Menembus Rimba Meratus: Energi Surya untuk Desa Tertinggi di Kalsel
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti dan aktivis menempuh 18,59 kilometer medan ekstrem untuk memasang panel surya di Desa Juhu, permukiman tertinggi di Kalimantan Selatan.
- Perjalanan yang memakan dua hari ini menguak tantangan akses energi bersih bagi Masyarakat Adat Meratus yang terisolasi di tengah tekanan konsesi tambang.
- Kehadiran instalasi surya diharapkan menjadi titik awal kemandirian energi, sekaligus simbol resistensi terhadap ekspansi industri ekstraktif di Pegunungan Meratus.

Di tengah hiruk-pikuk transisi energi nasional yang kerap berpusat di Pulau Jawa, sekelompok peneliti dan aktivis justru memilih menapaki jalur tergilas di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Mereka membawa misi sederhana namun sarat makna: menghadirkan listrik tenaga surya bagi Desa Juhu, permukiman tertinggi di provinsi tersebut, yang selama ini hidup tanpa sentuhan jaringan listrik PLN.
Ekspedisi yang berlangsung akhir Juli 2026 itu melibatkan Andi Rosita Dewi dari Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), akademisi Ayyub Muhajid bersama mahasiswanya Yuansen Tio dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat, serta jurnalis Mongabay. Mereka harus berjalan kaki sejauh 18,59 kilometer dengan total tanjakan 1.343 meter dan turunan 1.711 meter—medan yang oleh warga setempat biasa ditempuh dalam 18 jam, sementara tim membutuhkan dua hari penuh.
Perjalanan dimulai dari Desa Hinas Kiri, titik terakhir yang bisa dijangkau kendaraan bermotor. Selepas itu, hanya kaki dan tekad yang berbicara. Jembatan gantung yang rapuh, bebatuan licin, sungai deras, hingga lembah curam menjadi pemandangan sehari-hari. Di bawah kanopi hutan yang lebat, tim dipandu oleh Pinan, tetua adat Dayak Meratus berusia 64 tahun yang dikenal vokal menolak ekspansi tambang dan rencana penetapan taman nasional seluas 119.779 hektare di wilayah adat.
Bagi warga Juhu, energi surya bukan sekadar lampu penerang. Ini tentang keadilan energi di tengah ketimpangan infrastruktur yang masih menganga. Menurut data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, hanya sekitar 49 persen daratan Kalimantan Selatan yang tersisa sebagai kawasan berhutan, dan Pegunungan Meratus menjadi benteng terakhir yang bertahan di antara konsesi pertambangan yang mengelilinginya.
Sepanjang perjalanan, tim tidak hanya bergulat dengan fisik, tetapi juga dengan kekayaan tradisi yang hidup di tengah masyarakat adat. Di Pondok Kagaringan, sebuah bangunan kayu sederhana berukuran 5x4 meter, mereka bermalam tanpa sinyal telepon seluler. Malam itu, Iba Ariansyah, warga Juhu, menuturkan kisah Kuyuk dan Menjangan—seekor anjing yang konon pernah menjadi tumenggung dan memiliki tanduk, lalu ditipu oleh rusa yang meminjam tanduknya dan tak pernah mengembalikannya. Kisah ini menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kepercayaan dan warisan leluhur, sesuatu yang kerap tergerus oleh modernisasi.
Perjalanan juga meninggalkan duka. Di dekat Puncak Kilai, Paman Jina, salah satu porter, menceritakan peristiwa 2021 ketika Sarbini, anggota Wanadri, meninggal dunia di tengah perjalanan menuju upacara Aruh. Jenazahnya terpaksa diinapkan semalam di hutan karena medan yang terlalu berat untuk dievakuasi. Keesokan harinya, sekitar 25 orang dan tim SAR bahu-membahu membawa jenazah turun dari ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut. Kisah ini menjadi pengingat kerasnya hidup di pelosok yang jauh dari jangkauan layanan darurat.
Sesampainya di Puncak Kilai, tim menjalani ritual Tanah Diagih—sebuah upacara meminta izin kepada leluhur bagi pendatang baru. Rubi, Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel yang juga warga Juhu, menjelaskan bahwa tanah dalam ritual ini dimaknai sebagai penghubung antara manusia dan langit, seperti tangga yang menghubungkan dua dunia. Tanda tanah di kening menjadi simbol bahwa tamu diterima sebagai bagian dari saudara, bukan sekadar pengunjung.
Setelah menempuh dua hari satu malam, Desa Juhu akhirnya tampak. Rumah-rumah kayu berdiri kokoh di antara padang rumput hijau yang rapi, kerbau rawa berkeliaran, dan udara terasa segar. Namun, pemandangan indah itu tak menutupi kenyataan pahit: warga masih bergantung pada energi tradisional, sementara kekayaan alam di sekitar mereka terus diincar industri ekstraktif. Pemasangan panel surya 200 watt yang dibawa tim mungkin tampak kecil, tetapi dampaknya bisa menjadi pemicu perubahan besar bagi kemandirian energi komunitas adat.
Kehadiran energi surya di Desa Juhu membuka pertanyaan lebih luas: akankah transisi energi di Indonesia benar-benar inklusif, atau justru meninggalkan masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga hutan? Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur, ekspedisi ini menjadi pengingat bahwa akses energi bersih masih menjadi mimpi bagi sebagian anak bangsa, dan perjuangan untuk mewujudkannya membutuhkan lebih dari sekadar teknologi—ia menuntut penghormatan terhadap kearifan lokal dan keadilan ekologis.



