Bencana Musim Hujan Filipina Tewaskan 32 Orang: Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Empat siklon tropis dalam sebulan memicu banjir dan tanah longsor di Filipina, menewaskan 32 orang dan mempengaruhi 8 juta jiwa.
- Benguet mencatat korban terbanyak akibat longsor, menyoroti kerentanan daerah pegunungan terhadap cuaca ekstrem.
- Kejadian ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi bencana hidrometeorologi.

Banjir dan tanah longsor yang dipicu hujan muson yang diperparah empat gangguan cuaca sepanjang Agustus telah merenggut lebih dari 30 nyawa di Filipina, sebagian besar di Pulau Luzon. Angka ini menjadi sorotan betapa dahsyatnya dampak perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menjadi alarm bagi negara tetangga, termasuk Indonesia.
Badan Pertahanan Sipil (OCD) Filipina, pada 29 Agustus, mencatat korban tewas mencapai 32 orang, terhitung sejak badai Luis menerjang pada 3 Agustus. Siklon tropis terbaru, Topan Obet atau dikenal juga sebagai Saudel, merupakan siklon ke-15 yang memasuki wilayah Filipina tahun ini. Sebagai perbandingan, pada Agustus 2025, negara itu baru mengalami siklon kesembilan, Isang. Lonjakan frekuensi ini mengindikasikan pola cuaca yang semakin tidak menentu.
Dampaknya tidak main-main. Sekitar 8 juta orang atau 2,3 juta keluarga di 10 wilayah terdampak. Benguet mencatat korban jiwa tertinggi, 15 orang, semuanya akibat tanah longsor. Dari jumlah itu, sepuluh terjadi di Kota Baguio, tiga di Atok, dan dua di La Trinidad. Sementara itu, di provinsi Rizal, empat orang tewas, dua di antaranya tertimpa longsoran batu di Rodriguez, satu tertimpa pohon di Antipolo, dan satu tenggelam di Binangonan. Batangas juga kehilangan empat warga: satu tenggelam di Batangas City, satu di Mabini, satu tersengat listrik di Lipa, dan satu tertimbun longsor di Santa Teresita. Korban lain tersebar di La Union, Quezon, Oriental Mindoro, Occidental Mindoro, Negros Occidental, dan Caloocan City.
Selain korban jiwa, 19 orang dilaporkan luka-luka, 12 di antaranya di Benguet. Tiga orang masih hilang, masing-masing di Quezon City, Manila, dan Batangas City. Sekitar 25.800 orang dari 7.500 keluarga mengungsi di 297 pusat evakuasi. OCD juga mencatat 2.900 rumah rusak, 349 di antaranya rusak total.
Bagi Indonesia, bencana ini adalah cermin. Dengan topografi serupa โ pegunungan, kepulauan, dan populasi padat โ risiko hidrometeorologi seperti longsor dan banjir bandang selalu mengintai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina dan perubahan iklim. Namun, kesiapsiagaan di tingkat lokal sering kali menjadi titik lemah. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa tanah longsor adalah salah satu bencana paling mematikan di Indonesia, dengan korban jiwa yang tidak sedikit setiap tahunnya.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Santoso, yang dihubungi LyndHub, โFilipina dan Indonesia sama-sama berada di jalur siklon tropis, meskipun intensitasnya berbeda. Yang bisa dipetik adalah pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi dan edukasi masyarakat untuk evakuasi mandiri.โ Ia menambahkan bahwa investasi dalam infrastruktur tahan bencana, seperti talud dan drainase yang baik, sangat krusial, terutama di daerah perbukitan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah bencana serupa akan terjadi, tetapi seberapa siap kita menghadapinya. Apakah Indonesia akan belajar dari pengalaman Filipina dan memperkuat mitigasi struktural dan non-struktural? Atau akankah kita terus terjebak dalam siklus reaktif, menangis setelah bencana datang? Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan yang lebih progresif dalam pengurangan risiko bencana.



