Kebakaran Kampung Air di Sabah Tewaskan Tiga Bocah, Ratusan Rumah Ludes
Baca dalam 60 detik
- Tiga anak di bawah usia sepuluh tahun meninggal dalam kebakaran yang melahap sekitar 200 rumah semipermanen di permukiman air Kampung Lok Buta, Sabah.
- Petugas pemadam kesulitan memadamkan api karena sumber air utama berasal dari laut, memaksa mereka merobohkan empat rumah untuk membatasi perambatan.
- Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan permukiman padat di kawasan pesisir Asia Tenggara terhadap kebakaran dan minimnya akses keselamatan.

KOTA KINABALU — Teriakan histeris “kebakaran!” dan “lari!” memecah keheningan subuh di Kampung Lok Buta, sebuah permukiman air di dekat ibu kota Sabah, saat api dengan cepat melalap ratusan rumah panggung semipermanen. Tiga bocah, dua di antaranya kakak beradik dan satu sepupu mereka, ditemukan tewas di antara puing-puing yang hangus. Insiden yang terjadi pada Senin dini hari itu tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga mempertanyakan kesiapan infrastruktur keselamatan di kawasan padat hunian yang rentan terhadap bencana.
Korban jiwa diidentifikasi sebagai Nana Abdullah (4 tahun), Mohd Asrul Abdullah (6 tahun), dan Nurfarahdilah Mohd Tajihah (8 tahun). Ketiganya ditemukan dalam posisi berdekatan oleh tim penyelamat saat proses evakuasi dan pemeriksaan lokasi. Menurut keterangan warga, api menjalar begitu cepat sehingga banyak penghuni tidak sempat menyelamatkan barang berharga. Seorang warga yang selamat menggambarkan situasi kacau balau, di mana prioritas utama hanyalah menyelamatkan diri dari kepungan api dan panas yang menyengat.
Direktur Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sabah, Mohd Pisae Aziz, menyatakan bahwa laporan kebakaran diterima pada pukul 01.40 waktu setempat. Api dengan cepat membesar dan merambat ke rumah-rumah di sekitarnya, memaksa petugas untuk merobohkan empat bangunan guna mencegah meluasnya kebakaran. Kendala utama pemadaman adalah keterbatasan pasokan air; selain mengandalkan tangki mobil pemadam, petugas harus memanfaatkan air laut sebagai sumber utama. Upaya pemadaman baru berhasil dikendalikan pada pukul 06.26, setelah api menghanguskan sekitar 200 rumah kayu dan semipermanen.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan risiko kebakaran di permukiman padat, terutama di kawasan pesisir yang sering kali minim akses jalan dan sumber air bersih. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi di permukiman padat di Jakarta, Banjarmasin, atau Makassar, di mana rumah-rumah kayu yang berdekatan menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Kurangnya akses untuk kendaraan pemadam dan ketergantungan pada air laut atau sungai sering kali memperlambat proses pemadaman, seperti yang terlihat dalam kebakaran besar di kawasan permukiman padat di Indonesia beberapa tahun terakhir.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, namun dugaan awal mengarah pada korsleting listrik atau kelalaian penggunaan api, yang sering menjadi pemicu di permukiman padat. Pihak berwenang setempat juga akan mengevaluasi tata ruang dan langkah mitigasi untuk mencegah terulangnya tragedi serupa. Bagi warga yang selamat, trauma mendalam dan kehilangan tempat tinggal menjadi tantangan besar yang harus dihadapi. Sementara itu, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah ada jaminan keamanan yang lebih baik bagi komunitas yang tinggal di permukiman air seperti Kampung Lok Buta, atau akankah tragedi ini menjadi pengingat terakhir sebelum perbaikan sistemik dilakukan?



