29 Tahun Kepergian Diana: Charles Spencer Ungkap Luka yang Tak Pernah Sembuh
Baca dalam 60 detik
- Charles Spencer, adik Putri Diana, kembali mengenang kepergian sang kakak di hari peringatan ke-29, dengan mengunggah foto bendera setengah tiang di Althorp House.
- Dalam sebuah podcast, ia mengaku selalu berusaha sibuk pada 31 Agustus dan merasa tidak nyaman saat orang asing menceritakan 'di mana mereka saat Diana wafat'.
- Earl Spencer juga menyoroti bagaimana Diana tetap relevan bagi banyak orang, terutama perempuan, karena kisah hidupnya yang penuh liku dan mudah dipersonalisasi.

Tiga dekade hampir berlalu, namun jejak duka atas kepergian Putri Diana tak pernah benar-benar pudar. Pada peringatan ke-29 wafatnya, adiknya, Charles Spencer, kembali menyampaikan penghormatan dengan cara yang sederhana namun sarat makna: mengibarkan bendera setengah tiang di kediaman masa kecil mereka, Althorp House, dan menuliskan keterangan singkat yang menusuk, "31 Agustus. Hari yang paling tidak kusukai."
Diana, yang wafat pada usia 36 tahun akibat kecelakaan mobil di terowongan Pont de l'Alma, Paris, pada 31 Agustus 1997, meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya, terutama sang adik yang kini berusia 62 tahun. Dalam wawancara dengan podcaster Gyles Brandreth pada Oktober lalu, Charles mengaku selalu mencoba mengisi hari itu dengan kesibukan agar tidak larut dalam kesedihan. Namun, ada satu hal yang justru kerap membuatnya risih: orang asing yang tiba-tiba bercerita tentang di mana mereka berada saat mendengar kabar duka tersebut.
"Saya yakin itu membantu mereka, tapi tidak sepenuhnya membantu orang lain," ujar Charles, menyiratkan bahwa berbagi memori traumatis kepada keluarga korban tidak selalu tepat. Ia bahkan menceritakan pengalaman konyol dengan seorang wanita dari South Dakota yang mengaku tumbuh bersama Diana, padahal sang putri dimakamkan di pulau kecil di tengah danau Althorp Estate. "Anda hanya perlu tersenyum. Tidak masalah," katanya, menunjukkan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai bentuk ekspresi belasungkawa publik.
Fenomena 'pemujaan' terhadap Diana memang tak lekang oleh waktu. Gyles Brandreth, mantan anggota parlemen Inggris, mengungkapkan bahwa tetangganya masih memiliki 'altar kecil' untuk Diana di rumahnya, lengkap dengan lilin, bunga, dan foto-foto, yang dirawat sejak 1997. Charles menanggapinya dengan takjub, "Luar biasa, bukan?" Ia pun mencoba menjelaskan mengapa Diana begitu dicintai: "Dia seperti horoskop. Setiap orang bisa mengambil bagian dari kisahnya dan merasa terhubung."
Bagi masyarakat Indonesia, ketertarikan pada kisah Diana sering kali beririsan dengan budaya populer dan pemberitaan media yang masif. Kisah hidupnya yang penuh liku—pernikahan yang retak, perjuangan melawan bulimia, hingga kematian tragis—menjadi cermin bahwa bahkan figur paling glamor pun bisa menyimpan kepedihan. Di era media sosial saat ini, narasi tentang Diana terus hidup melalui berbagai konten, mulai dari dokumenter hingga unggahan keluarga kerajaan, menunjukkan bahwa daya tariknya melampaui batas geografis dan generasi.
Charles Spencer, yang akan merilis buku tentang kakaknya, juga mengutip sahabatnya, Julian Fellowes, yang menyebut bahwa seperti bintang film besar, ada sesuatu yang tidak bahagia dalam diri Diana yang memicu respons emosional. "Dia menikah dengan keluarga kerajaan, cantik, dan karismatik, tapi ada kesedihan yang mendalam," kata Fellowes. Hal ini menegaskan bahwa di balik senyumnya, Diana menyimpan luka yang justru membuatnya semakin manusiawi di mata publik.
Kini, di usia ke-29 kepergiannya, pertanyaan yang menggantung adalah: bagaimana warisan Diana akan terus diinterpretasikan oleh generasi yang tidak pernah hidup di zamannya? Akankah ia tetap menjadi simbol kerentanan dan kekuatan, atau perlahan memudar menjadi sekadar catatan sejarah? Bagi keluarga Spencer, hari itu akan selalu menjadi hari yang kelam, tetapi juga pengingat akan sosok yang pernah menyinari dunia dengan caranya sendiri.



