Medvedev Bangkit di US Open: Kalahkan Gaston, Lupakan Mimpi Buruk 2025
Baca dalam 60 detik
- Daniil Medvedev melaju mulus ke putaran kedua US Open setelah menaklukkan Hugo Gaston dengan skor telak 6-4, 6-2, 6-4 di Arthur Ashe Stadium.
- Penampilan agresif Medvedev, dengan 34 winner berbanding 11 dari lawan, menunjukkan kebangkitan setelah tersingkir di babak pertama tahun lalu.
- Kemenangan ini mengirim sinyal kuat ke para pesaing, sekaligus menguji konsistensi Medvedev yang sempat mempertimbangkan pensiun dini ke pickleball.

NEW YORK โ Daniil Medvedev akhirnya membayar lunas kegagalannya di US Open tahun lalu. Unggulan ketujuh asal Rusia itu melibas petenis Prancis Hugo Gaston dalam tiga set langsung, 6-4, 6-2, 6-4, pada laga pembuka di Arthur Ashe Stadium, Minggu (30/8) waktu setempat. Kemenangan ini bukan sekadar lolos ke babak kedua, melainkan deklarasi bahwa 'hantu' kekalahan di putaran pertama 2025 telah terhapus tuntas.
Medvedev, yang pernah menjuarai turnamen ini pada 2021, tampil dengan agresivitas yang jarang terlihat belakangan ini. Ia melesakkan 34 winner, sementara Gaston hanya mampu membalas 11. Angka itu menunjukkan dominasi penuh, terutama setelah tahun lalu ia harus angkat koper lebih cepat dari perkiraan. Kini, dengan modal percaya diri yang pulih, Medvedev kembali menjadi ancaman serius di Flushing Meadows.
Pertandingan berjalan menarik sejak awal. Gaston, yang dikenal dengan permainan kreatif dan taktis, mencoba berbagai variasi seperti drop shot dan underarm serve. Namun, semua itu tidak mempan menghadapi Medvedev yang gesit dan bertubuh jangkung (198 cm). Kegagalan Gaston memanfaatkan peluang justru menjadi boomerang. Ia kehilangan break di game ketujuh set pertama setelah backhand-nya melenceng, dan kesalahan forehand di game ketiga set kedua semakin memperparah posisinya.
Medvedev, yang beberapa hari lalu sempat bercanda tentang beralih profesi ke pickleball setelah kalah di Winston-Salem, menunjukkan bahwa fokusnya tetap pada tenis. Ia menutup set ketiga dengan servis yang tidak bisa dikembalikan, memastikan kemenangan dalam waktu kurang dari dua jam. "Saya tahu dia akan banyak melakukan drop shot dan underarm serve. Saya harus bermain agresif dan menekannya sejak awal," ujar Medvedev seusai laga, seperti dikutip Reuters.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Medvedev ini menarik untuk disimak. Pasalnya, gaya bermainnya yang defensif namun agresif kerap menjadi bahan pembelajaran bagi petenis muda Tanah Air yang mulai merambah turnamen internasional. Selain itu, kebangkitan Medvedev menambah persaingan di papan atas tenis pria yang saat ini didominasi oleh Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner. Jika ia mampu menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin ia kembali menjadi kandidat juara.
Langkah Medvedev berikutnya adalah menghadapi pemenang duel antara Sebastian Gorzny, petenis Amerika yang mendapat wildcard, dan Raphael Collignon dari Belgia. Keduanya akan bertanding pada hari yang sama. Secara peringkat, Medvedev jelas lebih diunggulkan, tetapi ia tidak boleh lengah. Kegagalan tahun lalu adalah pelajaran berharga bahwa di Grand Slam, tidak ada lawan yang mudah.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Medvedev mampu mempertahankan performa ini hingga pekan kedua? Jika ya, maka ia akan menjadi salah satu favorit kuat untuk merebut gelar keduanya di New York. Namun, tenis selalu penuh kejutan, dan perjalanan masih panjang.



