Wenchang Bertaruh pada Ekonomi Antariksa: Dari Peluncuran Roket ke Pusat Industri dan Wisata
Baca dalam 60 detik
- Kota Wenchang di Hainan menggenjot transformasi dari sekadar lokasi peluncuran roket menjadi klaster industri antariksa, dengan 673 perusahaan dan pendapatan 23,53 miliar yuan pada 2024.
- Meski jumlah misi orbital melonjak menjadi 21 pada 2025, kota ini masih bergulat dengan tantangan seperti kegagalan misi, perubahan jadwal, dan rendahnya upah yang menyulitkan retensi talenta.
- Ke depan, Wenchang mengandalkan data satelit dan kerja sama dengan Hong Kong serta Singapura untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan, dengan target roket dan satelit produksi lokal diluncurkan dari sana pada 2035.

Wenchang, kota pesisir di Pulau Hainan yang selama ini dikenal dengan kebun kelapa dan ayam kampungnya, kini memasang target ambisius: menjadi pusat ekonomi antariksa kelas dunia. Pemerintah setempat tidak lagi puas hanya menjadi saksi roket meluncur ke angkasa; mereka ingin roket tersebut membawa gelombang investasi, lapangan kerja, dan pariwisata yang berkelanjutan. Dengan dua lokasi peluncuran—satu milik negara dan satu komersial—Wenchang adalah satu-satunya kota di China yang memiliki fasilitas ganda, dan ini menjadi modal utamanya.
Keunggulan geografis menjadi alasan utama. Terletak di sekitar 19 derajat lintang utara, Wenchang relatif dekat dengan khatulistiwa, sehingga rotasi bumi memberikan dorongan ekstra bagi roket saat lepas landas, seperti dijelaskan Gregg Li, profesor di Laboratorium Riset Luar Angkasa Universitas Hong Kong (HKU). Selain itu, posisinya yang berada di pesisir memudahkan transportasi roket melalui laut, berbeda dengan lokasi peluncuran lain seperti Jiuquan, Taiyuan, dan Xichang yang berada di pedalaman. Blaine Curcio, pendiri konsultan Orbital Gateway Consulting, menegaskan bahwa "Wenchang, yang berada di pesisir, memungkinkan roket diangkut dengan kapal."
Ambisi Wenchang tidak berhenti pada peluncuran. Walikota Cao Shuyu, dalam konferensi pers 17 Agustus, menargetkan kota ini menjadi "kota antariksa kelas satu internasional" dengan klaster industri yang berpengaruh global. Data resmi menunjukkan lompatan signifikan: jumlah perusahaan antariksa di Wenchang International Aerospace City melonjak dari 30 pada 2021 menjadi 673 pada April 2025, dengan pendapatan 23,53 miliar yuan (sekitar US$3,5 miliar) pada 2024—lebih dari dua kali lipat dari 10,7 miliar yuan pada 2022. Namun, profesor Xie Xiangxiang dari Universitas Hainan mengingatkan bahwa membangun ekosistem yang benar-benar berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur.
Kegagalan misi Long March 7A pada 10 Agustus menjadi pengingat keras. Roket tersebut hancur sekitar 85 detik setelah lepas landas, mengecewakan para penggemar dan wisatawan yang telah menanti. Curcio menilai dampaknya bergantung pada penyebab kegagalan; jika bukan masalah sistemik, prospek Wenchang sebagai pusat antariksa tidak akan terpengaruh. Namun, bagi wisatawan, tantangan yang lebih umum adalah perubahan jadwal yang sering terjadi. Maggie Zheng, wisatawan dari Chongqing, mengaku rencananya kacau saat peluncuran diundur sehari. "Kami sudah memesan semua, jadi tidak bisa menyesuaikan," ujarnya.
Untuk mengurangi ketergantungan pada momen peluncuran, Wenchang mengembangkan atraksi alternatif seperti museum antariksa, simulasi, dan pusat superkomputer data satelit. Zhao Shan, wakil direktur perencanaan Zona Wisata Budaya Superkomputer Antariksa Wenchang, mengatakan fasilitas ini menjadi "pengalaman pelengkap yang baik" bagi wisatawan yang tidak sempat menyaksikan peluncuran. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah atraksi ini mampu membuat pengunjung bermalam. Liang Qihang, pemilik Hotel Xingjian Seaview, mengamati pola lama: "Kalau tidak perlu menginap, kebanyakan orang langsung pergi. Mereka menonton lalu meninggalkan." Hilton Wenchang mencoba mengubah pola ini dengan menawarkan 120 kamar dengan pemandangan peluncuran dan berbagai aktivitas tambahan. Manajer umumnya, Peter Dai, mengklaim rata-rata masa tinggal tamu kini meningkat dari satu menjadi dua hingga tiga hari.
Bagi Indonesia, perkembangan Wenchang menawarkan pelajaran berharga. Negara ini tengah berupaya membangun industri antariksa, dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengelola program roket dan satelit. Keberhasilan Wenchang dalam mengintegrasikan pariwisata, manufaktur, dan data satelit bisa menjadi model bagi kawasan seperti Biak atau Morotai yang memiliki potensi geografis serupa. Namun, tantangan seperti kesenjangan upah—rata-rata 5.500 yuan per bulan di Hainan dibanding 8.300 yuan di Shenzhen—menjadi pengingat bahwa pembangunan ekosistem harus diimbangi dengan daya saing ekonomi.
Masa depan Wenchang bergantung pada kemampuannya menarik talenta dan investasi. Gregg Li menekankan pentingnya peran Hong Kong dan Singapura dalam menyediakan modal, asuransi, dan komersialisasi data satelit. Kerja sama awal sudah terjalin, seperti kolaborasi pusat superkomputer Wenchang dengan peneliti HKU dalam aplikasi AI dan penginderaan jauh. Namun, analis Curcio meragukan seberapa besar ekosistem manufaktur satelit dapat pindah dari Beijing dan Shanghai yang sudah mapan. "Tantangannya adalah membangun seluruh ekosistem itu," katanya. Chen Huanpeng, penggemar roket yang kini membuat model 3D, mengakui daya tarik kota besar bagi lulusan muda. Meski penghasilannya masih pas-pasan, ia memilih bertahan di Wenchang: "Karena kami punya passion di bidang antariksa, kami memilih berakar di sini." Pertanyaannya, akankah cukup banyak orang seperti Chen untuk mewujudkan ambisi Wenchang?



