Gentengisasi: Jalan Baru Prabowo Dongkrak UMKM Lokal Lewat Atap Rumah Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Kementerian PKP akan melaporkan program gentengisasi kepada Presiden Prabowo, dengan komitmen awal pembelian produk UMKM senilai Rp3 miliar.
- Inisiatif ini mengalihkan belanja material perumahan ke sentra produksi lokal seperti Jatiwangi dan Plered, sekaligus menuntut standardisasi kualitas.
- Ke depan, kebijakan ini berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang terintegrasi dengan program prioritas perumahan nasional.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, segera membawa program "gentengisasi" ke meja Presiden Prabowo Subianto—sebuah langkah yang tidak hanya menargetkan pemenuhan kebutuhan material perumahan rakyat, tetapi juga dirancang sebagai mesin penggerak bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah. Rencana pelaporan tersebut disampaikan Ara—sapaan akrabnya—di Jakarta, Senin, menegaskan bahwa Presiden memiliki perhatian khusus terhadap inisiatif ini.
Program yang telah melalui tahap uji coba di Plered, Purwakarta, dan Jatiwangi, Majalengka, ini bukan sekadar wacana. Data awal menunjukkan komitmen transaksi telah menembus angka Rp3 miliar, dengan pengiriman perdana sebanyak 24 truk genteng dari Jatiwangi ke sejumlah proyek perumahan. Angka ini menjadi sinyal bahwa pemerintah serius mengarahkan belanja negara ke produk lokal, sekaligus menjawab kritik selama ini tentang program perumahan yang kurang menyentuh sektor usaha kecil.
Yang menarik, kebijakan ini lahir dari arahan langsung Presiden Prabowo agar pembangunan rumah rakyat tidak hanya mengejar target fisik, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi ekonomi warga. Dengan kata lain, gentengisasi adalah upaya konkret untuk memastikan setiap proyek pemerintah memiliki dampak sosial-ekonomi yang terukur—sebuah pergeseran paradigma dari sekadar pembangunan infrastruktur menjadi instrumen pemerataan.
Namun, tantangan terbesar bukan pada volume produksi, melainkan pada kualitas. Ara menekankan bahwa UMKM harus mampu memenuhi standar industri, baik dari sisi estetika, durabilitas, maupun harga. "Kita sudah persiapkan UMKM-UMKM, tapi ada kualitasnya, standardisasinya, yaitu kehandalan dari perindustrian," ujarnya. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Kementerian Perindustrian dan pemerintah daerah untuk melakukan pembinaan teknis agar produk lokal tidak hanya laku karena kebijakan, tetapi juga karena daya saing.
Bagi Indonesia, program ini memiliki implikasi yang luas. Pertama, ia menciptakan pasar terjamin bagi UMKM di sentra-sentra produksi, yang selama ini kerap kesulitan menembus rantai pasok proyek besar. Kedua, ia mendorong hilirisasi industri kerakyatan—dari sekadar produsen tradisional menjadi pemasok resmi pemerintah. Ketiga, jika berhasil, model ini bisa direplikasi untuk komoditas lain seperti bata ringan, keramik, atau furnitur, sehingga dampaknya tidak terbatas pada sektor perumahan.
Kendati demikian, keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi. Pengalaman program serupa di masa lalu sering kali terhambat oleh lemahnya pengawasan mutu dan fluktuasi permintaan. Pertanyaannya, akankah Kementerian PKP mampu membangun sistem jaminan kualitas yang ketat, atau justru terjebak pada sekadar memenuhi kuota? Ara sendiri mengakui bahwa proses pembinaan masih berjalan, dan ia optimistis uji coba selama beberapa bulan terakhir telah memberikan gambaran tentang apa yang perlu diperbaiki.
"Kami sudah melakukan uji coba berapa bulan lalu di Plered, Purwakarta dan di Jatiwangi, Majalengka. Sesudah berapa bulan ini tentu saya percaya ada proses. Proses kualitas, ya estetika, harga, semua harus dibina sehingga UMKM kita juga bisa naik kelas," kata Maruarar.
Ke depan, publik akan mencermati bagaimana Presiden merespons laporan Ara dan apakah ada target nasional yang ditetapkan untuk program ini. Jika komitmen politik dan pendanaan berjalan seiring, gentengisasi bisa menjadi salah satu warisan kebijakan yang tidak hanya membangun rumah, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi dari bawah. Namun, jika gagal menjaga kualitas, program ini berisiko menjadi sekadar proyek simbolis yang tidak berkelanjutan. Semua mata kini tertuju pada langkah konkret pemerintah dalam beberapa pekan mendatang.



