Uji Coba Robot Penunjuk Arah di MRT Singapura: Akurat untuk Rute Sederhana, Tersendat di Lokasi Kompleks
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) menguji robot humanoid bernama Olly di Stasiun MRT Little India selama dua pekan untuk mengevaluasi potensi layanan penumpang.
- Dalam uji coba langsung, Olly berhasil memandu penumpang ke rumah sakit dan eskalator, tetapi gagal mengenali 'Tekka Centre' dan tidak bisa mengantar secara fisik ke tujuan.
- Kehadiran robot ini memicu diskusi tentang masa depan layanan transportasi publik berbasis AI, meski LTA menegaskan belum ada rencana penerapan permanen.

Seorang robot humanoid setinggi 1,27 meter dengan rompi visibilitas tinggi mulai bertugas di Stasiun MRT Little India, Singapura, sejak Senin (31/8). Robot bernama Olly ini menjadi perhatian para penumpang karena mampu menjawab pertanyaan dan memberikan arahan, meski hasil uji coba menunjukkan akurasi yang belum konsisten untuk permintaan yang lebih rumit.
Uji coba yang digagas Otoritas Transportasi Darat (LTA) ini berlangsung hingga 11 September, setiap hari kerja pukul 10.00โ12.00. Olly, yang dikembangkan perusahaan robotika asal China, Unitree Robotics, ditempatkan di area Downtown Line. LTA menyebut robot ini sebagai "anggota tim terbaru" yang dimaksudkan untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi AI dapat mendukung operasional transportasi umum dan meningkatkan pengalaman penumpang.
Dalam percobaan yang dilakukan jurnalis, Olly berhasil menjawab pertanyaan sederhana seperti jadwal kereta pertama dan terakhir. Namun, saat diminta menunjukkan arah ke Tekka Centre, robot sempat keliru dan salah mendengar sebagai "Teacher's Centre". Sebaliknya, ketika ditanya rute menuju KK Women's and Children's Hospital, Olly memberikan instruksi yang tepat dan bahkan menawarkan diri untuk mengantar hingga gerbang tiket.
Menariknya, langkah Olly jauh lebih lambat dibandingkan robot humanoid yang berlari kencang dalam World Humanoid Robot Games di China beberapa waktu lalu. Robot ini berjalan hati-hati, langkah demi langkah, dan sempat meminta penumpang untuk tidak menghalangi jalannya. Beberapa pengunjung, terutama anak-anak, tampak antusias dan mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka.
LTA menegaskan uji coba ini dilakukan di luar jam sibuk untuk melihat performa robot di stasiun yang ramai serta reaksi publik. "Belum ada rencana langsung untuk menerapkannya," kata pihak LTA, seraya menambahkan bahwa Little India dipilih karena dekat dengan kantor pusat LTA. Selama masa uji coba, Olly akan diawasi petugas untuk memastikan kondisinya tetap prima.
Seorang pensiunan asal Amerika Serikat, Steve Walker (69), sengaja datang ke stasiun untuk melihat langsung robot yang sebelumnya hanya ia lihat di layar kaca. Ia mengaku terkesan dengan kemampuan Olly menjaga keseimbangan saat berjalan, namun menyoroti kelemahan dalam menyaring kebisingan latar. "Mikrofon directional yang mengarah ke pembicara akan lebih baik," ujarnya. Sementara itu, seorang manajer konstruksi, Liu Hai Rui, menceritakan putrinya yang awalnya ragu mendekati robot karena pernah melihat robot humanoid melakukan gerakan bela diri di televisi.
Kehadiran robot penunjuk arah di stasiun MRT memicu pertanyaan tentang masa depan interaksi manusia-mesin di ruang publik. Bagi Indonesia, uji coba ini menjadi cermin bagaimana AI dapat diadopsi dalam layanan transportasi, meski masih ada pekerjaan rumah terkait akurasi dan adaptasi terhadap lingkungan yang bising. Jika LTA berhasil menyempurnakan teknologi ini, bukan tidak mungkin negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, akan melirik solusi serupa untuk meningkatkan pelayanan transportasi massal.
Pertanyaan yang menggantung: akankah robot seperti Olly menjadi pemandu wisata atau asisten penumpang yang lazim di stasiun-stasiun besar Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan? Atau justru kehadirannya akan memicu perdebatan tentang penggantian tenaga manusia? Uji coba ini baru permulaan, dan hasilnya akan menentukan arah kebijakan transportasi cerdas di kawasan.



