Hiu Elang Purba: Fosil 93 Juta Tahun yang Mengguncang Teori Evolusi Laut
Baca dalam 60 detik
- Fosil hiu purba berusia 93 juta tahun dengan sirip dada super lebar ditemukan di Meksiko, memicu perdebatan klasifikasi ilmiah.
- Spesies Aquilolamna milarcae memadukan ciri pari manta dan hiu, menantang asumsi evolusi konvergen pada vertebrata laut.
- Temuan ini membuka peluang riset paleontologi baru yang dapat mengubah pemahaman tentang ekosistem laut purba dan adaptasinya.

Fosil yang ditemukan di sebuah tambang batu kapur di Vallecillo, Meksiko, berhasil memecahkan kebuntuan para ilmuwan selama hampir satu dekade. Spesies yang kemudian dinamai Aquilolamna milarcae ini memiliki bentuk tubuh yang tidak lazim: kepala lebar dan sirip dada menjulang seperti pari manta, namun ekornya khas hiu. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science pada 2021 ini tidak hanya menambah daftar keanekaragaman hayati purba, tetapi juga memaksa para ahli meninjau ulang narasi evolusi ikan bertulang rawan.
Fosil tersebut diperkirakan hidup pada pertengahan periode Kapur, sekitar 93 juta tahun lalu, jauh sebelum Tyrannosaurus rex menguasai daratan. Pada masa itu, permukaan air laut global jauh lebih tinggi, dan Amerika Utara terbelah oleh jalur laut yang luas. Vallecillo, yang kini gersang, dahulu merupakan dasar laut yang tenang dengan sedimen halus—kondisi ideal untuk mengawetkan jasad hewan laut. Pekerja tambang menemukan fosil ini pada 2012, kemudian tim paleontologi dari Universitas Rennes dan CNRS Prancis melakukan penggalian dan penelitian mendalam.
Yang membuat Aquilolamna milarcae istimewa adalah proporsi tubuhnya yang aneh: rentang sirip dada mencapai 1,9 meter, sementara panjang tubuhnya hanya 1,6 meter. Artinya, hewan ini lebih lebar daripada panjang. Sirip ekornya, berdasarkan struktur tulang belakang, jelas berasal dari ordo Lamniformes—kelompok yang mencakup hiu putih besar dan hiu mako. Namun, kepala dan mulutnya yang lebar mengingatkan pada pari manta, hewan pemakan plankton. Kombinasi ini belum pernah terlihat pada spesies hiu mana pun, baik yang hidup maupun yang sudah punah.
Para peneliti menduga Aquilolamna milarcae berenang dengan mengandalkan sirip ekor, sementara sirip dadanya yang kaku berfungsi seperti sayap pesawat layang untuk menjaga kestabilan, bukan untuk mendorong tubuh seperti pari manta. Pola gerak ini unik dan menunjukkan bahwa evolusi sirip lebar untuk meluncur di air mungkin terjadi lebih dari satu kali secara terpisah dalam sejarah kehidupan laut. “Ini adalah contoh luar biasa dari evolusi konvergen, di mana dua kelompok hewan yang berbeda mengembangkan solusi serupa untuk tantangan yang sama,” ujar seorang paleontolog yang tidak terlibat dalam penelitian, seperti dikutip dari rilis pers.
Salah satu tantangan terbesar dalam mengklasifikasikan spesies ini adalah tidak adanya gigi pada fosil. Gigi biasanya menjadi kunci untuk menentukan hubungan kekerabatan dan pola makan hiu. Tanpa gigi, para ilmuwan hanya bisa menduga bahwa Aquilolamna milarcae memiliki gigi kecil seperti hiu paus dan hiu tutul, yang juga pemakan plankton. Dugaan ini diperkuat oleh bentuk kepala dan mulutnya yang lebar, khas hewan penyaring makanan. Namun, ketiadaan sirip punggung dan sirip perut pada fosil juga menimbulkan tanda tanya: apakah hewan ini memang tidak memiliki sirip tersebut, atau hanya tidak terawetkan?
- Usia fosil: ±93 juta tahun (periode Kapur)
- Rentang sirip dada: 1,9 meter; panjang tubuh: 1,6 meter
- Klasifikasi: ordo Lamniformes, famili Aquilolamnidae
- Habitat: laut dalam, dekat dasar dengan sedikit arus
Kepunahan Aquilolamna milarcae diduga terjadi bersamaan dengan peristiwa kepunahan massal akhir Kapur, saat asteroid menghantam Bumi dan menyebabkan pengasaman laut yang memusnahkan plankton—sumber makanan utama hewan ini. Namun, hipotesis ini masih membutuhkan bukti fosil tambahan. Vallecillo sendiri dikenal sebagai situs fosil yang kaya, termasuk amonit dan reptil laut, sehingga para peneliti optimis penggalian lanjutan akan menemukan spesimen lain, mungkin dengan gigi yang utuh.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki resonansi tersendiri. Negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, termasuk hiu dan pari, menjadi laboratorium alami untuk memahami evolusi spesies laut. Penelitian seperti ini dapat mendorong kolaborasi antara ilmuwan Indonesia dan internasional dalam eksplorasi fosil laut, sekaligus mengingatkan pentingnya konservasi ekosistem laut yang masih lestari. Apakah akan ada spesies serupa yang ditemukan di perairan Nusantara? Jawabannya mungkin tersembunyi di dasar laut yang belum terjamah.



