Gelombang Boikot: Perusahaan Jepang Hengkang dari Rakuten karena Kerja Sama Drone Militer
Baca dalam 60 detik
- Restoran kafe Berg di Tokyo resmi menutup tokonya di Rakuten Ichiba, memicu aksi serupa dari sejumlah perusahaan Jepang.
- Kerja sama Rakuten dengan Helsing, pengembang AI pertahanan Jerman, dinilai bertentangan dengan nilai anti-perang sebagian pelaku usaha.
- Boikot ini berpotensi mempengaruhi citra Rakuten di mata konsumen dan membuka diskusi etika bisnis di era teknologi militer.

Keputusan Rakuten Group untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan rintisan drone asal Jerman, Helsing, memicu gelombang protes dari para mitra dagangnya di Jepang. Setidaknya tiga perusahaan telah menarik produk mereka dari platform e-commerce Rakuten Ichiba dalam sepekan terakhir, dengan alasan ketidakcocokan nilai dan penolakan terhadap keterlibatan dalam industri militer.
Berg, sebuah kafe-bar di distrik Shinjuku, Tokyo, menjadi yang terbaru mengumumkan pengunduran diri melalui akun X (sebelumnya Twitter) pada Kamis lalu. Manajemen Berg menegaskan bahwa kerja sama tersebut "tidak sejalan dengan sikap anti-perang" yang selama ini dijunjung. Padahal, Berg dikenal sebagai tempat nongkrong populer yang menyajikan kopi, bir, dan makanan ringan, dan kini memilih untuk fokus berjualan melalui toko daring miliknya sendiri.
Langkah serupa diambil oleh QuatroGats, produsen dan pengecer barang kulit asal Prefektur Osaka. Perusahaan ini menyatakan bahwa kemitraan Rakuten-Helsing bertentangan dengan filosofi perusahaan, terutama karena mereka memproduksi dompet dengan desain bertema perdamaian dan penghapusan senjata nuklir. Sebelumnya, pada pekan lalu, penerbit katalog belanja Cataloghouse Ltd. juga telah menutup toko resmi Tsuhan Seikatsu di Rakuten.
Kerja sama yang menjadi pemicu ini pertama kali dilaporkan oleh sumber yang mengetahui masalah tersebut. Rakuten disebut akan membantu Helsing memasok drone pencegat ke Kementerian Pertahanan Jepang. Helsing, yang didirikan pada 2021, mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan untuk mengoperasikan drone secara otonom. Drone buatan Helsing diklaim mampu menembak jatuh rudal, dan telah digunakan secara luas dalam konflik modern, termasuk perang Rusia-Ukraina.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama di tengah meningkatnya keterlibatan sektor swasta dalam industri pertahanan. Di satu sisi, kerja sama semacam ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat keamanan nasional, terutama di kawasan Asia Timur yang rawan ketegangan. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran etis di kalangan pelaku bisnis yang tidak ingin dikaitkan dengan produksi senjata.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya tata kelola etika dalam ekosistem bisnis digital. Di tengah maraknya platform e-commerce yang menjadi tulang punggung UMKM, keputusan untuk menarik diri dari platform besar dapat menjadi sinyal kuat bagi perusahaan lain untuk lebih selektif dalam memilih mitra bisnis. Hal ini juga menggarisbawahi bahwa konsumen semakin peduli pada nilai-nilai yang diusung oleh perusahaan, tidak hanya sekadar harga dan kenyamanan.
Meskipun jumlah perusahaan yang hengkang masih relatif kecil, aksi ini berpotensi memicu efek domino. Jika semakin banyak pelaku usaha yang mengikuti jejak Berg dan QuatroGats, Rakuten mungkin perlu mempertimbangkan ulang strategi kemitraannya. Pertanyaannya, apakah keuntungan finansial dari kontrak pertahanan sebanding dengan risiko kehilangan kepercayaan dari mitra dagang dan konsumen yang sensitif terhadap isu perang?



