Olivia Rodrigo Kumpulkan Rp 320 Miliar untuk Hak Perempuan: Konser Amal yang Menyatukan Generasi
Baca dalam 60 detik
- Konser Daisy Chain Fields di Irvine, California, meraup donasi US$ 20 juta untuk isu kesehatan dan hak perempuan, dengan dukungan dari Melinda French Gates.
- Festival ini menjadi jembatan antara musisi muda dan organisasi nirlaba, mengatasi kesenjangan donasi Generasi Z yang cenderung memilih cara informal.
- Keberhasilan acara ini menegaskan potensi konser amal sebagai alat mobilisasi sosial, sekaligus memberi contoh bagi inisiatif serupa di Indonesia.

Sebuah festival musik yang digagas Olivia Rodrigo berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 20 juta atau sekitar Rp 320 miliar untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Acara bertajuk Daisy Chain Fields yang digelar di Irvine, California, pada Sabtu (29/8) ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menjadi ajang solidaritas lintas generasi di tengah meningkatnya ancaman terhadap hak reproduksi di Amerika Serikat.
Daisy Chain Fields menampilkan deretan musisi perempuan, termasuk bintang pop queer Chappell Roan, rapper pendatang baru Doechii, dan pionir riot grrrl Bikini Kill. Sebelum acara dimulai, Rodrigo mengumumkan bahwa donasi awal telah mencapai US$ 10 juta yang akan disalurkan ke sepuluh organisasi nirlaba, seperti Planned Parenthood, National Women's Law Center, dan Black Mamas Matter Alliance. Jumlah tersebut kemudian berlipat ganda setelah filantropis Melinda French Gates secara mengejutkan hadir dan menjanjikan tambahan US$ 10 juta melalui perusahaannya, Pivotal Ventures.
Langkah Rodrigo ini bukan sekadar aksi amal biasa. Ia mencoba menjembatani kesenjangan antara Generasi Z dan organisasi nirlaba yang selama ini kesulitan menjangkau donatur muda. Generasi ini cenderung lebih suka memberikan donasi melalui cara informal dan menginginkan keterlibatan yang lebih personal. Melalui konser ini, Rodrigo menawarkan pendekatan baru: penggemar tidak hanya menyumbang, tetapi juga diajak belajar tentang isu-isu yang diperjuangkan melalui 'philanthropy village', di mana mereka bisa berinteraksi langsung dengan perwakilan organisasi dan mengikuti instalasi seni yang menggugah.
Konser amal bertabur bintang memang terbukti efektif menggalang dana untuk berbagai isu, mulai dari bantuan pengungsi hingga respons pandemi. Namun, sudah puluhan tahun sejak seorang musisi muda dengan pengaruh sebesar Rodrigo berhasil menyatukan rekan-rekannya untuk isu keadilan gender. Hal ini menjadi relevan di tengah upaya pemerintahan Presiden Donald Trump yang mencoba mengubah skema hibah keluarga berencana, yang sempat menunda pencairan dana sebesar US$ 27,5 juta untuk klinik kesehatan reproduksi tahun lalu.
Bagi pengunjung seperti Grace Slevin, 24, yang aktif dalam advokasi anti perdagangan seks, festival ini mewujudkan sentimen 'menjadi sosok yang Anda butuhkan saat muda'. Ia mengapresiasi bahwa pengunjung tidak hanya diajak menyumbang, tetapi juga belajar tentang pekerjaan organisasi yang didukung. Hal senada diungkapkan Melissa Shaw, 33, yang datang dari Tucson, Arizona, bersama putrinya yang berusia delapan tahun. Ia sengaja ingin memperkenalkan putrinya pada selebritas yang memberikan teladan positif, dan menganggap line-up yang ditampilkan dirancang untuk menarik berbagai generasi.
Para mitra nirlaba menyambut antusias kesempatan ini. Sonya Passi, pendiri FreeFrom, menyatakan bahwa di tengah situasi di mana keputusan tentang tubuh dan masa depan sering kali diambil tanpa melibatkan perempuan, hari yang dibangun di sekitar kepedulian dan komunitas adalah sebuah pernyataan tersendiri. Ai-jen Poo, presiden National Domestic Workers Alliance, menekankan pentingnya koneksi antargenerasi untuk menciptakan perubahan. Sementara itu, Caren Spruch dari Planned Parenthood menggarisbawahi bahwa pendekatan Rodrigo yang terbuka dan tanpa stigma membantu menormalkan isu kesehatan reproduksi.
Keberhasilan Daisy Chain Fields memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana musik dapat menjadi katalis perubahan sosial. Di Indonesia, di mana isu kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi juga masih menjadi perdebatan, model konser amal seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi musisi dan aktivis untuk menggalang dukungan publik. Pertanyaannya, akankah ada musisi Indonesia yang berani mengambil peran serupa dan memanfaatkan pengaruhnya untuk isu-isu yang sering dianggap tabu?



