Warung Kopi Hainan Berusia 106 Tahun di Penang Tutup: Kisah di Balik Cangkir Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Kong Thai Lai, kedai kopi Hainan legendaris di George Town, akan menutup operasionalnya pada 26 September karena pemilik gedung meminta kembali lahannya.
- Kedai yang berdiri sejak 1920 ini menjadi saksi bisnis para taipan seperti Tan Sri Loh Boon Siew dan Robert Kuok, dengan resep kopi dan kaya yang dijaga turun-temurun.
- Penutupan ini menandai punahnya generasi penerus, karena anak pemilik memilih berkarier di luar negeri, menyisakan pertanyaan tentang regenerasi usaha warisan di Asia Tenggara.

George Town, Penang โ Sebuah kedai kopi Hainan yang telah beroperasi selama lebih dari satu abad akan menuangkan cangkir terakhirnya bulan depan. Kong Thai Lai, yang berdiri sejak 1920, menjadi saksi bisnis para pengusaha terkemuka Malaysia dan akan resmi tutup pada 26 September, mengakhiri perjalanan keluarga yang telah melewati tiga generasi.
Keputusan penutupan ini diambil setelah pemilik gedung di Lebuh Dickens, lokasi kedai saat ini, meminta kembali lahannya. Selain itu, dua kakak beradik yang kini mengelola, Tan Jeng Seow (68) dan Tan Jeng Kiang (77), merasa usia mereka tidak lagi muda. "Sudah waktunya berhenti," ujar Jeng Seow, yang telah berkecimpung dalam bisnis ini selama 40 tahun. Anaknya yang berusia 28 tahun bekerja di luar negeri dan tidak berniat meneruskan usaha keluarga.
Kong Thai Lai bukan sekadar kedai kopi biasa. Didirikan oleh kakek Jeng Seow di Lorong Hutton, kedai ini sempat berpindah lokasi dua kaliโpertama ke Lebuh Leith pada 2016 setelah gedung lamanya dijual, lalu ke Lebuh Dickens pada 2022. Meski berpindah, sebagian sejarah tetap dipertahankan: tirai tua dengan alamat Lorong Hutton dan lemari asli dari kedai pertama masih menghiasi tempat tersebut.
Keunikan kedai ini terletak pada tradisi yang dijaga ketat: kopi Hainan disangrai dan diracik sendiri, serta kaya (selai kelapa) dibuat secara homemade. Resep ini pula yang menarik perhatian para taipan Malaysia. Almarhum Tan Sri Loh Boon Siew, raja otomotif Penang, dikabarkan hampir setiap hari duduk di meja marmer favoritnya untuk berbincang bisnis sambil menyeruput kopi. Ia bahkan pernah menawarkan RM10.000 untuk membeli meja tersebut, namun ditolak keluarga karena nilai sentimentalnya. Sementara itu, taipan Robert Kuok pernah membeli 8 kilogram bubuk kopi setelah menikmati secangkir di kedai ini.
Fenomena penutupan kedai kopi tua seperti Kong Thai Lai sebenarnya bukan hal baru di Asia Tenggara. Di Indonesia, banyak kedai kopi legendaris di kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan yang menghadapi tantangan serupa: regenerasi penerus, tekanan properti, dan perubahan selera konsumen. Menurut pengamat kuliner, kedai kopi historis sering menjadi korban gentrifikasi, di mana nilai tanah naik dan pemilik gedung lebih memilih bisnis yang lebih menguntungkan. Namun, ada juga yang berhasil bertahan dengan beradaptasi, seperti mengombinasikan menu tradisional dengan sentuhan modern.
Jeng Seow mengakui bahwa sebagian besar pelanggan saat ini adalah orang-orang lama, meski sesekali ada pengunjung baru yang datang karena penasaran dengan sejarah kedai. "Mereka ingin melihat barang-barang tua dan merasakan atmosfer di sini," katanya. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik kedai kopi tua tidak hanya pada rasa, tetapi juga pada narasi sejarah yang melekat.
Penutupan Kong Thai Lai meninggalkan pertanyaan besar: bagaimana nasib warisan kuliner serupa di kawasan ini? Apakah akan ada pihak yang tergerak untuk melestarikan kedai-kedai bersejarah, atau justru semakin banyak yang tutup karena tekanan ekonomi? Sementara itu, para pecinta kopi Hainan masih punya waktu beberapa minggu untuk menikmati secangkir terakhir di kedai yang telah menjadi saksi bisnis para raja industri Malaysia.



