Djokovic dari Mariano Navone, berlarut hingga empat jam lebih. Williams, yang kalah untuk ke-15 kalinya beruntun di nomor tunggal, menyebut penjadwalan ini "tidak ideal" dan merugikan kondisi fisik kedua pemain.
Kejadian di Flushing Meadows ini bukan kasus terisolasi. Kritik terhadap jadwal larut malam di turnamen Grand Slam sudah menjadi keluhan klasik para petenis. Tiga dari empat Grand Slam—Australia Terbuka, Roland Garros, dan AS Terbuka—menerapkan sistem sesi ganda: siang dan malam. Di AS Terbuka, dua pertandingan unggulan (satu putra, satu putri) dijadwalkan mulai pukul 19.00 waktu setempat. Logikanya sederhana: dengan membagi hari menjadi dua sesi, penyelenggara bisa menjual tiket dua kali untuk kursi yang sama. Tiket malam pun dibanderol lebih mahal karena dianggap lebih menarik bagi penonton yang baru pulang kerja dan biasanya menampilkan pemain papan atas.
Daya tarik finansial ini juga merambah hak siar. ESPN, penyiar domestik AS Terbuka, meneken kontrak senilai 2,04 miliar dolar AS (sekitar Rp31 triliun) pada 2024 untuk menayangkan seluruh pertandingan hingga 2037—setara 170 juta dolar per tahun. Angka itu membuat penyelenggara enggan mengubah format yang sudah terbukti menguntungkan. Wimbledon, yang disiarkan BBC tanpa ketergantungan iklan, justru menerapkan aturan ketat: pertandingan dimulai pukul 11.00 dan harus berakhir pukul 23.00, apa pun hasilnya. Jika belum selesai, pemain melanjutkan keesokan harinya. Aturan ini memberi kepastian bagi pemain dan penonton yang bisa pulang dengan transportasi umum.
Direktur turnamen AS Terbuka, Stacey Allaster, membela kebijakan ini. Pada 2023, ia mengungkapkan bahwa opsi memajukan sesi malam ke pukul 18.00 atau mengurangi menjadi satu pertandingan sempat dipertimbangkan, tetapi ditolak karena dianggap tidak ramah bagi penggemar. "Salah satu realitas tenis adalah kami tidak punya batas waktu mulai dan selesai. Bisa pendek, bisa lima jam," katanya. Namun, ketidakpastian inilah yang menjadi biang keladi. Dua pertandingan panjang beruntun di lapangan yang sama bisa membuat laga kedua berakhir pukul 03.00. Penonton yang harus bekerja esok hari enggan bertahan, dan tribun 23.933 kursi tampak kosong saat Williams meninggalkan lapangan untuk terakhir kalinya sebagai pemain tunggal.
Bagi para petenis, jadwal larut malam bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman serius bagi performa dan kesehatan. Coco Gauff, juara AS Terbuka 2023, pernah mengungkapkan bahwa setelah pertandingan selesai pukul 03.00, pemain masih harus menjalani konferensi pers, mandi, makan, dan perawatan. "Kemungkinan besar Anda baru tidur pukul 05.00 atau 06.00, bahkan 07.00. Itu tidak sehat dan tidak adil," ujarnya. Gangguan ritme sirkadian, jadwal makan, dan pemanasan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Persoalan jadwal ini hanyalah satu sisi dari ketegangan yang lebih besar antara pemain dan penyelenggara Grand Slam. Para petenis menuntut pembagian pendapatan yang lebih adil, dengan menyoroti minimnya waktu pemulihan, beban media yang meningkat, dan kontribusi dana pensiun. Aksi protes sempat terjadi di Roland Garros dan Wimbledon, ketika sejumlah pemain top seperti Gauff, Aryna Sabalenka, dan Jannik Sinner membatasi kewajiban media mereka. Tekanan ini membuahkan hasil: Wimbledon dan AS Terbuka menaikkan hadiah uang untuk 2026 dan membentuk dewan penasihat pemain Grand Slam yang akan diluncurkan setelah AS Terbuka tahun ini.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat semakin banyaknya petenis Asia Tenggara yang menembus turnamen besar. Jika jadwal larut malam terus berlanjut, petenis dari kawasan dengan perbedaan zona waktu signifikan akan semakin dirugikan, baik dari sisi performa maupun pemulihan. Federasi tenis nasional bisa mendorong kebijakan yang lebih ramah pemain, seperti pembatasan jam mulai pertandingan, sebagai bagian dari advokasi di forum internasional.
Pertanyaannya, mampukah dewan penasihat yang baru terbentuk memaksa perubahan jadwal tanpa mengorbankan pendapatan? Jika ya, risiko penurunan minat penyiar dan berkurangnya hadiah uang menjadi konsekuensi yang harus dihadapi. Tarik-menarik antara kepentingan finansial dan hak-hak pemain ini tampaknya masih akan menjadi pekerjaan rumah panjang bagi dunia tenis.



