Kabut Asap Riau: Kasus ISPA Melonjak 1.960 dalam Sepekan, Sekolah Dialihkan ke Daring
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Riau mencapai 1.960 dalam sepekan terakhir, dengan puncak 634 kasus dalam sehari.
- Sebanyak 10 dari 12 kabupaten/kota terdampak, memicu kebijakan belajar daring dan kerja dari rumah untuk kelompok rentan.
- Otoritas kesehatan menyiagakan oksigen di puskesmas dan mengimbau penggunaan masker medis di tengah memburuknya kualitas udara.

Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menghantam Provinsi Riau, mendorong lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 1.960 kasus hanya dalam periode 19โ26 Agustus. Angka ini tersebar di 10 dari 12 kabupaten/kota di provinsi yang berada di pesisir timur Sumatra itu, dengan puncak kasus tercatat 634 dalam sehari.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, mengungkapkan bahwa lonjakan tertinggi terjadi pada Rabu (26/8), dan data terbaru menunjukkan Kota Pekanbaru menyumbang kasus terbanyak dengan 563 pasien, disusul Pelalawan 535, Siak 198, dan Kampar 195. Selain ISPA, dinas juga mencatat 43 kasus asma, 36 kasus iritasi kulit, serta 16 kasus konjungtivitis yang dipicu paparan asap.
Kondisi ini menjadi kekhawatiran serius, terutama bagi balita. Sepanjang tahun ini, Riau telah mencatat 237 kasus ISPA dan 629 kasus pneumonia pada anak di bawah lima tahun. Zulkifli menegaskan seluruh fasilitas kesehatan telah diinstruksikan untuk memperkuat edukasi publik tentang polusi udara dan penerapan protokol kesehatan sebagai langkah perlindungan.
Langkah mitigasi pun diambil di berbagai sektor. Tujuh wilayah telah memberlakukan pembelajaran daring, yaitu Pekanbaru, Bengkalis, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, Pelalawan, Rokan Hulu, dan Siak. Kebijakan serupa juga diterapkan untuk pegawai negeri sipil (PNS) di sejumlah daerah. Bupati Siak, Afni Zulkifli, mengizinkan PNS hamil dan mereka yang memiliki penyakit bawaan seperti asma untuk bekerja dari rumah (WFH).
Pelalawan bahkan telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan sejak 24 Agustus. Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pelalawan, Darlis, menyatakan PNS yang sedang hamil atau menyusui dapat bekerja dari rumah selama masa tanggap darurat. Sementara PNS lain tetap masuk kantor dengan wajib memakai masker, dan kegiatan senam pagi Kamis ditiadakan.
Dinas Kesehatan juga menyiagakan oksigen di setiap puskesmas sebagai pertolongan pertama bagi warga yang mengalami sesak napas. Zulkifli mengimbau warga untuk memantau kualitas udara melalui aplikasi resmi, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan menutup ventilasi rumah saat polusi tinggi. Ia menekankan perlunya perlindungan khusus bagi kelompok rentan: anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penyandang komorbid.
Sejalan dengan belajar daring, beberapa daerah juga menghentikan sementara pembagian makanan bergizi gratis bagi pelajar mulai 25 Agustus hingga Jumat. Wilayah terdampak meliputi Pekanbaru, Bengkalis, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Siak. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi risiko paparan asap bagi anak-anak.
โSetiap puskesmas memiliki layanan gawat darurat. Kami juga menyediakan oksigen siaga sebagai pertolongan pertama bagi mereka yang mengalami sesak napas,โ ujar Zulkifli.
Fenomena kabut asap lintas batas ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menguji kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi darurat lingkungan. Dengan musim kemarau yang diprediksi masih berlanjut, pertanyaannya kini: mampukah Riau dan pemerintah pusat memutus siklus tahunan ini sebelum korban jiwa berjatuhan?



