Gelombang Kenaikan Harga Pangan Jepang: 4.923 Produk Naik pada September, Rekor Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- Riset Teikoku Databank mencatat 4.923 item makanan dan minuman di Jepang akan naik harga pada September 2026, tiga kali lipat dibanding periode sama tahun lalu.
- Krisis Asia Barat memicu lonjakan harga minyak mentah dan nafta, yang berdampak pada biaya kemasan, logistik, dan bahan baku impor akibat pelemahan yen.
- Kenaikan harga diperkirakan berlanjut hingga Oktober 2026 dengan lebih dari 3.000 item, menekan daya beli konsumen dan berpotensi mempengaruhi pasar global.

Tokyo โ Sebanyak 4.923 produk makanan dan minuman di Jepang akan mengalami kenaikan harga pada September 2026, jumlah tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Angka ini lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut survei Teikoku Databank yang dirilis Senin (31/8). Lonjakan ini dipicu oleh krisis di Asia Barat yang mendongkrak harga minyak mentah dan nafta, bahan baku utama plastik untuk kemasan.
Kenaikan harga yang meluas ini tidak hanya disebabkan oleh biaya bahan baku. Pelemahan yen yang signifikan membuat harga barang impor semakin mahal, sementara biaya tenaga kerja dan logistik juga terus meningkat. Survei yang mencakup 195 produsen makanan besar ini menunjukkan bahwa tekanan biaya telah merambah ke berbagai sektor, mulai dari bumbu dapur hingga makanan beku.
Jika dibandingkan dengan September tahun lalu yang hanya mencatat 1.467 item, kenaikan tahun ini menunjukkan eskalasi yang tajam. Angka ini juga menjadi yang tertinggi sejak April 2023, ketika inflasi pangan mulai terasa di Jepang. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan harga yang sempat mereda kini kembali menguat, didorong oleh faktor eksternal yang sulit diprediksi.
Menariknya, di tengah gelombang kenaikan harga, beberapa jaringan convenience store justru menurunkan harga produk onigiri. Namun, langkah ini dinilai hanya bersifat sementara dan tidak akan diikuti oleh sektor manufaktur makanan secara luas. Juru bicara Teikoku Databank menegaskan, "Penurunan harga tidak mungkin menyebar di sektor manufaktur makanan."
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi sinyal penting. Jepang adalah salah satu mitra dagang utama Indonesia, dan kenaikan harga pangan di sana dapat mempengaruhi harga komoditas impor seperti makanan olahan dan bumbu. Selain itu, pelemahan yen yang berkepanjangan dapat mengubah pola investasi Jepang di Indonesia, terutama di sektor manufaktur. Pelaku usaha Indonesia perlu mencermati dinamika ini untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya bahan baku atau perubahan arus investasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tekanan inflasi ini akan mereda seiring stabilnya harga minyak dunia, atau justru semakin dalam karena konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Para analis memperkirakan bahwa biaya logistik dan tenaga kerja akan terus meningkat, sehingga harga pangan di Jepang berpotensi tetap tinggi dalam jangka menengah. Hal ini tentu akan berdampak pada daya beli konsumen Jepang dan bisa memicu perubahan kebijakan ekonomi di bawah kepemimpinan baru.



