Adobe Buka Akses Gratis AI untuk 27 Juta Warga Arab Saudi, Komitmen Rp64 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Adobe menggandeng Kementerian Komunikasi Arab Saudi dan firma AI Humain untuk memberikan langganan gratis Firefly Standard dan Express Premium selama setahun.
- Nilai komitmen kerja sama ini menembus US$4 miliar, dengan model AI baru yang dirancang khusus untuk budaya Saudi dan mendukung prompt berbahasa Arab.
- Langkah ini menjadi strategi Adobe untuk memperluas basis pengguna di tengah persaingan ketat industri perangkat lunak desain global.

Raksasa perangkat lunak asal Amerika Serikat, Adobe, mengumumkan perluasan kemitraan strategis dengan Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi serta perusahaan AI Humain yang didukung dana kekayaan negara. Dalam kesepakatan senilai lebih dari US$4 miliar atau sekitar Rp64 triliun, Adobe akan memberikan akses gratis selama 12 bulan kepada lebih dari 27 juta warga dan penduduk Saudi untuk menggunakan layanan AI premium mereka.
Langkah ini bukan sekadar program corporate social responsibility. Adobe menargetkan pertumbuhan pengguna produk AI-nya yang menjadi tulang punggung bisnis di tengah gempuran kompetitor kecil yang agresif. Dengan memberikan akses gratis ke Adobe Firefly Standard dan Adobe Express Premium, perusahaan berharap dapat menciptakan kebiasaan baru di kalangan pengguna muda dan profesional kreatif di kawasan Timur Tengah.
Yang menarik, kerja sama ini juga mencakup pengembangan model generasi gambar baru yang diklaim "tuned to Saudi culture" atau disesuaikan dengan budaya Saudi. Model ini dikembangkan bersama Humain, perusahaan yang berada di bawah payung sovereign wealth fund Arab Saudi. Pengguna nantinya bisa membuat gambar yang selaras dengan nilai-nilai lokal hanya dengan menggunakan perintah dalam bahasa Arab.
Bagi Arab Saudi, kesepakatan ini sejalan dengan ambisi besar Visi 2030 yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Negeri minyak itu tengah gencar bertransformasi menjadi pusat teknologi dan inovasi, tidak lagi bergantung pada sektor energi. Dengan menyediakan alat AI canggih secara gratis, pemerintah berharap dapat mempercepat adopsi teknologi di kalangan masyarakat dan mendorong lahirnya talenta digital lokal.
Dari sisi waktu, akses gratis tersebut baru akan mulai digulirkan pada akhir 2026. Artinya, masih ada jeda hampir dua tahun sebelum program ini benar-benar berjalan. Sementara itu, kemitraan awal antara Adobe dan Humain sebenarnya sudah diumumkan sejak November tahun lalu, dengan fokus pada pengembangan alat pembuat konten berbahasa Arab untuk pasar regional yang lebih luas.
Bagi Indonesia, langkah Arab Saudi ini menjadi pelajaran menarik. Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong transformasi digital, termasuk adopsi AI di berbagai sektor. Namun, akses terhadap perangkat lunak berbayar seperti Adobe masih menjadi kendala bagi banyak pelaku kreatif tanah air. Jika Arab Saudi bisa mendapatkan kesepakatan senilai miliaran dolar, apakah Indonesia bisa melakukan hal serupa? Tentu saja dengan skala dan negosiasi yang berbeda.
Para analis menilai bahwa langkah Adobe ini merupakan strategi cerdas untuk mengunci pasar sebelum kompetitor seperti Canva atau Figma semakin menguasai pangsa pasar. Dengan memberikan akses gratis, Adobe tidak hanya membangun loyalitas merek, tetapi juga mengumpulkan data perilaku pengguna yang sangat berharga untuk pengembangan produk di masa depan.
Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah: apakah program gratis ini akan benar-benar dimanfaatkan secara optimal oleh warga Saudi? Atau justru akan menjadi proyek mercusuar yang hanya dinikmati segelintir orang? Keberhasilan program ini akan menjadi indikator seberapa serius Arab Saudi dalam mewujudkan Visi 2030, sekaligus menjadi tolok ukur bagi negara lain yang ingin mengadopsi model serupa.



